oleh

Nasib Petani Jagung NTB di Tengah Covid-19

Oleh Suaeb Qury *

Apa mau dikata memang nasib dan kondisilah yang membuat petani jangung di Nusa Tenggara Barat bisa merana dan menanggung  beban merugi. Belum lagi kondisi Covid-19 yang belum bisa memastikan aktivitas para petani bisa menjajal hasil panen kepada para tengkuluk.  Jauh dari harapan dan impian para petani,  bahwa dengan kondisi pendemi covid 19 bisa mengurangi beban pengeluaran selama masa tanam. Dan apa hendak dikata harga ternyata anjlok juga.

Menjadi wajarlah kemarahan para petani jagung di pulau Sumbwa dengan aksi protes atas harga jagung yang turun drastis dan dibawah harga yang telah di tetapkan oleh Kementerian Perdagangan.

Membayangkan nasip petani jagung, jika datang waktu beruntungnya dengan harga yang bagus, itulah kebahagiaan yang istimewah bagi para petani. Tapi itu terjadi dalam kondisi tertentu dan berdasarkan harga pasar yang diatur oleh para pengusaha.Tapi apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir masa panen, bagi para petani jagung mengalami kegagalan dari cuaca dan harga yang diakibatkan oleh kondisi Covid-19.

Kondisi sekarang dengan beberapa tahun yang lalu harga jagung perkilo hanya 2900-3000 rupiah, sementara Permendag menetapkan HPP minimal Rp 3.150 perkilo, tapi itupun para petani tetap bertahan. Mengapa tidak,  sebab kalau tidak bertani jagung mau kerja apa lagi bagi para petani.

Nasip seperti ini selalu datang bagi para petani jangung di pulau Sumbwa, sudah menanggung beban hutang kepada para pengepul, rentenir dan pengusa jagung.  Dari pinjaman obat-obatan,  bibit  dan biaya selama 6 bulan menunggu hasil panen. Bisa dibayangkan berapa sudah yang harus bayar. Ini menjadi duri dan proplem yang selama ini dialami oleh para petani dan kehadiran pemerintah harus menjadi solusi bagi para petani jagung, tapi apa hendak dikata. Semuannya hanya bisa menjawab inilah kondisi dan problem petani. Dan apa lagi ditengah Covid-19juga menjadi alasan mendasar.

Tentu bagi pemerintah daerah harus juga belajar dari beberapa daerah di Indonesia yang hari ini mampu mengendalikan harga produk pertanian (HPP) yang mayoritas masyarakatnya bertani jagung. Kilas balik dari puluhan tahun masyarakat NTB bertani jangung, tentu bukan lagi menjadi alternatif mata pencaharian,. Namun, sudah menjadi  pekerjaan unggulan dalam sektor pertanian.  Kita tentu masih ingat di era kepemimpinan TGB dua periode sektor unggulan yang disebut dengan Pijar merupakan sektor primadona dan menjadikan NTB sebagai lumbung pijar(jagung) yang menurunkan angka kemiskinan dan NTB juga masuk dalam kategori progres pertumbuhan ekonomi diatas Nasional yakni 7 persen. Pencapain maksimal yang ditorehkan oleh TGB dalam memaksimalkan sektor unggulan, tentu menjadi modal untuk kembali mebghidupkan kegairahan ekonomi walau ditengah Covid-19.

Menggerakkan dan mengembalikan kejaaan petani jagung di NTB, bukan pekerjaan muda, walau hari ini di era kepemimpinan Dr. Zul  dengan istilah industriliasisasi. Namun, tidak beloh juga melupakan  komoditas yang tidak kalah penting yaitu jagung.

Berdasarkan data dari Kementrian Pertanian, produksi jagung nasional di tahun 2018 mengalami surplus. Tidak heran jika jagung tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Filipina. Selama 5 tahun terakhir ini terjadi peningkatan rata – rata sekitar 12,49 persen per tahun yang artinya di tahun 2018 produksi jagung mencapai angka 30 juta ton jagung pipilan kering (PK) dengan luas panen per tahun yang juga mengalami peningkatan sekitar 11,06 persen dan rata – rata produktivitas meningkat sebesar 1,42 persen. Untuk masa panen jagung di tiap daerah di Indonesia cukup beragam yakni untuk Indonesia Barat terjadi pada bulan Januari hingga Maret, sedangkan untuk wilayah Indonesia Timur masa panen terjadi pada bulan April sampai dengan Mei.

Hari ini di  Nusa Tenggara Barat harga jagung  anjlok. Pada hal NTB menjadi provinsi ketiga yang melakukan ekspor jagung ke Filipina dengan jumlah 11.500 ton, padahal target sebelumnya hanya sekitar 100.000 ton. Meskipun begitu produksi jagung di Provinsi Nusa Tenggar.

*Penulis adalah Ketua LTNNU NTB

News Feed