oleh

Cerita Pejuang Pendidikan ditengah Pandemi Covid-19, Rela Home Visit Demi Bantu Murid Belajar

Tulungagung, (afederasi.com) – Berbagai kisah inspiratif mulai bermunculan didunia pendidikan saat pandemi Covid-19. Seperti halnya yang dialami oleh seorang guru kelas VI yakni Mohammad Yenri Shufianto dari SDN Mangunsari Kecamatan Kedungwaru ini.

Meskipun berstatus guru honorer, ia tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi 24 anak didiknya. Bahkan, ia rela menyempatkan waktunya hampir empat jam dalam sehari hanya untuk melakukan home visit (kunjungan ke rumah) ke rumah siswanya hanya untuk membantu murid belajar.

Berdasarkan pantauan afederasi.com, kegiatan belajar mengajar (KBM) disalah satu rumah siswa ini terlihat hampir tidak ada bedanya dengan KBM di sekolah. Tampak ada tujuh murid bermasker dengan berbagai lembar kerja dan alat tulis di depan mereka. Serta, terpampang papan tulis kecil yang terdapat tulisan soal matematika.

Meskipun hanya dilaksanakan di teras rumah dan tanpa meja-kursi, mereka sangat antusias. Hampir tidak terdengar suara candaan antar siswa. Mereka cukup serius mengerjakan tugas-tugas dari guru mereka yang juga mengenakan baju keki.

Baca Juga  Diduga Konsleting, Tiga Rumah di Kota Marmer Ludes Dilalap si Jago Merah

“Murid kelas VI di SD Mangunsari ada 24 anak, sehingga mereka kami bagi menjadi empat grub agar tidak terlalu padat,” kata Muhammad Yenri Shufianto disela-sela waktunya mengajar.

Suasana kegiatan home visit di salah satu rumah wali murid (Foto (yoppy/afederasi.com)

Pria berkacamata yang akarab disapa Yenri ini mengatakan, pelaksanaan KBM dengan cara home visit ini adalah salah satu bentuk kepeduliannya kepada siswa yang akan naik sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun depan. Menurutnya disaat masa transisi ini, peran guru sangat diperlukan untuk mata pelajaran tertentu seperti ilmu sosial, dan matematika.

“Seperti halnya anak kelas VI, anak kelas I juga perlu pendampingan yang lebih dari sekedar belajar online,” katanya.

Selain itu lanjut Yenri, pembelajaran home visit ini juga permintaan dari wali murid. Menurutnya, mereka (wali murid-red) mengaku kesulitan untuk menyampaikan materi-materi tertentu kepada anak-anaknya, serta pembelajaran melalui online dinilai kurang efektif.

Namun demikian lanjut Yenri, saat KBM dilaksanakan secara bergilir disalah satu rumah siswa. Ia juga memberikan aturan yang tegas kepada anak didiknya, yakni mereka harus menerapkan protokol kesehatan seperti mewajibkan mandi, memakai baju yang bersih, mencuci tangan sebelum masuk ke rumah, saling jaga jarak, dan memakai masker.

Baca Juga  799 Personil Gabungan Diturunkan Amankan Idul Adha

“Dari 24 siswa yang ada, mereka dibagi menjadi 4 kelompok,” katanya.

Yenri menjelaskan, masing-masing kelompok yang berisi 6 siswa tersebut akan bertatap muka selama 1,5 jam di hari Senin-Rabu untuk kelompok A dan B, serta hari Selasa-Kamis untuk kelompok C dan D. Sesi pertama dilaksanakan pukul 07.00 WIB hingga pukul 08.30 WIB, sesi kedua pukul 08.30 WIB hingga pukul 10.00 WIB.

“Setelah pukul 10.00 WIB saya kembali ke sekolah, mengoreksi dan mengevaluasi lembar jawaban mereka,” terangnya.

Sedangkan untuk materi yang bersifat pengetahuan lanjut Yenri, ia memanfaatkan aplikasi youtube yang bisa dilakukan secara online.

Disinggung bagaimanakah antusias murid ketika mengikuti pembelajaran kelompok ini, Yenri mengungkapkan bahwa mereka cukup antusias. Bahkan, pernah ada murid yang datang dengan memakai seragam sekolah.

“Pernah ada yang pakai seragam dan sepatu, tapi saya suruh pulang lagi untuk ganti baju, nanti dikira sekolah sudah masuk,” candanya.

Sementara itu salah satu wali murid yakni Muasifah (58) mengaku sangat setuju dengan metode home visit seperti. Pasalnya, meskipun cucunya ini rajin mengerjakan tugas online, tetapi ia tidak bisa memantaunya karena gagap teknologi.

Baca Juga  Patut Ditiru, Lima Warga Desa Srikaton Ini Bantu Polisi Tangkap Bandar Narkoba

“Kami hanya tinggal berdua dengan cucu saya ini, saya juga tidak terlalu paham tentang ponsel,” ungkapnya.

Terpisah, Muhammad Qifton yang ikut dalam pembelajaran tersebut berharap ia bisa kembali masuk ke sekolah. Ia mengaku rindu dengan situasi sekolah seperti memakai seragam, berseoatu, bermain dengan teman dan sebagainya.

“Semoga pandemi segera usai, dan sekolah kembali masuk seperti biasa,” pungkasnya. (yp)

News Feed