Selasa, 14 Desember 2021, 06:29 WIB

Melalui Pameran Arsip, Kenalkan Sejarah dan Peninggalan Lokal Bagi Kaum Milenial

Tulungagung, (afederasi.com) – Salah satu komunitas yang bergerak dalam bidang kesenian, menggelar pameran Arsip di Rumah bekas peninggalan Belanda di wilayah Pabrik Kunir masuk Desa Kaliwingu Kecamatan Ngunut, pada 3-13 Desember 2021.

Pameran tersebut bertujuan agar kaum muda mudi bisa lebih mengetahui tentang peninggalan sejarah dan budaya yang ada di Kabupaten Tulungagung.

Panitia sekaligus Anggota Gulung Tukar, Diah Rizki Fitriani menjelaskan, pameran arsip yang dilakukan oleh Komunitas Gulung Tukar, bertujuan agar kaum muda mudi lebih memahami dan mengerti, tentang peninggalan sejarah dan kebudayaan yang ada di Kabupaten Tulungagung.

“Memang muda mudi sekarang, cenderung pasif dalam mengetahui sejarah peninggalan lokal,” jelas Diah, Senin (13/12/2021).

Diah melanjutkan, pameran yang ditampilkan tergolong baru, lantaran pameran kearsipan belum pernah ditampilkan di kota lain.

“Diwilayah lain seperti Kediri, Jogyakarta, cenderung ke pameran Seni rupa,” ungkapnya

Pameran yang ditampilkan berupa projek kolaborasi arsip yang meneliti tentang Tulungagung mulai dari sejarah, dan kebudayaan. Seperti lakon kentrung Mbah Gimah, tetek melek, dan sejarah ilustrasi tentang Tulungagung.

“Jadi komunitas Gulung Tukar mencari data dilapangan terkait data kearsipan tersebut kemudian dipamerkan,” paparnya.

Diah mengungkapkan, ada salah satu pameran yang tidak dimiliki oleh Disbudpar dan hanya dimiliki oleh Gulung Tukar yakni tetek melek dan Kentrung mbah Gimah.

“Budaya tersebut belum dilakukan pengarsipan oleh masyarakat dan lembaga kebudayaan, dan Gulung Tukar sudah memiliki data terlebih dahulu,” ujarnya.

Sempat disinggung, apakah ada kerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) dalam pameran kearsipan, Diah mengaku, dulu para komunitas di Tulungagung pernah dikumpulkan oleh pihak Disbudpar untuk menggabungkan komunitas tersebut menjadi satu jalan dan akan dibuatkan grup khusus, namun nyatanya belum juga terealisasi.

“Usai pertemuan dengan berbagai komunitas dan akan dibuatkan grup khusus, sampai saat ini belum ada tindak lanjut,” katanya.

Diah menambahkan, pihak Disbudpar masih belum begitu memahami secara detail terkait komunitas yang mengangkat dan membantu mengarsipkan budaya Kabupaten Tulungagung, namun pihak Disbudpar selaku pemilik wewenang selalu memudahkan apabila suatu komunitas akan mengadakan pameran.

“Jadi sejauh ini Disbudpar membantu tentang kemudahan perizinan, akan tetapi untuk bantuan berupa finansial ataupun logistik masih belum,” ungkapnya.

Diah menjelaskan pameran arsip ini akan terus dilakukan kedepannya, dengan cara pihak Gulung Tukar terus melakukan riset terhadap suatu hal yang berkaitan dengan Tulungagung.

Lalu, pameran ini merupakan titik awal yang nantinya tidak hanya ditampilkan pada saat acara pameran saja, namun juga ditampilkan  pada media lain seperti website atau dapat langsung datang ke sekretariat Gulung Tukar, agar bisa diakses oleh semua orang.

“Harapan kedepannya, budaya lokal Tulungagung dan kearsipannya tidak diklaim oleh pihak lain,” pungkasnya.(riz/dn)