oleh

Respon Fenomena Dakwah Kekinian

Coretan seorang Fathurrahman Jr. yang fakir terhadap Ilmu:

Seorang da’i merupakan seorang mediator, orator, promotor, bukan provokator atau juga bukan seorang koruptor. Mereka pelopor kemajuan, kompetitor menuju kedamaian, dan juga proklamator persatuan untuk agama serta negara Indonesia hingga dunia.

Menyampaikan pesan agama tidak melulu harus dengan retorika lucu-lucuan, namun juga substansi yang terkandung di dalamnya yakni penguatan akidah, serta mengajak dari perilaku negatif menuju positif. Bukan menimbulkan kegaduhan, bahkan melakukan sikap arogansi ekspresi beragama yang berlebihan, hingga melupakan kepentingan orang lain. Dakwah adalah sesuatu yang wajib ‘ain, juga bisa fardlu kifayah. Wajib ketika orang-orang tidak lagi peduli dengan agamanya, dan kifayah ketika sekeliling nya melakukan seruan menuju jalan Allah SWT.

Seorang mubaligh, ulama, zuama, dan cendekiawan muslim adalah elemen yang berperan dalam memberikan pengayoman kepada umat, serta mitra dan memberikan masukan kepada pemerintah dengan cara yang baik. Jika seorang ulama menjelaskan kepada umat dengan penuh rasa kebencian, maka akan muncul dari diri seorang umat adalah kebencian, jika ulama menjelaskan kepada umat dengan hati yang ridha dan ikhlas, akan terpancar cahaya rembulan yang menentramkan jiwa.

Baca Juga  Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Seluruh Dunia

Mabuk agama tanpa memahami ilmu agama adalah kutub kesombongan dari prilaku manusia. Semua agama mengakui hukum universal yakni tidak membuat kegaduhan, tidak saling mencaci, tidak saling menghina, tetap menjaga kebersihan, menjalankan amanah ketertiban umum, dan banyak hukum universal positif yang tentu berlaku pada semua agama.

Syeikh Ali Mahfudz menjelaskan bahwa Islam sebagai agama dakwah yang mengajak kepada jalan kebenaran, dengan mengedepankan aspek penghormatan kepada mereka yang belum memahami agama Islam (non muslim), dan mereka yang masih lemah memahami ilmu agama Islam (muslim awam).

Ulama tidak hanya fokus pada persoalan nahi mungkar, namun juga pada aspek amr-ma’ruf. Yakni memberikan tauladan yang baik kepada umat. Etika dakwah yang disebutkan dalam Al-Qur’an sudah banyak di elaborasi dalam nilai-nilai sosial yang agung, seperti menyampaikan dakwah dengan ucapan yang mulia (qaulan kari_ma), menyampaikan pesan dakwah dengan ucapan yang lemah lembut (qaulan layyinan), dan banyak istilah lainnya yang dapat dijadikan manhajul fikr dan manhajul harakah seorang mubaligh/da’i dalam melakukan dakwah.

Baca Juga  Kurang Pengetahuan Adalah Formulasi Mematikan Saat Tsunami

Seorang da’i tidak boleh dalam ceramahnya berkaitan dengan penghinaan, pelecehan, hujatan, cacian, membuka aib orang lain, teror, dendam, intimidasi, hingga tidak sekali-sekali merasa bahwa dirinya lah paling benar dihadapan Allah SWT. Karena mengapa? Arogansi dengan sikap merasa paling benar dihadapan Allah SWT atas orang lain adalah sesuatu yang melanggar rahasia Allah SWT. Dunia terus mengalami perubahan, bisa jadi orang yang dijelaskan ketika kau dakwah adalah seorang pilihan Allah di akhirat kelak, dan juga bisa jadi orang yang kau ceramahi itu lebih dahulu mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW.

Wallahu a’lamu Bisshawab…

News Feed