oleh

Puasa dan Toleransi: Menjawab Hinaan dengan “Salam”

*Oleh : Ust. Dr. Agus Zaenul Fitri, M.Pd

Puasa secara harfi memiliki makna alimsak (menahan) dari rasa lapar dan dahaga, namun secara substantif puasa berarti menahan diri dari hawa nafsu, sebab nafsu mengarahkan manusia kepada keburukan (kemaksiatan) kecuali nafsu yang dir ahmati. Hal ini tergambar dalam firman Allah swt: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. (QS. Yusuf: 53). Ramadhan kali ini banyak umat Islam merasa marah karena adanya kasus penghinaan dan penistaan agama yang dilakukan oleh Jozeph Paul Zhang. Ia secara secara terang-terangan telah menghina nabi Muhammad saw, dan bahkan juga mengaku sebagai nabi ke-26 (sumber: youtube.com). Cara ini sengaja ia lakukan untuk memancing umat Islam dan juga ingin membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama pemarah dan suka kekerasan.

            Umat Islam tidak boleh terpancing hingga melakukan kekerasan baik secara verbal (umpatan, cacian dan hinaan) hingga kekerasan secara fisik kepada penista agama (Kristen), sebab ini merupakan ujian sekaligus mengukur bagaimana implementasi dari puasa sebagai upaya menahan diri dari amarah. Tentu proses hukum harus tetap dijalankan sebagai negara konstitusi. Emosi yang menghasilkan cacian, makian, hinaan, dan atau sumpah serapah justru tidak akan membuat non-muslim tertarik terhadap Islam, namun akhlak yang baiklah yang akan mampu menujukkan nilai sejati dari indahnya ajaran Islam. Islam memberikan petunjuk bahwa apabila orang-orang bodoh menghina hendaklah kita mengucapkan kata salam. Sebagaimana firman Allah swt: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam,” (Al-Furqan: 63)

Sejatinya Islam mengatur segala sendi kehidupan, termasuk larangan mencaci, mengolok, menghina atau menjelekkan sesembahan penganut agama lain. Karena begitu pentingnya, Allah swt pun mengatur hal ini. Sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Qs al-An’am: 108). Di sinilah sebenarnya tujuan dari didirikannya bangsa ini, Nusantara yang mampu menampung segala perbedaan menjadi satu untuk menjalin persatuan dan rasa saling menghargai satu sama lain dari sisi privatnya masing-masing. Disitulah akan tumbuh sebuah kesadaran bahwa kehidupan bangsa ini tidak hanya melulu mengenai perbedaan saja, akan tetapi mengenai keindahan perbedaan tersebut sehingga perbedaan yang ada di dalam diri bangsa ini bukanlah hal yang harus terus menerus dipertentangkan, sebab perbedaan jika disikapi dengan arif dan bijaksana adalah rahmat.

            Islam merupakan agama Rahmat, artinya Islam adalah agama yang dapat memberikan kerahmatan bagi semua makhluk dan alam, tidak hanya bagi individu dan sosial saja, tetapi bagi micro-cosmos dan macro-cosmos, bahkan kerahmatan Islam itu bagi seluruh jagad raya ini (QS. Al-Anbiya: 107). Islam dikenal sebagai agama yang cinta damai. Oleh sebab itu, setiap muslim mesti mencintai suasana damai, menolak kekerasan dan kekacauan. Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah swt adalah agama Islam (damai), yang menyerahkan diri kepada Tuhan (lihat QS. Ali Imron: 19). Karena Islam agama yang rahmat untuk semua, maka segala bentuk ketimpangan dan kerusakan di alam ini harus dihindarkan, termasuk kerusakan di darat, laut dan udara yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia (lihat QS. Al-Qashah: 77). Dalam ayat tersebut tersirat tiga dimensi ajaran Islam, yaitu: dimensi Profan-Eskatologis, Antroposentris, dan Kosmosentris. Hal ini diakui oleh seorang orientalis Barat HAR Gibb yang mengatakan: “Islam is indeed much more than system of theology, its complete of civilization”.

            Perilaku yang pernah ditunjukkan Nabi Muhammad saw yakni ketika menolong 60 suku Najran di Madinah, sebagian mereka menginap di masjid Nabawi dan sebagian lainnya di rumah para sahabat. Toleransi antara Islam, Yahudi dan Kristen juga dibuktikan dalam ikatan piagam Madinah (Mitsaq Madinah), dengan semangat untuk saling menjadi dan melindungi dari gangguan musuh luar. Selain itu, nabi Muhammad saw dikenal sebagai sosok yang sangat santun dan pemaaf. Beliau pernah membebaskan tawanan yang telah berbuat kasar kepadanya. Puasa Ramadhan hendaknya menjadi titik tolak bagi kita untuk melatih mengendalikan diri, empati, dan memahami perasaan orang lain serta meneladani apa yang telah dilakukan rasul saw, karena seluruh perbuatan manusia bertumpu pada hawa nafsunya. Ketika seseorang marah, melakukan kekerasan dan Tindakan keji lainnya sesungguhnya ia sedang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Puasa adalah pendidikan dan kawah candradimuka untuk pengendalian hawa nafsu.

            Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan sikap toleransi kepada sesama, belajar menahan amarah, berkata yang tidak benar (hoax), menyebarkan isu atau gosip dan nafsu-nafsu insaniyah lainnya. Ketika ibadah puasa benar-benar dijalankan dengan benar oleh umat muslim, maka akan nampak keindahan Islam itu sendiri. Namun, kadang ada beberapa berilaku baik muslim maupun non-muslim yang membuat pernyataan yang menurut hemat penulis kurang bijaksana dan kurang produktif, misalnya: “hormati orang-orang yang tidak berpuasa”. Dalam prinsip beragama sesungguhnya yang harus dihormati adalah “tamu”. “Ramadhan adalah tamunya”, maka bulan Ramadhanlah yang perlu dihormati sehingga setiap muslim melaksanakan ibadah puasa. Marilah kita belajar untuk mengimplementasikan nilai toleransi itu dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara atas dasar cinta terhadap nilai dan ajaran agama Islam. (Wallahu a’lamu bishsowab).

*Penulis Wakil Ketua ISNU Kab Tulungagung dan Ketua Program Studi Magister (S2) PAI IAIN Tulungagung

News Feed