oleh

Pariwisata di Kota Marmer Dipastikan Tak dapat Dana Hibah Kemenparekraf

Tulungagung, (afederasi.com) – Sektor pariwisata di Kabupaten Tulungagung dipastikan tidak akan mendapatkan bantuan dana hibah dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI), dalam rangka pemulihan ekonomi nasional tahun anggaran 2020. Kendati, sejumlah sektor pariwisata di Kota Marmer juga terdampak pandemi Covid-19.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Pariwisata, Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung, Aris Wahyudiono mengatakan sesuai surat keputusan dari Kemenparekraf RI Nomor KM/694/PL.07.02/M-K/2020 tentang petunjuk teknis hibah pariwisata ada 85 kabupaten/kota di Indonesia yang mendapatkan.

“Dana hibah ini sasaran utamanya di sektor hotel dan restoran,” ungkap Aris, ketika dikonfirmasi afederasi.com, diruang kerjanya Senin (19/10/2020).

Aris menjelaskan untuk Provinsi Jawa Timur sendiri ada lima kabupaten/kota yang menerima dana hibah tersebut, diantaranya Kota Surabaya, Kabupaten/Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Bayuwangi.

Ini dikarenakan kabupaten dan kota- kota itu sudah mempunyai pariwisata yang go nasional. Seperti halnya Kawah Ijen yang ada di Bayuwangi. “Untuk Tulungagung sendiri tidak masuk dalam daftar penerima dana tersebut,” jelasnya.

Baca Juga  Lombok Dipersiapkan Jadi Destinasi Pariwisata Super Prioritas

Lebih lanjut Aris memaparkan ada kriteria umum dan khusus untuk mendapatkan dana hibah dari Kemenparekraf. Seperti daerah kabupaten/kota harus memiliki 15 persen pendapatan asli daerah (PAD) yang berasal dari penerimaan pajak hotel dan pajak restoran (PHPR), termasuk dalam sepuluh destinasi pariwisata prioritas (DPP) dan termasuk dalam lima destinasi super prioritas (DSP).

“Untuk PAD dari sektor hotel dan restoran di Tulungagung kurang dari 15 persen penyumbang PAD, serta belum memenuhi kriteria tersebut, masih merintis untuk menuju kesitu. Mau mengajukan juga belum bisa,” ujarnya.

Aris menyatakan saat ini proses pembangunan infrastruktur menuju ke lokasi wisata masih dalam pengerjaan. Sebab, untuk menjadi destinasi pariwisata prioritas (DPP) diperlukan adanya dukungan akses infrastruktur jalan.

“Hingga kini proses pengerjaan jalur selingkar wilis yang melewati Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Madiun, Trenggalek, dan Ponorogo belum selesai. Selain itu juga jalur lintas selatan (JLS) belum juga terhubung,” jelasnya.

Aris berharap pembangunan jalur selingkar wilis bisa dapat segera selesai serta JLS juga segera terhubung antara Tulungagung – Trenggalek maupun Tulungagung – Blitar. Hal ini dapat meningkatkan sektor perekonomian di seputar pantai selatan. Selain menjual potensi alamnya, Tulungagung juga memiliki budaya reog kendang yang dulu tampil di Istana Jakarta.

Baca Juga  Warga Pucangan Lestarikan Tradisi Budaya Tiban

“Sebenarnya Tulungagung sudah memunyai daya tarik wisata alam dan budaya yang sangat banyak. Ketika akses jalan sudah lancar diharapkan para wisatawan akan dengan mudah mengunjungi lokasi wisata di Kota Marmer,” imbuhnya. (er/dn)

News Feed