oleh

Kawasan Lingsar Kembangkan Integrated Farming System Tourism

Lombok Barat, (afederasi.com) – Kecamatan Lingsar merupakan daerah yang sangat potensial di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Sehingga pengembangan di bidang wisata agro sangat tepat. Untuk itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Aiq Engger Desa Lingsar melihat peluang ini untuk mengembangkan Integrated Farming System Tourism atau sistem pertanian terpadu sebagai Agrowisata.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMPD Dukcapil) Provinsi NTB, H. Ashari mendukung penuh pembangunan Integrated Farming System Tourism yang dikembangkan Desa Wisata (Dewi) Lingsar. Hal tersebut dikatakannya saat menjadi narasumber mewakili Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, pada kegiatan Sosialisasi Program CHSE Destinasi Wisata Desa Lingsar dan Sosialisasi Zero Waste – Pilah Sampah dari Rumah bagi masyarakat se Kecamatan Lingsar, Jum’at (11/9/2020) di area parkir Destinasi Wisata Desa Lingsar Lombok Barat.

Menurutnya, program unggulan Desa Wisata yang digagas Pemprov NTB, memang harus mengintegrasikan berbagai program unggulan untuk mendukung program yang lain dengan berbasis desa. “Sistem pertanian Terpadu yang dibangun Pokdarwis sangat bagus untuk kita integrasikan dengan program NTB Zero Waste, Bank Sampah, Posyandu Keluarga, Desa Tangguh Bencana, Desa Siaga, Kampus Unggas dan program lainnya,” kata Ashari, didampingi Kadis LHK Provinsi NTB Madani Mukarom.

Program ini akan didukung dan diselaraskan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi program itu. Misalnya jelas Ashari, Sistem Pertanian Terpadu akan diintervensi oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan. Begitu juga untuk perikanan dan peternakan, akan di dukung juga oleh Dinas terkait. Termasuk DLHK maupun Dinas Pariwisata untuk Agrowisatanya.

Baca Juga  NTB Maksimalkan Pelayanan Publik Dalam Satu Genggaman

Tidak dapat pungkiri kata Ashari, bahwa wilayah Kecamatan Lingsar menyimpan Wisata yang lebih menonjol di  Perkebunan atau Pertanian.  Buah yang melimpah disaat panen menjadikan lingsar tujuan alternatif para wisatawan yang ingin menikmati berbagai macam buah yang terdapat di beberapa Desa, seperti  Buah Manggis, Durian dan Rambutan, bahkan saat panen tiba para petani mampu mengekspor ke Luar negeri. “Ini potensi yang kita kembangkan, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan PAD desanya,” tutup Kadis.

Sementara itu, saat ditemui terpisah, Kepala Desa (Kades) Lingsar, Juhaini yang sudah menjabat setahun sebagai PLT ini, mengatakan dari awal Pemerintah Desa Lingsar telah secara bersama dengan Pokdarwis untuk membangun destinasi wisata berbasis lingkungan ini. Karena menurutnya potensi Kecamatan Lingsar juga merupakan daerah yang sangat potensial di bidang agrowisata dengan kawasan pertanian dan perkebunan yang cukup luas 53 persen dari luas tanah Kec. Lingsar.

Sehingga menurutnya, desa Lingsar yang telah ditetapkan dalam 99 Desa Wisata oleh Pemprov NTB harus mampu mengembangkan potensi lokal yang ada didesa. Selain pertanian dan perkebunan, potensi sumber air yang berlimpah desa Lingsar juga terkenal dengan perikanan.

Kades juga memberikan dukungan penuh dengan anggaran desa juga dianggarkan dalam APBDes, untuk mendukung sepenuhnya program Integrated Farming System yang dipelopori remaja dan anak muda desa Lingsar.  Selain itu kata Juhaini, selain Agrowisata, desa Lingsar memiliki destinasi budaya Pure Lingsar. Tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh wisata domestik maupun regional.

Baca Juga  Gubernur NTB: TVRI Mampu Bangun Optimisme Warga di Masa Pandemi

“Karena Covid-19 melanda NTB, di tempat wisata yang ada diLingsar kami terapkan konsep standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability) untuk memutus matarantai Corona Virus ini,” tegasnya.

Ia juga mengatakan, Pemerintah Desa dengan 8 dusun yang ada di desa Lingsar dan 15 desa di Kecamatan Lingsar, bersama dengan lembaga desa dan elemen lainnya, terus mengkampanyekan agar masyarakat menaati protocol Covid-19, dengan menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan. Termasuk juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan, dengan memanfaatkan sampah, memilah sampah yang organic dan non organic sebelum dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Aiq Engger desa Lingsar Lalu Gunawan menceritakan ide awal pembanguna wisata pertanian terpadu (Integrated Farming System Tourism) karena melihat potensi lokal didesanya. Bersama 30 anggota Pokdarwis dengan dukungan Pemerintah Desa dan masyarakat mulai membangun sistim ini awal tahun 2019 yang lalu.

Menurutnya, diatas lahan seluah 40 Are, milik Pemda Lombok Barat yang dikelola Pemerintah Desa Lingsar,  Kita membuat lahan produksi sistem pertanian terpadu ( Integrated Framing) “Lahan ini sebagai central dan pilot project nya,” kata Miq Gun panggilan akrabnya

Baca Juga  Ambil Hikmah Covid-19 dan Bangkit Dari Keterpurukan

Sistem pertanian terpadu ini, perkembangan dilapangan sudah mencapai 60 persen dibangun. Saat ini sedang dilakukan penataan dan pemeliharaan lahan dengan pembagian area untuk jenis tanaman. Sebagai langkah awal jelasnya,  udah ditanami tumbuhan herbal seperti jahe merah, jahe putih, kunyit, temu lawak dan tanaman herbal lain. Kedepan tumbuhan seperti akan dikembangkan dan diproduksi sebagai obat herbal dan minuman yang memiliki khas Lingsar.

Begitu juga dalam penataan pengelompokan kolam ikan juga sedang ditata sesuai dengan jenis ikan. Misalnya kolam untuk kolam ait tawar ikan lele, kolam untuk ikan nila dan produk perikanan unggulannya, sedang dikembangkan bibit ikan nila variatas unggul. Secara bertahap kata Miq Gun, disektor peternakanpun sedang dibangun kendang ungags yaitu bebek dan ayam. Disamping pertanian, perikanan dan peternakan, potensi unggulan lokal Lingsar yang terkenal dengan penghasil buah, telah ditanami pohon buah seperti rambutan, durian dan manggis.

Ditambahnya, bahwa system pertanian terpadu ini bukan hanya di kawasan center tersebut, tapi akan dilakukan secara terencana dan berkelanjutan diarea pertanian milik petani dan masyarakat setempat. Sehingga system ini memberikan dampak yang bernilai ekonomi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat desa Lingsar dan Kecamatan Lingsar.

Manfaat lain juga dibangunnya system ini, sebagi wisata edukasi. Masyarakat dapat melihat langsung proses pembibitan dan panen. “Termasuk kedepan proses produksi, pengemasan sampai dengan penjualan akan dibangun dikawasan ini,” tutup alumni Akademi Pariwisata NTB ini. (zan/am)

News Feed