Jumat, 5 Maret 2021, 17:53 WIB

Santri dan Pesantren Menghadapi Perubahan Zaman

Strategi kebudayaan santri dan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman perlu upaya progresif dan adaptif. Pesantren genuine menghadirkan karakter dan nilai nilai lokal dan islam yang harus dan terus dilestarikan. Mukhafadoh ngala qodimissolih ini bathiniyah, nilai, prinsip yang harus mengakar pada tradisi ke Indonesiaan dan keIslaman, wal akhdu bil jadidil aslakh adalah dohiriyah, perilaku, faktor-faktor luar yang bisa berubah sesuai perkembangan zaman.

Beberapa pesantren juga punya nilai yang tidak tertulis yang dipercayai sebagian masyarakat dan santri. Semisal jika rumah kyainya lebih bagus dari asrama santri, maka santri sulit bertambah. Pesantren menambah pembangunan gedung jika santri sudah memenuhi semua ruangan asrama. Ini masuk dalam kategori tradisi tidak tertulis. Hal ini juga mengajarkan nilai-nilai kejujuran dan kesederhanaan dalam dunia pesantren dan ketokohan seorang kyai.

Masing masing pesantren punya tradisi yang berbeda. Nilai kesederhanaan, jujur, kemandirian menjadi kunci kuat di pesantren. Ini semua didukung oleh kemampuan leadership dan uswah yang dicontohkan oleh kyai dan pengasuh pondok pesantren. Selalu ada yang istimewa di setiap pesantren sehingga banyak santri dan masyarakat yang fanatik dan terkesima dengan pesantren dan kyainya.

Baca Juga  Fraksi PPP Minta Pemprov NTB Perhatikan Pesantren di Tengah New Normal

Pesantren memodifikasi diri tetapi tidak luntur dari nilai nilai islami. Modernitas adalah hal yang dianjurkan tetapi harus dimaknai dengan tepat. Modernitas merupakan kemampuan merespon perkembangan terkini. Dalam hal kecil bisa dilihat seperti kapasitas tampungan kamar, ada komputer, perbedaan level dan kelas, digital, sarpras dan masih banyak lagi lainnya. Kesalahkaprahan pemahaman modern yang masih sempit itu yang harus dipahami, karena modern punya konsekuensi perubahan yang menyeluruh. Modernitas harus mencakup semua kebutuhan masyarakat dan peradaban.

Pesantren dulu didirikan untuk mandiri dan tidak tergantung dengan Negara. Tetapi sekarang pesantren banyak berkolaborasi dengan Negara, CSR, Komunitas, Lembaga, Yayasan dll. Pesantren adaptif kolaboratif tetapi tetap mandiri dengan ketangguhan, pemikiran dan pendidikannya. Inilah konsep modern yang terus dinamis yang dideskripsikan terus berkembang. Arti modern tidak relevan jika tidak menyeluruh dan malah bisa menjebak jika modern diartikan hanya terbatas pada sarpras, bukan pada metode pembelajaran dan banyak lagi lainnya. Modern dan salaf akan menimbulkan sekat dan pertanyaan pertanyaan berikutnya, karena  tipologi tersebut masih dipandang sempit.

Baca Juga  Ratusan Santri Alami Keracunan Masal, Diduga Karena Ini

Pola keterhubungan kyai dan santri itu sangat penting dalam sebuah pesantren. Para pengasuh yang membimbing dan mendampingi ribuan santri itu tidak mudah. Membagi pengasuh dan santri dengan ukuran yang ideal, model pengasuhan santri dan figure kyai yang karismatik juga teladan umat akan mampu menjaga nilai dan keterhubungan kyai bersama santri dalam sebuah pesantren.

Sanad pemikiran dan keilmuwan  memang mengikuti ulama timur tengah tetapi sanad perilaku didasarkan pada kearifan dakwah lokal walisongo. Pesantren genuine punya standart lokalitas walisongo. Pemikiran dan gerakan menjadi satu kesatuan dan keterpaduan di pesantren. Nusantara merupakan tempat persilangan budaya, sehingga akulturasi dan filtrasi kadang terjadi. Pesantren genuine punya peran besar menjaga identitas, moralitas dan religiusitas negeri ini. Pesantren tidak genuine tidak punya sanad dan tidak memiliki standart lokalitas dan identitas diri dalam kearifan berkehidupan bersama di bumi nusantara.

*Oleh : Mochammad Sinung Restendy

News Feed