oleh

Sehat Mental, Perlukah?

Oleh : Muthia Maharani (Psikolog Biro Antara)

Bulan Oktober yang lalu diperingati sebagai hari kesehatan mental sedunia. Banyak para pakar, praktisi dan ilmuwan psikologi yang mengkampanyekan tentang kesehatan mental, baik melalui webinar, poster maupun pemberian info grafis.

Kalau ditelaah lebih lanjut, sehat mental itu apa? Apa bedanya dengan kesehatan fisik?

Kita telah banyak tahu tentang kesehatan fisik, penyakit yang menyerang fisik serta bagaimana pengobatannya. Namun, tentang kesehatan mental, bagaimana kita bisa mengetahuinya lebih jauh? Bagaimanakah orang yang sehat mental itu?

Manusia terdiri dari fisik dan mental. Secara fisik, mudah diamati dari wujudnya, kondisi sehat ketika fisik dapat melakukan fungsinya dengan baik tanpa kendala dan apabila sakit individu cepat menyadari adanya perubahan dari fisiknya.  Lalu, bagaimanakah tentang sehat mental?

Kesehatan mental sendiri menurut WHO, merupakan kondisi kesejahteraan diri dimana individu bisa mewujudkan potensi diri. Kesehatan mental ini bersifat pribadi dan individual.

Lebih lanjut, kesehatan mental mencakup cara individu dalam berpikir, merasa dan bertindak. Terkadang, banyak orang berpikir bahwa kesehatan mental identik dengan gangguan kejiwaan, seperti depresi, skizofrenia, dan jenis gangguan kejiwaan yang lain.

Baca Juga  Ini Tips Menjaga Kesehatan Jiwa di Tengah Pandemi Covid–19

Padahal, hal tersebut merupakan kondisi seseorang dimana gejala psikologis muncul karena kondisi tertentu yang dialami individu.

Kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak hal, baik faktor eksternal seperti tekanan dari lingkungan, pekerjaan, sosial, budaya. Maupun juga faktor internal seperti cara berfikir, motivasi, gaya hidup, genetik dsb.

Namun dengan berbagai pengaruh tersebut, bagaimana individu berusaha tetap berpikir, merasa, bertindak dengan maksimal dan sejahtera, merupakan upaya penting bagi setiap individu menjaga kesehatan mentalnya.

Kesehatan mental sendiri juga berhubungan dengan kondisi fisik, dalam sebuah contoh ketika seseorang ketakutan berlebihan terhadap sesuatu, maka otak akan memberikan respon pada tubuh untuk mempercepat sistem metabolisme sehingga individu tersebut jadi lebih sering buang air.

News Feed