Jumat, 22 Oktober 2021, 16:54 WIB

Dukung Swasembada Cangkul, Teten Masduki: Kebutuhan Cangkul Tidak Perlu Import

Tulungagung, (afederasi.com) – Menteri Koperasi dan UKM mendukung upaya swasembada cangkul, untuk memenuhi kebutuhan secara nasional. Hal itu diungkapkan ketika kunjungan kerjanya di Tulungagung, Jum’at (22/10/20210.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan, kebutuhan akan alat-alat pertanian di Indonesia sangat penting. Mengingat saat ini kebutuhan alat-alat pertanian masih dipenuhi oleh produk luar negeri, daripada produk dalam negeri.

“Alat-alat pertanian masih banyak import,” katanya saat meninjau Klaster Cangkul Merah Putih sentral industri pandai besi, di Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jum’at (22/10/2021).

Teten Masduki menuturkan, pihaknya sangat mengapresiasi upaya dari sentral industri klaster Cangkul Merah Putih karena telah mendapatkan akses pasar berupa logo SNI.

“Jadi, kami bisa swasembada cangkul, tidak perlu import cangkul,” tuturnya.

Lanjut Teten Masduki mengungkapkan, rencana kedepan pihaknya bakal memperkuat koperasi. Menurutnya, dengan adanya swasembada tersebut, kebutuhan alat-alat pertanian dalam skala nasional dapat terpenuhi.

Disinggung soal, apakah nantinya ada upaya untuk melakukan eksport alat-alat pertanian, dia menegaskan, langkah yang bakal diambil, adalah memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga  KSBP Ponpes Sunan Drajat Potensial Membangun Jaringan Ritel Modern

“Kebutuhan dalam negeri dulu, harus diperkuat salah satunya cangkul, sehingga koperasi sektor logam dapat meningkatkan produk, dan memproduksi alat-alat yang lebih canggih,” tegasnya.

Teten Masduki menambahkan, kualitas alat-alat pertanian yang diproduksi pengrajin dalam negeri tidak kalah dengan kualitas produk luar negeri.

“Tidak kalah, cangkul juga sudah didesain sesuai kebutuhan lokal,” imbuhnya.

Teten Masduki menjelaskan, untuk mendukung berkembangnya UKM. Pihaknya tidak lagi melakukan pendekatan dengan cara hibah.

Namun, pendekatan dan bentuk dukungan dilakukan dengan cara ekosistem, salah satunya sertifikat.

“Jadi yang diperkuat akses pembiayaan, untuk koperasi. Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus kami tingkatkan dengan bunga yang cukup rendah, dan akses pasar yakni belanja pemerintah 40 persen harus membeli produk UMKM,” pungkasnya. (rra/dn)

News Feed