Jumat, 15 Oktober 2021, 13:21 WIB

Pandemi dan Wajah Pendidikan Indonesia

Tantangan era pandemi yang sudah memasuki 2 tahun lamanya memberikan efek yang besar terhadap semua sektor, baik sektor sosial, budaya, ekonomi, maupun pendidikan. Ada beberapa dampak yang dihasilkan, baik positif, maupun negative. Positifnya adalah kecenderungan masyarakat yang awalnya hanya dikerjakan serba manual edition, tatap muka, dan di era pandemic masyarakat kita terutama yang pedesaan sudah mulai melek dengan kemajuan teknologi internet. Selama 2 tahun pandemic tidak ada bedanya masyarakat perkotaan dengan pedesaan. Sekarang semua orang bisa mengikut agenda bertarap Nasional, bahkan Internasional dengan mudah, hanya dengan modal kuota, wi-fi tetangga, wi-fi gratis kedai kopi, kita sudah bisa bergabung. Bahkan dalam proses kegiatan tersebut tidak ada unsur pembatasan, yang masih SMP, SMA, dan anak kuliahan pun bisa mengikuti agendanya secara bersama dalam agenda daring tersebut. Artinya ada semacam perkembangan peradaban yang humanis, tanpa ada unsur dikotomi apapun. Pandemi juga memiliki dampak positif terhadap cara pandang masyarakat yang awalnya menganggap bahwa mimpi mereka hanya sebatas lokalitas, terbatas, stagnan, menuju habitual activities terbuka wawasan luas. Inilah yang kita sebut sebagai aposteriori yakni pengetahuan yang kita dapatkan dari pengalaman secara langsung, dan juga inilah bagian dari apriori yakni pengetahuan yang didapatkan tanpa pengalaman, tapi melalui sumbangan pemikiran, gagasan, antara kita dengan orang lain. Maka disinilah berlaku adagium, atau pepatah yang mengatakan “Bisa Karena Terbiasa!”

Baca Juga  Panti Pijat, Refleksi dan Spa Boleh Dibuka, Berikut Persyaratannya

Secara realita sosial tentu masyarakat banyak mengeluh, dan jenuh tanpa memperhatikan ada dampak yang tak disadari terhadap perubahan pola hidupnya. Anak-anak generasi kita yang merupakan calon pemimpin di masa depan sejak dini sudah mengenal kemajuan, serta kecanggihan teknologi informasi. Kita bisa bayangkan dari peralihan era disrupsi 4.0 menuju 5.0 yang kita sebut sebagai masyarakat media, tentu 20 atau 50 tahun kedepan manusia sudah memiliki peradaban teknologi semakin canggih, dan artinya dengan adanya pandemi ini kita bisa ambil sebagai ibrah (pelajaran) yang lebih positif untuk mempersiapkan generasi kita yang melek teknologi sejak dini. Inilah bagian dari cara menggapai cita-cita anak generasi kita menyongsong kemajuan teknologi informasi Dunia. Namun perlu difahami bahwa dalam kajian yang ditulis oleh Sri Ana Handayani dengan judul “Humaniora dan Era Disrupsi Teknologi” tahun 2020 lalu mengatakan bahwa perkembangan teknologi perlu disikapi dengan hati-hati, karena teknologi memiliki dua sisi yang saling bertentangan, di satu sisi teknologi sebagai sahabat manusia, di sisi lain teknologi dapat menghancurkan manusia. Oleh karenanya tergantung siapa yang memainkan, jika orang baik mengajarkan dengan cara yang baik, menggunakannya dengan jalan yang bermanfaat, disitulah akan lahir generasi yang yang kita sebut sebagai manusia unggul. Jika sebaliknya, mengajarkannya untuk sesuatu yang merugikan diri, orang lain, agama, dan bangsa, maka tunggu kehancuran.

Baca Juga  Machfud Arifin : Tak Butuh Lama Tuntaskan Pilwali dengan Kemenangan Mutlak

Bahasa yang disampaikan Khasali tahun 2017 dalam bukunya yang berjudul “Disruption: Tak Ada yang Tidak Bisa Diubah sebelum Dihadapi Motivasi Saja Tidak Cukup”, yaitu gelombang teknologi 4.0 dalam era revolusi teknologi, manusia telah berinteraksi tanpa jarak dalam ruang dan waktu. Disrupsi mengakibatkan adanya perubahan yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Disrupsi dan pandemi bisa kita menyebutnya sebagai dua peradaban yang saling berkaitan. Sisi kedua dalam melihat dampak pandemi adalah berdampak negatif. Dampak negative selama masa pandemic terhadap ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, akhlak generasi kita tentu semakin memperihatinkan. Banyaknya PHK akibat pandemi disaat berlakunya Lock down, hingga PPKM membuat pengangguran kita semakin meningkat, meski dengan beragam program pemerintah yang sudah hampir ratusan atau bahkan ribuan triliun untuk memberikan bantuan sosial kepada masyarakat, pelatihan keterampilan, bantuan usaha, dan lain-lain. Termasuk yang khusus kita sorot soal bagaiamana wajah pendidikan kita di era pandemi hingga saat ini masih terus menjadi hantu malam yang mengerikan, tak kunjung menemukan jalan terang. Berlakunya online school tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pengembangan moral, dan mental akhlak kepada siswa. Belum lagi persoalan terhadap kawasan pedesaan yang jauh dari kemajuan internet, tidak ada sinyal, hingga biaya untuk membeli smartphone yang tak ada.  Sejak dari awal memang ikhtiar yang luar biasa, dan patut kita apresiasi atas kerja keras Bapak Presiden RI Ir. H. Joko Widodo untuk pemerataan infrastruktur akses jalan darat (tol), dan jalan udara (sinya internet) yang hingga sampai saat ini terus dibenahi. Jika tidak demikian maka ketakutan besar tentang education death akan di depan mata. Oleh karenya penting kiranya masyarakat dan pemerintah terus saling bahu membahu, terkoneksi satu sama lain dengan visi Indonesia bebas dari penularan covid-19, dan menyongsong Era Normal Baru.

Baca Juga  Pemprov Jatim Beberkan Rencana Peningkatan Kualitas Lulusan SMK

News Feed