oleh

Mengenal Muhammad Dimas, Peraih Sarjana dan Predikat Lulusan Termuda ITS Surabaya

Surabaya, (afederasi.com) – Setelah empat tahun menjadi mahasiswa baru dengan usia yang paling muda, kini Muhammad Dimas Nugraha Aryatama berhasil lulus dengan menyandang predikat wisudawan termuda dalam Wisuda Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ke-122.

Mahasiswa asli Banjarmasin ini akan diwisuda, dan menjadi sarjana Teknik Komputer pada usia yang baru mencapai 19 tahun 7 bulan pada prosesi wisuda sesi ketiga, 24 Oktober 2020 mendatang.

Kilas balik mahasiswa yang kerap dipanggil Dimas ini, diawali saat masuk sekolah dasar (SD) di umur yang lebih muda dari anak-anak pada umumnya, yakni 5 tahun. Menginjak tahun ketiganya di SD, Dimas berkesempatan untuk program percepatan belajar atau akselerasi. Hingga selama kelas 3 sampai 6 ditempuh masing-masing selama delapan bulan dan lulus dalam kurun waktu lima tahun saja.

“Waktu saya masih di bangku SMA, saya dapat kesempatan untuk mengikuti program akseleras sehingga lulus dari SMA hanya dalam kurun dua tahun. Setelah itu, saya langsung melanjutkan ke jenjang perkuliahan saat umur 15 tahun,” ungkap Dimas, saat dikonfirmasi, Sabtu (17/10/2020).

Baca Juga  Tren Bercocok Tanam Meningkat, Penjual Bunga Kebanjiran Order

Mahasiswa yang sudah lama memiliki kegemaran mengotak-atik komputer ini melabuhkan pilihannya pada Departemen Teknik Komputer ITS. Ditempa dan dididik disalah satu kampus terbaik di Surabaya ini, membuat Dimas menemukan bidang favoritnya yakni machine learning dan deep learning yang merupakan suatu teknologi yang sangat gencar pengembangannya pada saat ini.

“Bahkan penerapannya dapat sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Kegemaran itulah yang membuatnya memilih topik Tugas Akhir (TA) yang berjudul Pendeteksian Pneumothorax Pada Citra X-Ray Menggunakan Convolutional Neural Network. Dalam penelitiannya, Dimas menggunakan sistem deep learning untuk dapat mendeteksi kondisi pneumothorax pada gambar x-ray pasien. Ia lebih berfokus membandingkan tingkat keakuratan dari berbagai model arsitektur deep learning.

“Selama ini pneumothorax masih sering mengalami keterlambatan diagnosis dan perawatan medis, karena metode deteksinya masih menggunakan cara manual. Saya berharapnya supaya kedepan, metode yang saya teliti dapat lebih dikembangkan dan diterapkan di rumah sakit agar bisa mengurangi jumlah korban pneumothorax,” kata Alumnus SMAN 1 Banjarmasin ini.

Baca Juga  Hasil Uji RDT Empat Orang dilaporkan Reaktif, Dua orang Merupakan Karyawan Apollo

Dalam empat tahun masa kuliahnya, Dimas tidak memberikan batasan wadah tempat ia belajar. Masih berkesinambungan dengan bidang yang ia dalami, Dimas juga aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotika. Di sana, ia mengaku mendapat banyak pelatihan terkait Internet of Things (IoT) hingga deep learning. Berbagai pengalamannya itu mengantarkannya meraih juara tiga pada ASEAN MATE Underwater Robot Competition 2017 lalu.

Banyak hal-hal tidak terduga yang dialami mahasiswa yang juga menjadi bagian dari Laboratorium Komputasi dan Multimedia ini. Karena wajahnya yang masih tampak sangat muda, ia sampai dikira masih mahasiswa baru oleh adik tingkatnya saat Dimas sudah berada di tahun ketiga perkuliahannya.

“Bahkan sampai foto bersama mengabadikan momen sebagai mahasiswa baru, padahal saya sudah mau lulus,” paparnya.

Selain itu, sulung dari dua bersaudara ini juga pernah merasakan kepenatan menjalani hari-hari yang penuh tugas. Baginya, salah satu caranya menaikkan mood kembali adalah dengan melakoni hobinya yang cukup unik, yakni membaca buku sejarah dunia, biografi tokoh dunia, hingga mengikuti perkembangan militer dunia. Meski melewati masa kuliah di umur yang terbilang sangat belia ini tidak mudah, Dimas tidak pernah sekalipun merasa putus asa. Motto hidupnya yang berbunyi “Coba aja dulu”, membuat Dimas cekatan serta sigap mengambil keputusan semasa perkuliahannya.

Baca Juga  Bawa Ratusan Massa, GETOL Kembali Serukan Penolakan Omnibus Law

“Saya juga sangat berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang juga senantiasa memberi dukungan,” tutur Dimas.

Usai menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan meraih IPK 3,17, Dimas berencana untuk melanjutkan studinya ke jenjang Master (S-2). Cita-citanya sendiri di masa mendatang, ia ingin dapat mengaplikasikan ilmunya dengan bekerja di bidang data analyst atau software engineering.

Kendati demikian, untuk para juniornya Dimas juga berpesan untuk selalu pantang menyerah dan tetap mencoba untuk dapat beradaptasi di lingkungan baru khususnya perkuliahan. Membuka diri itu penting, karena pemahaman akan topik perkuliahan justru banyak yang bisa didapatkan dari belajar bersama teman.

“Apapun masalah yang menghadang, hadapi aja dan usahakan selalu kontrol emosi,” pungkas Dimas. (dwd/yp)

News Feed