oleh

Aksi Turun Jalan Mahasiswa UNAIR, Tuntut Pemotongan UKT 50 Persen

Surabaya, (afederasi.com) – Sebanyak 51 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Airlangga (AMU) menutup Jalan Ir Soekarno, tepatnya di perempatan kampus Unair C menggelar aksi turun jalan.

Para peserta aksi telah berkumpul di tengah-tengah perempatan jalan dan membentuk formasi lingkaran, sejak pukul 11.00 WIB.

Dalam aksi tersebut, para peserta aksi ini membawakan lima tuntutan, terutama menuntut Uang Kuliah Tunggal (UKT) diturunkan sebesar 50 persen.

“Kami meminta uang UKT sekurang-kurangnya 50 persen tanpa adanya syarat kepada semua golongan. Kedua, adanya transparasi keuangan Unair berupa rancangan anggaran biaya (RAB), ketiga berikan subsidi terkait pelaksanaan kuliah daring kepada mahasiswa bantuan berupa kuota internet yang layak selama perkuliahan daring berlangsung. Keempat bebaskan biaya perkuliahan UKT bagi mahasiswa akhir Unair dan kelima legalisasi 4 tuntutan diatas dalam bentuk penerbitan SK Rektor Unair yang baru mengenai pembiayaan UKT,” kata Bobby Tanaya, salah seorang mahasiswa UNAIR yang menjadi peserta aksi, Rabu (29/7/2020).

Sementara itu, salah satu Mahasiswa Fakultas Hukum yang enggan disebutkan namanya mengatakan, penutupan jalan ini ditujukan agar pihak Rektorat tidak langsung masuk dan mengobrol dengan para mahasiswa.

“Kami cuma mau audensi duduk dengan rektor ngobrol bareng gimana dampak teman-teman yang banyak putus kuliah, bapaknya bangkrut, dirumahkan, ga bayar fasilitas kampus tetap bayar dengan harga yang sama,” ujarnya.

Ia mengaku bahwa dirinya tetap membayar Rp15 juta hanya untuk PPT dan aplikasi Zoom, namun belum mendapatkan fasilitas yang memadai sedangkan pembayaran Rp15 juta itu tidak berkurang sedikit pun.

“Karena kuota sangat minim, baru menerima 2.000. Apakah satu universitas 2.000 apakah yang terdampak hanya 2.000. Menyayangkan, kita dari mahasiswa ingin kebijakan yang mengakomodir terdampak,” tegasnya.

Ia melanjutkan, hal lain yang dinilai aneh adalah program pembelajaran berjalan normal namun diklaim sebagai bentuk bantuan. Kedua adalah jumlahnya, yakni Mahasiswa unair secara keseluruhan ini jumlahnya 30-40 ribuan akan tetapi bantuan hanya ada sekitar 2.000an

“Ya kan tentu nggak nyampek sedangkan yang terdampak satu universitas. Ketiga klasifikasi dampak pandemi itu juga tidak rijib. Pandemi kan universal, secara nasional general penurunan ekonomi. Kalau syaratnya surat miskin dari kelurahan, phk minta biar dapat bantuan kalau kerjanya jaga warung ga ada surat PHKnya kan tidak bisa,” urainya.

Sementara itu, Ketua Pusat Informasi dan Humas UNAIR Kampus C,  Suko Widodo menjelaskan bahwa sebelum mahasiswa mengadakan aksi tuntutan, pimpinan Unair telah membuat kebijakan yang menyerap aspirasi semua pihak. Terlebih, lanjutnya, pimpinan UNAIR telah bertemu dengan organisasi perwakilan mahasiswa dan ketua BEM dan menghasilkan sebuah kesepakatan.

“Bahkan kebijakan-kebijakan, UKT banyak dipuji orang karena tahu persis kondisi pandemi saat ini. Contoh kita sudah memberikan kebebasan pada 2.395 dengan mekanisme KIP. Bagi mereka mahasiswa semester akhir tinggal skripsi, kalau Oktober sudah selesai juga digratiskan. Mereka nuntut 50 persen, kita gratiskan,” ujar Suko.

Dirinya mencontohkan, seperti mahasiswa diberikan cuti jika proses pendidikannya terkendala karena harus menghadapi pandemi. Bagi yang keberatan akan ada mekanisme untuk mengajukan kepada masing-masing fakultas, kemudian diproses ke direktur keuangan.

“Sistem kita UKT yang disepakati sejak mahasiswa masuk. Kalau semua harus dipitong 50 persen bagaimana putra pengusaha kaya? anak bupati? Kalau dipotong padahal kita juga membutuhkan untuk mahasiswa yang kekurangan,” jelasnya.

Rektor UNAIR M. Nasih pun, lanjut Suko sudah berpihak kepada semua kepentingan bersama. Maka, dari jumlah mahasiswa Unair sekitar 37.000 yang demo hanya 51 orang yang telah dicatat.

“Apa mereka mewakili umum? Saya kira juga sudah diwakili oleh organisasi kemahasiswaan, BEM. Itulah representasi yang terus kita dialog dengan mereka,” ucap Suko.

Saat ditanya mengapa UKT di Unair tidak memberikan potongan 100 persen, Suko menjawab UNAIR merupakan lembaga organisasi yang juga butuh pembiayaan. Persoalan kuota internet pun saat ini juga telah dipenuhi.

“Namun jika mahasiswa menuntut soal kuota tolong kuotanya jangan dibuat nonton musik aja tapi benar-benar belajar. Sudah kita hitung kok. Saya kembalikan ke anda sebagai mahasiswa untuk menggunakan fasilitas yang diberikan,” ujarnya.

Untuk orang tua mahasiswa yang berdagang dan tidak menunjukkan surat PHK juga bisa mengajukan ke fakultas. Seperti ada surat keterangan RT/RW, bahkan pihaknya juga bisa memverifikasi.

“Ini kan problem dialog, silahkan. Jadi Nggak perlu bakar kayu, malu lah, nganggu orang di jalan. Masa mahasiswa begitu hari gini. Silahkan ajukan dengan baik-baik datang, jelaskan problemnya. Pasti pihak unair memahami kondisi, kita semua prihatin dengan kondisi seperti ini,” jelasnya.

Mahasiwa juga sempat mengancam, jika tidak ditemui oleh Rektor Unair akan menginap di Kampus C. Namun, Suko justru menanyakan mahasiswa ini mewakili siapa.

“Urusannya jadi lain. Kan ada aturannya, mereka juga tidak izin. Mereka mewakili siapa? Siapa yang dia wakili? Mahasiswa mana? Wong sudah diwakili ormawa. Agak aneh,” tutup Suko. (dwd/an)

News Feed