oleh

Radikalis-Ekstrim Selalu Anti Kemanusiaan

-Opini-95 views

Part 3

Sean Choir

Seperti di belahan dunia manapun, termasuk yang telah terjadi di Maroko, radikalis-ekstrim berbasis agama selalu saja anti kemanusiaan.

Oleh kelompok radikalis-ekstrim, melalui masjid-masjid pesan suci agama direduksi dan dimanipulasi sedemikian rupa untuk menebar kebencian pada sesama. Atas nama jihad di jalan Tuhan, tindakan teror melalui serangan bom bunuh diri dengan korban jiwa, juga terjadi di Maroko.

Hanya saja, respon cepat kerajaan melalui ‘Blokade Politik Raja’ cukup efektif untuk memastikan Maroko tidak menyusul menjadi negara gagal. Respon cepat kerajaan ini sepertinya lebih berpijak pada kesadaran politik bahwa ‘Arab Spring’ tidaklah murni sebagai gerakan demokratisasi rakyat sebuah negara untuk menuntut perubahan politik-demokratis. Tapi dalam ‘Arab Spring’ telah menjadi medan perang proxy lintas negara dengan melibatkan aktor global. Tujuan besarnya tidak lain adalah penguasaan sumber daya.

 lni yang seringkali terlupakan oleh banyak pihak dan kemudian melihat ‘Arab Spring’ sebatas sebagai musim semi demokratisasi di negara-negara semenanjung arabiyah. Sebuah musim politik dimana gerakan rakyat  secara revolutif bersemi untuk menuntut pembebasan dan pengakhiran rezim politik otoriter.

Cara pandang yang simplitif ini tentu mengabaikan  keterlibatan langsung maupun tidak langsung aktor-aktor politik global, khususnya dominasi kepentingan negara Amerika Serikat dalam perang proxy tersebut. Padahal jika ditelisik lebih dalam, seperti yang terjadi di Irak, Mesir dan Syiria, kepentingan politik AS lah yang paling dominan.

Barangkali Maroko diuntungkan karena tidak memiliki ladang minyak seperti Tunisia dan Aljazair, sehingga tidak membuat aktor global untuk tergoda dan membikinnya sebagai negara gagal dan kemudian dikuasai minyaknya. Tapi bisa jadi politik-reformatif yang digaungkan Raja Muhammad VI benar-benar mampu mengkanalisasi gerakan rakyatnya dari efek buruk ‘Arab Spring’.

Sejak naik tahta tahun 1999, ia selalu berbicara negara hukum, desentralisasi, kebebasan pribadi, anti korupsi dan akan  lebih menghargai hak asasi manusia. Bahkan dalam pidato pertamanya sebagai raja, dengan lantang ia berbicara: penyakit yang dihadapi Maroko adalah kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan sosial (Linardy:2014).

2 Nopember 2019

Hotel Barcelona Sky

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

News Feed