Rabu, 20 Oktober 2021, 09:34 WIB

Polda Sulteng Selidiki Dugaan Tindakan Asusila Oknum Polisi di Parigi Moutong

Sulawesi Tengah, (afederasi.com) – Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah sedang menyelidiki kasus dugaan tindakan asusila yang dilakukan seorang oknum polisi terhadap seorang perempuan putri tersangka pelaku pencurian hewan ternak. Oknum polisi tersebut menjabat sebagai Kapolsek, menjanjikan akan membebaskan ayah korban yang berada dalam tahanan bila keinginannya dipenuhi korban.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Irjen Pol Rudy Sufahriadi, menyatakan pihaknya secara serius akan menangani dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oknum Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) di Polres Parigi Moutong.

Oknum Polisi berpangkat Inspektur Polisi Satu (IPTU) berinisial IDGN ini dilaporkan melakukan tindak asusila terhadap seorang perempuan berusia 20 tahun. Pelaku menjanjikan akan membebaskan ayah korban yang ditahan karena kasus pencurian hewan ternak.

“Kita datangi rumah korban, meyakinkan bahwa saya akan profesional menangani anggota yang salah,” kata Irjen Pol Rudy Sufahriadi kepada wartawan di Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Kabupaten Parigi Moutong.

Rudy menjelaskan setelah kasus itu dilaporkan kepada polisi pada 15 Oktober 2021, oknum polisi itu langsung dicopot dari jabatannya sebagai Kapolsek. Polda Sulteng telah menurunkan tim dari Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) untuk melakukan penyelidikan sekaligus pemeriksaan saksi-saksi.

Baca Juga  Sales Marketing Otomotif Hendak Perkosa Istri Teman, Begini Kronologisnya

Saat berkunjung ke Kabupaten Parigi Moutong, Kapolda Sulawesi Tengah menemui korban dan keluarganya. “Saya datang ke sini menunjukkan keseriusan kita menangani masalah yang ada di Parigi Moutong ini,” tegas Rudy Sufahriadi.

Perempuan yang disebut berinisial S dalam sebuah rekaman video mengaku dirinya dirayu oleh pelaku yang mengajaknya melakukan hubungan seksual. Oknum polisi itu menjanjikan akan membantu untuk mengeluarkan ayahnya dari dalam tahanan.

“Beberapa minggu dia tawarkan, dia rayu. Dia bilang nanti bantu sama papa kalau misalnya saya mau temani dia tidur. Bantu membebaskan papa. Akhirnya saya mau karena saya pikir papaku mau keluar,” cerita korban.

Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Kabupaten Parigi Moutong, Noor Wachida Prihartini Tombolotutu menjelaskan pihaknya telah memberikan pendampingan kepada korban dan keluarganya. Termasuk mengupayakan pendampingan psikiater untuk menangani trauma korban termasuk ibu korban yang sangat terpukul dengan peristiwa itu.

“Kalau arahnya mungkin yang lebih shocked (terguncang) ibunya ya butuh untuk kita dampingi ke psikolog,” kata Noor Wachida Prihartini. (dn)

Baca Juga  Korban-Korban Perkosaan di Prancis Kecam Perlakuan Polisi

News Feed