oleh

Mendedah Wajah Islam Ramah

 

Judul              : Agama Adalah Cinta, Cinta Adalah Agama

Penulis          : Edi AH Iyubenu

Penerbit        : DIVA Press

Cetakan         : April, 2020

Tebal              : 200 Halaman

ISBN               : 978-602-391-964-2

Agama Islam disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. dengan penuh welas asih untuk manusia dan semesta. Namun dalam perjalanannya, Islam tidak hanya sekadar ajaran yang menuntun agar hidup manusia selamat dunia akhirat, tapi juga difungsikan untuk menjatuhkan lawan politik, lawan debat, dan melegitimasi berdirinya sebuah dinasti.

Kendati demikian, kita mendapati ejawantah keberislaman bermuara pada dua laku, yakni keras dan ramah. Keduanya santer kita dapati di sejumlah hasil riset, literatur dan realitas jamak yang bisa kita temui di banyak tempat. Di satu sisi ada yang ingin mendakwahkan dan memberantas kedzaliman dengan pekikan takbir dan pentungan, sedangkan yang satunya lagi, dengan cara merangkul dan menebarkan welas asih dan ramah seperti yang dicontohkan oleh Nabi semasa hidupnya.

Pada poin wacana Islam ramah, Edi AH Iyubenu melalui bukunya bertajuk “Agama Adalah Cinta, Cinta Adalah Agama” ingin mewartakan kembali bahwa laku keberislaman yang ramah belum mengenal kata sudah. Memang tema serupa banyak digurat oleh seabrek penulis dengan judul yang hampir mirip-mirip, namun letak urgensi buku ini ada pada kontekstualnya kasus yang tengah hangat dibicarakan oleh publik. Edi AH Iyubenu meneropong kasus itu dengan sudut pandang baru, segar, dan referensi yang memadai.

Buku ini cukup renyah untuk dibaca, tidak mencerca, pun begitu lekat dengan nuansa sastra-sufistik. Meski di beberapa esai kita berurusan dengan kasus yang pelik, namun semua itu tidak menjadi persoalan, karena pemilihan diksi dan bahasanya cukup mudah dimengerti bahkan oleh pembaca awam sekalipun.

Memang dalam esai-esainya ia kerap mencomot konteks historis laku keberislaman Nabi Muhammad Saw, para sahabat, dan riwayat orang-orang shaleh ketika masih hidup. Ia juga menambahkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang bertebaran dengan memilahnya sesuai relevansi topik yang sedang ia bicarakan.

Buku setebal 200 halaman ini memuat 20 esai. Esai tidak diurutkan berdasarkan kapan ditulisnya atau tidak dipilah-pilah sesuai kesamaan topik yang dibicarakan. Namun jangan khawatir, esai-esai di buku ini jika ditarik benang merahnya akan bertemu dengan tiga kata kunci yang saling berurutan, yakni ramah, mendayagunakan akal, dan moderat.

Hampir semua esai di buku ini diawali dari asumsi bahwa Islam itu ramah pada siapa saja, tanpa tebang pilih. Laku keberislaman yang rahmatan lil ‘alamin memang tidak melulu hanya ditujukan kepada mereka yang seiman saja, tapi juga kepada manusia lintas ras, suku, bangsa, bahkan juga agama (hlm. 28).

Namun itu saja tidak cukup, laku keberislaman juga perlu mendayagunakan akal. Ada dua argumen penguat yang tersirat di buku ini. (argumen pertama) Melalui akal dan belajar, orang Islam akan menemukan khazanah keilmuan yang banyak. Dengan begitu, ia akan memiliki ragam alternatif jawaban ketika dihadapkan pada suatu persoalan. Sehingga, (argumen kedua) ia tidak jatuh pada sifat dan sikap fanatisme buta yang melulu menyalahkan orang lain tanpa dasar yang jelas atau hanya bisa menjawab persoalan yang disandarkan pada tafsiran satu ayat semata.

Riwayat acuan dalam soal ini adalah kisah Imam Malik. Suatu ketika ada seseorang yang datang dari jauh untuk bertanya tentang suatu hukum kepadanya. Alih-alih mendapat jawaban yang diinginkan, Imam Malik justru mengatakan bahwa ia tidak tahu dengan baik tentang hal itu. Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Imam Malik tetap pada jawaban yang sama, “tidak tahu” (hlm. 65). Secara kualitas keilmuan sekaliber Imam Malik tidak perlu diragukan, namun dengan kalkulasinya sendiri ia memilih jawaban yang seperti itu, “tidak tahu”.

Riwayat ini bertentangan jika kita menilik ceramah ustad-ustad yang bertebaran di televisi dan media sosial belakangan ini. Mereka dengan mudah memberi jawaban atas suatu persoalan mulai dari politik, ekonomi, sejarah, agama, hukum, sains, bahkan urusan privat seseorang. Jawaban seperti Imam Malik di atas, tidak mungkin diutarakan karena bisa mengancam reputasi dan popularitasnya. Padahal “tidak tahu” itu bisa jadi malah menyelamatkan umat Islam dari pertikaian karena fanatisme perbedaan paham.

Dua modal ramah dan mendayagunakan akal ini membuat wajah Islam menjadi lebih moderat. Tidak keburu menjustifikasi benar salah, namun bisa menimbang-nimbang efeknya dalam jangka panjang. Prototipe seperti Piagam Madinah yang memuat nilai toleransi (hlm. 183), penyesuaian sila pertama Pancasila dengan kondisi faktual negeri ini, dan ragam rekonsiliasi usai konflik menjadi bukti bahwa laku keberislaman yang moderat masih diperlukan dan tetap tumbuh subur.

Meskipun begitu, jangan berbaik sangka dulu bahwa buku ini baik tanpa cacat. Memang setiap esai ditulis dengan apik, namun di beberapa kasus ada analogi-analogi yang kurang sesuai. Alih-alih menjelaskan justru terkadang malah melebar dari topik pembahasan. Di sisi lain, masih ada banyak kasus laku keberislaman di luar ini yang perlu ditelaah, ditulis, dan dikontekstualisasikan dengan kacamata Islam yang mengedepankan cinta, bukan kasar atau keras. Menutup ini, saya teringat ucapan Gus Dur beberapa tahun silam, “kita butuh Islam ramah, bukan marah”. Sekian.

News Feed