oleh

Mendidik dengan Bahagia

Oleh Hawwin Muzakki

Menanggapi tulisan kolumnis nasional, namanya mas Iqbal Aji Daryono. Tentu para pembaca pernah membaca tulisannya “mak seliweran” kadang melintas di media online atau bahkan ada pembaca yang sama persis seperti saya, sangat mengagumi ke-uwuannya dalam merangkai kata-kata. Saya mengikuti beberapa tulisannya, misalnya soal “kumis” dan “kebahagiaan dalam bermedia sosial”. Hingga pada 1 September kemarin ia menulis di salah satu media dengan judul “Pendidikan Bukan Tanggung Jawab Orangtua”.

“Bull bull bull”, suara kebulan asap di kepala, ketika selesai membaca tulisannya. Pikiran berontakku menyeruap ke luar seperti keluarnya asap mobil berbahan solar tahun 1980an. Memang pro dan kontra tulisan menjadi berkah bagi penulis untuk mengundang pembaca hanya sekedar mampir dan siapa tahu menambah viewer, bahkan nantinya siapa tahu penulis diundang Dedi Corbuzier untuk sekedar klarifikasi.

Di sisi lain sajian judul yang  mengundang pro dan kontra tersebut, ada beberapa para pembaca yang hanya komen singkat serta tidak sepaham dengan pemikirannya, dengan nada nyinyir sambil membayangkan bibirnya Bu Tedjo yang lagi naik truk pergi Tilik Bu Lurah yang lagi sakit, tentu ada beberapa komen juga yang mendukungnya.

***

Tulisan ini bermaksud meng-counter tulisannya. Gini mas Iqbal. Pertanyaannya, siapakah yang lebih bertanggung jawab dalam pendidikan saat ini? apakah orang tua, masyarakat ataukah sekolah?

Memang, sekolah lahirnya belakangan pasca pendidikan dalam keluarga dan masyarakat. Namun yang lahir belakangan itu tampil secara inferior dan gagah di era modern ini. Hingga benar kesimpulan yang disampaikan Mas Iqbal, era sekarang ini jika tidak sekolah maka dikatakan masyarakat yang ketinggalan zaman. Segala upaya dikerahkan agar si anak mau bersekolah, sampai segala kartu juga disiapkan oleh Pak Presiden agar si anak mau untuk bersekolah.

Kemudian yang kedua saya mempertanyakan, mengapa kita tergantung terhadap konsep mendidik anak dengan standar formal? Padahal kebutuhan pendidikan anak bukan semata-mata tuntutan pendidikan formal. Mendidik berarti memanusiakan anak seutuhnya, berikan kemampuan yang berguna bagi kehidupan ia nantinya. Pengetahuan yang menjadi bekal untuk menjalani kehidupannya.

Bayangkan kalau kita terlalu mengandalkan pendidikan sekolah formal dengan konsep modern sebagai jalan ninja kita. Tidak jauh-jauh, musim pandemi Covid-19 ini bisa menjadi contoh, seketika pendidikan formal terasa berhenti saat pandemi melanda. Kalau pandemi ini berjalan puluhan tahun, apakah kita akan terus mengandalkan konsep pendidikan formal? Bagaimana kondisi pendidikan kita nantinya? Terus terang saya tidak bisa membayangkan. Seperti hasil riset dari lembaga peneliti Smeru mengungkapkan, di era pandemi ini banyak timbul gejala penurunan intelektual anak,. Penurunan intelektual tersebut saya duga akibat orang tua yang terlalu mengandalkan pendidikan di sekolah.

Secara singkat, bagaimanapun keadaannya, walaupun badai dan monster datang menyerang “wuuushhhh”, pendidikan harus tetap berjalan. Oleh karena itu, ini bukan persoalan orang tua “membela diri” ketika dikatakan gagal atau berhasil mendidik anaknya dalam hal matematika, IPA maupun IPS. Sebagai orang tua tanggung jawab pendidikan tetap berada di pundaknya.

Teringat ketika istri saya melahirkan, “sehat jasmani dan rohani ya nak”, bisikan saya dengan lembut, sambil menyentuh perut ibunya saat si jabang bayiku masih dalam kandungan. “Dul dul dul”, Ia membalas dengan menendang-nendang perut istri saya. Bahkan malam-malam sebelum tidur disempatkan untuk mendengarkan murottal Al-Qur’an atau musik klasik, yang konon bisa meningkatkan daya serap otaknya. Hal tersebut, menggambarkan begitu besar peran mendidik orang tua pada anaknya, bahkan ketika masih dalam kandungan, Oleh karena itu pendidikan dalam keluarga disebut Madrosatul Ula.

***

Gambaran utuh seorang manusia setidaknya bisa ditinjau dari 3 aspek perkembangan belajar yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Orang tua tentu bisa mendidik anaknya sesuai dengan kemampuan yang dia kuasai secara mandiri. Adapun sekolah mencoba melengkapi kemampuan-kemampuan yang tidak bisa diajarkan oleh orangtuanya. Sehingga orang tua rela, bahkan menjadi sebuah kebutuhan untuk mensekolahkan anaknya di era sekarang ini.

Stephen Covey juga menambahi, pendidikan bertujuan membentuk 2 hal, yaitu personality ethic dan character ethic. Bagaikan sebuah gunung es, kalau yang sisi atas, tampak  gunung disebut personality ethic sedangkan sisi bawah, tak tampak serta tenggelam di lautan disebut character ethic. Secara singkat, personality ethic berbicara soal tampilan luar misalnya komunikasi, manajemen, relasi, dan fisik. Sedangkan character ethic berbicara soal integritas, jujur, tanggung jawab, dan kesetiaan.

Di era pandemi ini pentingnya kita menggali kembali pendidikan lain di luar sekolah, yaitu pendidikan dalam keluarga dan masyarakat. Sinergi ketiganya sangat penting untuk mewujudkan generasi emas, generasi yang mempunyai kemampuan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, serta terbentuknya individu yang memiliki personality ethic dan character ethic yang baik.

***

Memang, seharusnya di era pandemi ini, tugas-tugas yang masih ada sangkut pautnya dengan “mendidik” di sekolah, hendaknya dikurangi. Berikan kebebasan pada orang tua untuk mendidik anaknya sesuai kemampuan dan pemahamannya. Serahkan pendidikan ini secara adil dan berimbang dalam lingkup keluarga, sekolah dan juga masyarakat. Toh pendidikan bukan hanya soal KPK dan FPB. Kalaupun orang tua tidak bisa mengajarkan KPK dan FPB, sebenarnya wujud sinergi ini bisa diserahkan kepada saudara atau masyarakat lain yang bisa memahamkan si anak soal KPK dan FPB di luar bangku sekolahan.

Momentum Pandemi Covid 19 ini seharusnya menjadi refleksi bersama, perlunya sinergitas antar ketiganya untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Mari mendidik dengan bahagia! bukan saling lempar tanggung jawab dan “gontok-gontokkan”.

Kalau Mas Iqbal hanya curhat soal KPK dan FPB, maka izinkan saya juga curhat tentang kegelisahan saya ini, dari pada menjadi “udun” di kepala.

News Feed