Senin, 11 Oktober 2021, 19:25 WIB

Menparekraf Pastikan Kesiapan Bali Terima Wisman 14 Oktober

Bali, (afederasi.com) – Pemerintah telah memutuskan untuk membuka Bali bagi wisatawan asing pada 14 Oktober ini. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjanjikan penerapan protokol kesehatan tanpa kompromi bagi wisatawan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno secara khusus membahas kesiapan Bali menerika kembali wisatawan asing, dalam pertemuan rutin bersama awak media, pada senin (11/10). Sandi meyakinkan publik, bahwa Bali telah siap.

“Kesiapannya sudah memasuki tahap akhir, boleh kami menyebut 90 persen. Tinggal untuk kepastian dari penerapan, pertama protokol end to end CHSE yang harus kita pastikan. Kedua, negara asal wisatawan, dan terakhir bentuk visa. Ini yang masih kita godok dan harapan kita, dalam beberapa waktu ke depan bisa kita finalkan,” kata Sandi.

Sementara ini, pemerintah menyebut enam negara asal wisatawan yang masuk dalam daftar meski belum final. Mereka adalah China, Korea Selatan, Jepang, Uni Emirat Arab , Arab Saudi dan Selandia Baru. Kemenparekaf sendiri, mengusulkan sejumlah negara tambahan dalam daftar itu, seperti Rusia, Ukraina dan sejumah negara di Eropa Barat.

Baca Juga  Pemerintah Berharap Jangan Ada 'Wisata Balas Dendam'

Sejumlah persyaratan pun  telah ditetapka, antara lain wisatawan harus datang dari negara yang memiliki risiko rendah Covid-19. Mereka harus memiliki hasil negatif tes Covid-19 dengan sampel PCR yang diambil maksimal 3×24 jam sebelum tiba. Wisatawan juga harus membawa bukti vaksinasi lengkap dan memiliki asuransi kesehatan dengan nilai pertanggungan minimal $100 ribu. Mereka juga harus mengunduh dan menginstal aplikasi Pedulilindugi, yang terintegrasi dengan beberapa aplikasi sejenis dari negara asal wisatawan.

Ada juga tes PCR saat kedatangan. Jika hasilnya negatif, wisatawan melakukan karantina. Jika positif dan tanpa gejala, dia harus isolasi di tempat penginapan. Jika wisatawan positif dan bergejala, dia akan dikarantina di fasilitas kesehatan terdekat.

“Pelaku perjalanan yang positif, dapat melakukan tes PCR kembali di hari kelima. Dan seandainya negatif, silahkan melakukan aktifitas luar ruangan. Jika masih positif, perlu mengulang siklus karantina tersebut,” kata Sandi.

Pemerintah memiliki wacana karantina selama lima hari, meski keputusan final belum ditetapkan. Keputusan karantina ini, lanjut Sansi, disetujui dan didukung oleh data yang dikumpulkan oleh para ahli epidemiogi yang ada di Indonesia maupun luar negeri. Tim dari Kementerian Kesehatan menentukan durasi karantina, berdasar perkembanga data terakhir, salah satunya terkait masa inkubasi.

Baca Juga  Pemerintah Berharap Jangan Ada 'Wisata Balas Dendam'

“Kami tidak segan bertindak tegas. Kepatuhan protokol kesehatan kepada wisatawan mancanegara yang masuk adalah nonnegotiable. Ada pelanggaran, kita beri tahapan penindakan, dan ujungnya deportasi wisatawan tersebut. Kita tidak akan main-main dalam penerapan protokol kesehatan,” ujar Sandi yang juga menyebut, telah ada 35 hotel untuk fasilitas karantina. (dn)

News Feed