oleh

Peran Media bukan Perang Media

*Oleh : Arifin Nurdiansyah, Wartawan afederasi.com

MASIH melekat diingatan masyarakat Indonesia bagaimana peran media massa kala menyajikan hasil quick count atau hitung cepat, saat Negara ini melaksanakan pesta demokrasi Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 silam.

Ada dua kandidat calon, Joko Widodo – Jusuf Kalla dan rivalnya Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Dari keduanya, ada beberapa media televisi berkaliber Nasional yang menyiarkan hitung cepat ini, dengan hasil sama-sama menyatakan menang.

Namun tak elok rasanya jika menyebut merek televisi, yang jelas dari sajian Quick Count yang demikian, justru stigma yang terbangun menjatuhkan kepercayaan terhadap dunia pemberitaaan. Lantaran kedua kandidat menyatakan sama-sama menang, dan sama-sama menggelar sujud syukur atas kemenangan.

Ini gambaran, ini sebuah keniscayaan yang bisa dibuktikan, bahwa peran media sangat penting menjelama sebagai peta keadaan. Dimana menang mengaku menang, bahkan kalah bisa mengaku menang. Hancur reputasi media saat itu, yang tertanam dibenak masyarakat, jika saat itu peran media bukan menyajikan kenyataan namun atas pesanan.

Baca Juga  Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama Tutup Usia

Situasi dan kondisi seperti inilah yang tidak boleh terjadi di Situbondo pasca Pemilihan kepala daerah (Pilkada), dimana peran media harus sesuai dengan pesanan kekuasaan, atau sebaliknya media berperan untuk menjatuhkan kekuasaan. Jika mau disebut, keduanya sama-sama bukan sebuah kebaikan.

Jadilah Kemanusiaan yang adil dan beradab, sesuai sila ke 2 (dua) dasar negara kita Pancasila yang harus menjadi landasan dasar pemikiran, untuk mulai ‘menyerang’ melalui tulisan. Menyerang ? Bukan menjadikan Pemerintah sebagai musuh kepentingan, melainkan mendukung untuk kemajuan.

Objektif memberitakan sudah pasti itu tuntutan, namun yang terpenting adalah objektif dalam bersikap. Kritikan wajib disampaikan, namun jika ada keberhasilan pujian juga wajib diterima Pemerintah. Tidak baik rasanya jika tulisan wartawan harus menyesuaikan isi pesanan, hanya karena pemimpin yang emmoh kritakan, tidak mau sindiran. Jadikanlah kritik itu sebuah cambuk menuju kesuksesan.

Kini yang terjadi benar-benar diluar ekspektasi, harapan berjargon perubahan malah menjadi kemunduran. Bukan mundurnya pembangunan, namun tentang kepercayaan Pemerintah kepada media massa. Ingat, peran pemberitaan cukup mendominasi untuk mewarnai jalannya demokrasi di Situbondo selama ini.

Baca Juga  Ketua DPD RI: Wartawan Tingkatkan Kompetensi dan Terdepan Lawan Hoax

Beberapa kasus dugaan korupsi misalnya, diantaranya berhasil diungkap tak lepas dari peran media. Sebut saja dugaan korupsi Kasda di Situbondo era Bupati Ismunarso, kala itu wartawanlah yang menemukan adanya laporan polisi, terkait raibnya Kas daerah sebesar Rp 45 miliar. Hingga akhirnya kasus tersebut diambil alih lembaga anti rasua KPK.

Media massa harus bisa berperan menjunjung etika pemberitaan, bukan berperang melawan kritikan. Silahkan mengawal keberhasilan, namun jangan lupa melakukan teguran. Haruskah peran media berubah menjadi perang media.*

News Feed