oleh

Hampir 60 Hari Berkiprah, Ini Prestasi Kapolres Tulungagung

Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia

Tulungagung, (afederasi.com) – Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia yang baru memimpin Korps Baju Cokelat kurang dari 60 hari.  Namun demikian, sederet prestasi membanggakan terus diukir pria asal Medan ini.

Selain banyak mengungkap kasus kriminal yang masuk katogeri atensi ataupun yang bukan, pencetus jargon “Tulungagung Astuti” ini terus berinovasi dalam meningkatkan pelayanan dan pendekatan kepada masyarakat.

Terbaru, institusi yang dipimpinnya itu terpilih menjadi Kepolisian Resor (Polres) yang dinilai memberikan pelayanan publik dengan nilai baik (B), yakni dalam kategori pelayanan prima pengurusan Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).

Penghargaan diberikan langsung oleh perwakilan dari Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (PANRB) pada Rabu (20/11/2019) di Holiday Inn Jakarta. Acara tersebut juga dihadiri oleh MenPAN-RB Tjahyo Kumolo, sejumlah pejabat dari Mabes Polri, Kapolda dan para Kapolres yang masuk nominasi penilaian pelayanan terbaik serta para Kasat Lantas dan Kasat Intelkam.

Adapun indikator penilaiannya, persilangan antara aspek dan prinsip, serta angka indeks yang dihasilkan merupakan komposisi dari berbagai data, baik data primer, sekunder dan data obyektif maupun persepsi.

Baca Juga  Curi Harta Teman Kencan, Wanita Ini Dipolisikan
Polres Tulungagung Raih Penghargaan “Baik” dari MenPan RB Kategori Pelayanan Prima

Atas prestasi ini, Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia, mengaku sangat bersyukur dan bangga atas prestasi gemilang yang diraih Polres Tulungagung. Menurutnya, prestasi ini merupakan buah kerja keras dari seluruh personel Polres Tulungagung yang memiliki komitmen dan integritas tinggi. Tujuannya, yakni untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Semoga prestasi ini menjadikan semangat kami untuk meningkatkan capaian dengan target pelayanan prima dengan nilai (A),”paparnya..

Sementara itu berdasarkan catatan pewarta, AKBP Eva Guna Pandia mulai berdinas di Kota Cethe ini sejak 27 September yang lalu. Ia menggantikan pendahulunya yakni AKBP Tofik Sukendar.

Pasca sertijab, seabrek pekerjaan rumah telah menantinya termasuk kasus yang menjadi atensi pimpinan yakni pembunuhan pasangan suami istri (pasutri) di Desa/Kecamatan Campurdarat dan pembalakan kayu Sonokeling. Selain itu, kasus peredaran miras, narkoba, pidana umum, hingga pelayanan perempuan dan anak siap sudah mengantri dibelakangnya.

Bahkan, suhu politik ditingkat bawah imbas dari pesta demokrasi lima tahunan juga masih terasa. Ditambah lagi, konflik horizontal yang terjadi hampir setiap tahun di wilayah Tulungagung selatan.

Baca Juga  Ternyata Senjata Ini Yang Digunakan Oleh Anggota Resmob Polres Tulungagung Untuk Latihan

Melihat fenomena-fenomana di Tulungagung yang unik, akhirnya Pandia mencetuskan program Tulungagung Astuti (Agunge Sikap Tulung-Tinulung). Harapannya, meski penduduk Tulungagung beragam namun tetap saling tolong menolong dan saling menghargai sesama.

Pelan tapi pasti kehadiran polisi dengan program Tulungagung Astuti ini ternyata dirasakan oleh masyarakat bawah. Sebab, setiap Bhabinkamtibmas (BKTM) diwajibkan setiap hari melakukan door to door di masyarakat. Praktis, fungsi BKTM kembali menjadi pusat konsultasi, informasi, dan sosialisasi.

Tak hanya kebawah, Pandia juga merangkul instansi samping seperti Forpimda, LSM, Media, Pegiat Media Sosial, dan berbagai organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Tujuannya, untuk menyeragamkan visi misi Tulungagung Astuti.

Berikut beberapa upaya AKBP Eva Guna Pandia selama 60 hari bertugas di Kota Marmer ;

29 September, berhasil mengungkap empat pelaku pengeroyokan, dimana salah satu pelaku masih dibawah umur. Ternyata, kasus ini disetting oleh salah satu pelaku.

30 September, mengungkap pelaku penggadai mobil rentalan.

4 Oktober, jalin silaturahmi dengan TNI dengan merayakan HUT TNI di Makodim.

Baca Juga  Ditinggal Istri Jadi TKI, Pedagang Sapi Cabuli ABG

10 Oktober, berhasil meringkus pelaku tabrak lari.

15 Oktober, mengungkap kasus pembalakan kayu Sono Keling. Dimana dua pelaku saat ini menjalani hukuman di Lapas Trenggalek. (Atensi)

17 Oktober, Polres Tulungagung bekerja sama dengan RS Bhayangkara menggelar operasi katarak gratis.

17 Oktober, mengungkap kasus penganiayaan terhadap anggota Banser. Kasus ini juga sempat menjadi perhatian publik Kota Marmer, dimana polisi terus didesak agar segera mengungkap pelakunya. (Atensi).

18 Oktober, mengungkap kasus penganiayaan hingga menyebabkan kematian Kucing Anggora. Saat ini kasus masih berlanjut.

19 Oktober, mengundang banyak pihak untuk mencari solusi konflik horizontal di wilayah Tulungagung Selatan. Akhirnya terbentuklah paguyuban perguruan silat di setiap kecamatan.

23 Oktober, memberikan santunan kepada korban kerusuhan Wamena asal Tulungagung.

29 Oktober, mengungkap kasus pencabulan dan persetubuhan.

31 Oktober, wajibkan anggota Babhinkamtibmas untuk melakukan door to door system minimal 5 kali dalam sehari. Bisa ke rumah warga atau ke fasilitas umum.

1 November, ungkap kasus pembunuhan pasutri di Desa/Kecamatan Campurdarat. (Atensi).

3 November, ungkap jaringan pencuri spesialis di swalayan.

4 November, amankan empat elaku persetubuhan dengan korban dua anak dibawah umur.

4 November. Libatkan pemuda-pemudi dalam memperingati hari sumpah pemuda melalui lomba Vlog.

5 November, pemberian reward bagi anggota yang berhasil mengungkap kasus pembunuhan pasutri Campurdarat.

11 November, peresmian gedung poliklinik baru dan gudang logistik.

Selain itu masih banyak juga kasus peredaran narkoba dan miras yang berhasil diungkap oleh petugas. (ra/an)

vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed