oleh

Larung Sembonyo Pantai Prigi Digelar Malam Hari, Ini Alasanya

Trenggalek, (afederasi.com) – Ditengah mewabahnya virus pandemi Covid-19, sejumlah tradisi masyarakat juga mengikuti protokol kesehatan. Seperti tradisi Larung Semboyo di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Kabupaten Trenggalek. Acara tersebut digelar secara sederhana dan malam hari.

Kepala Desa Tasikmadu, Wignyo Handaya mengatakan tradisi ini digelar pertama kali pada malam hari dan tanpa pengeras suara. Hal itu dilakukan untuk menghindari adanya kerumunan masa di tengah wabah Corona.

“Tradisi Larung Sembonyo atau sedekah laut sengaja digelar berbeda dan tidak seperti sebelum-sebelumnya,”ujar Wiqnyo, (27/06/2020).

Dijelaskan tradisi ini memiliki simbol sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, atas hasil ikan tangkapan. Prosesi tradisi yang biasa digelar tiap bulan Sela itu banyak yang hilang, Seperti tradisi balapan perahu usai pelarungan sesaji maupun perahu yang mengiringi saat melarungkan ke tengah laut.

“Tahun ini hanya pakai dua atau tiga kapal. Sebelumnya semua kapal se-pelabuhan keluar semua,” jelasnya.

Selain prosesi larung yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, masih Wignyo, para pengunjung yang ingin melihat prosesi juga harus mematuhi protokol kesehatan.

Baca Juga  Webinar Bahas Pariwisata, Berikut Rekomendasi LTNNU NTB Menyambut New Normal

” Banyak prosesi larung sembonyo yang mengalami perubahan di masa pandemi ini. Kendati demikian tidak mengurangi esensi dari tradisi turun-temurun itu,” tuturnya.

Dia menambahkan tradisi larung sembonyo harus dilakukan. Hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (par/am)

News Feed