Selasa, 9 April 2019, 11:05 WIB

Kejaksaan Tahan Kasek SMPN 2 Tulungagung

Afederasi.com – Kasus pungutan liar (pungli) penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Kabupaten Tulungagung tahun ajaran 2017/2018 menjebloskan penjara sejumlah guru di SMPN 2 Tulungagung, Jawa Timur. Terbaru, Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat menahan  kepala sekolah, EP pada Selasa (09/04/2019) siang.

Penahanan tersebut untuk mempermudah proses penyidikan. EP ditahan setelah dilimpahkan oleh penyidik Unit Pidana Korupsi (pidkor) Polres Tulungagung atas pengembangan kasus pungli sebelumnya.

“Tersangka dan barang bukti sudah kami serahkan kepada Kejaksaan Negeri,”tegas Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar melalui Kasubbag Humas AKP Sumaji.

Dijelaskan barang bukti  yang diserahkan adalah handphone (hp) merk Samsung Galaxy beserta simcard milik tersangka EP, sebuah hp merk Huawei milik Rudy Bastomi (terpidana sebelumnya yang sudah bebas), SK panitia PPDB, SK CPNS dan PNS EP, dan SK bupati tentang pengangkatan sebagai Kasek di SMPN 2 Tulungagung.

Sumaji menjabarkan tersangka dijerat pasal 11 dan atau pasal 12e UURI nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 KUHP.

Sementara itu, Kasi Intel Kejari Tulungagung Rahmat Hidayat mengatakan, setelah tersangka dan barang bukti diterima pihaknya langsung melakukan penahanan terhadap tersangka.

“Tersangka akan ditahan selama 20 hari kedepan. Kami akan segera menentukan

Jaksa Penuntut Umum (JPU),”terangnya.  

Sebenarnya lanjut  Rahmat, penasehat hukum sejatinya sempat mengajukan agar tersangka menjadi tahanan kota. Namun karena suatu alasan, pihaknya tidak mengizinkan. Apalagi, kondisi tersangka juga dalam keadaan sehat.

Disinggung terkait pasal-pasal yang digunakan untuk menjerat tersangka, Rahmat menjelaskan untuk pasal 11 tersangka bisa dipidana dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 250 juta. Sedangkan 12e, tersangka bisa dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama dua puluh tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 milyar.

“Keputusan vonis ditangan hakim nanti,” jelas Rahmat.

Menanggapi hal tersebut, salah satu penasehat hukum tersangka , Komarul Huda mengaku lebih memilih mengikuti proses hukum yang berjalan. Namun, pihaknya akan tetap pro aktif untuk mengawal kliennya. “Kami ikuti prosedur hukumnya saja,”katanya

Berdasarkan pantauan media ini, EP yang mengenakan baju batik dominasi warna putih yang didampingi istri dan tiga penasehat hukumnya tiba di Kejaksaan sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah pihak kejaksaan selesai memeriksa kelengkapan berkas dan barang bukti, giliran EP diminta keterangannya. Bahkan, EP sempat dicek kondisi kesehatannya oleh petugas dari Puskesmas Ngantru. Setelah dinyatakan sehat, Eko Purnomo langsung dibawa ke lapas klas II B Tulungagung di Jl Pahlawan.

Sebelumnya,  pengadilan tipikor Surabaya sudah menvonis  SP 10 bulan penjara dan denda Rp 5 juta dan RB 14 bulan dan denda 50 Rp juta. (dra)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed