oleh

Merdeka Belajar dan Jenuh Sekolah Daring

Oleh Muhibuddin*

Seharusnya, siswa kekinian enjoy dalam menjalani sekolah daring. Pasalnya, sebagai generasi zaman now, mereka sudah akrab banget dengan teknologi gawai yang dijadikan basis pengembangan moda pembelajaran jarak jauh.  Dengan demikian, ketika semua aktifitas belajar- mengajar dikemas secara online, itu sudah sangat klop dengan karakteristik siswa yang notabene sebagai native digital alias penduduk asli dunia digital.

Tetapi, ceritanya berbeda. Sekolah daring justru memunculkan banyak keluhan. Faktanya, di berbagai kanal media sosial, ekspresi keresahan siswa terkait sekolah daring banyak bertebaran.  Intinya, para pelajar yang kesehariannya sangat gadget minded itu merasa bosan dengan sekolah online. Mereka rindu kembali belajar secara tatap muka. Belajar dengan moda luring sebagaimana yang selama ini dijalankan di lembaga pendidikan.

Kalau kemudian siswa meresahkan sekolah daring, hal itu mengindikasikan adanya sesuatu yang tidak beres. Bisa jadi, ketidakberesan itu dipicu sarana  gadget yang kurang mendukung. Terbatasnya kepemilikan paket data internet. Model mengajar guru yang monoton dan kurang variatif dalam mendayagunakan aplikasi teknologi pembelajaran. Atau, bisa pula keresahan itu efek samping dari rentang waktu sekolah daring yang durasinya teramat panjang.

Menuju Titik Jenuh

Belum bisa diprediksi sampai kapan sekolah daring di masa Pendemi Covid-19 bakal berakhir. Semua Ini sangat tergantung pada kondisi zona Covid-19 di masing-masing wilayah. Itu berarti, kebijakan pembelajaran daring bakal terus bergulir. Ini merupakan kebijakan solutif. Ya, solusi agar anak-anak bangsa tetap bisa bersekolah di masa pandemi yang menimpa planet bumi ini.

Menyikapi keresahan menjalani sekolah daring, berbagai solusi terus digulirkan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), misalnya, merelaksasi penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk menunjang pembelajaran jarak jauh. Para guru juga saling bahu-membahu menyebarkan aneka praktik baik pembelajaran daring. Webinar maupun diklat virtual pemanfaatan teknologi digital untuk pembelajaran daring juga bertebaran. Intinya, semua lini bergerak agar sekolah daring berjalan maksimal.

Hanya saja, diakui atau tidak, sekolah daring yang rentang waktunya teramat panjang, jelas membawa efek psikologis. Apalagi jika ditambah model pembelajaran guru yang online-nya hanya sebatas pemberian instruksi-instruksi dan penyampaian tugas-tugas untuk siswa. Bukan tidak mungkin, sekolah daring di era pandemi ini, pada titik tertentu bakal memicu munculnya problem psikologis yang dinamakan learning burnout, kejenuhan belajar.

Di sisi lain, tidak adanya interaksi langsung dengan teman sekolah dalam pembelajaran daring, hal ini juga menjadi faktor penyulut terjadinya kejenuhan belajar. Ketika aktifitas sekolah digantikan dengan cara daring, tak ada lagi canda tawa antarteman layaknya di kelas luring. Tak ada lagi aktifitas njajan-njajan bareng teman di kantin sekolah. Tak bisa pula berlarian di halaman sekolah sekedar tendang-tendangan bola atau saling mengejar teman.

Aktifitas ringan yang demikian tidak mungkin didapatkan saat sekolah daring. Bagaimanapun, itu merupakan bentuk refresh yang bisa mengurangi kejenuhan belajar siswa. Namun, semua itu hilang ketika sekolah dijalankan dengan moda daring. Karena itu wajar kalau kini banyak siswa burnout mengikuti sekolah daring. Resiko dari kondisi ini pada gilirannya akan membuat siswa kehilangan minat dan motivasi dalam belajar.

Momen Ekspresi Merdeka Belajar

Hari-hari sekolah daring, sebetulnya merupakan moment yang pas untuk mengekspresikan gagasan merdeka belajar yang digulirkan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Dalam konteks kejenuhan belajar siswa, misalnya. Gagasan merdeka belajar bisa diimplementasikan secara riil dalam bentuk akitifitas edukasi untuk menyiasati dan meminimalisir munculnya kejenuhan belajar siswa.

Aktifitas edukasi yang mencerminkan merdeka belajar, antara lain, bisa dilakukan guru-guru dengan menggiring siswanya out of the track dari rutinitas belajar konten mata pelajaran. Dalam situasi pandemi Covid-19, di luar sana banyak bertebaran event-event webinar tentang pengembangan diri, pelatihan-pelatihan ketrampilan secara daring hingga aneka kompetisi online untuk siswa     yang punya obsesi berprestasi di masa pandemi.

Kemdikbud melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), misalnya, selama masa pandemi banyak bergerak menggelar aneka kompetisi untuk para pelajar di tanah air. Ada kompetisi sains nasional (KSN), kompetisi debat, karya tulis ilmiah, kreasi seni dan olah raga, jurnalistik, fotografi hingga lomba kompetensi siswa (LKS). Ada pula event kemah virtual, kompetisi Ki Hajar STEM, dan aneka kuiz-kiz pendidikan lainnya. Semua ini dihelat melalui moda daring.

Ini peluang. Ya, peluang untuk dijadikan sarana relaksasi menyiasati kejenuhan belajar daring. Hanya saja, persoalannya, terkadang guru maupun siswa tidak banyak yang respek dengan event-event semacam itu. Lazimnya, mereka beranggapan bahwa sekolah itu fokus utamanya pada penguasaan kompetensi-kompetensi dasar yang tertuang dalam kurikulum. Padahal, event-event edukasi di luar kompetensi dasar kurikulum itu sejatinya juga banyak terkait dan bersentuhan dengan konteks pembelajaran.

Disinilah perlunya guru maupun siswa mengelaborasi gagasan merdeka belajar. Bagi guru, dalam konteks ini, merdeka belajar bisa dielaborasi dengan tidak semata-mata memosisikan performance-nya sebagai guru yang oleh Rhenald Kasali (2007) disebut dengan istilah guru kurikulum. Yaitu, sosok guru yang mengajar semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Dalam posisi yang demikian, guru cenderung abai terhadap pengembangan potensi peserta didik yang sangat beragam.

Sebaliknya, sebagai implementasi dari gagasan merdeka belajar, guru seharusnya juga memosisikan dirinya sebagai sosok yang disebut Rhenald Kasali sebagai guru inspiratif. Yaitu, sosok guru yang tidak hanya mengejar tuntutan kurikulum, tetapi juga mengajak peserta didik berfikir kreatif (maximum tihinking). Di musim sekolah daring, kehadiran sosok guru inspiratif sangat dirindukan. Performance guru inspiratif berpotensi untuk meminimalisir terjadinya fenomena kejenuhan belajar.

Bagi siswa, gagasan merdeka belajar bisa dielaborasi dengan melibatkan diri dalam event pendidikan di luar  pembelajaran daring kelas online. Mindset bahwa belajar itu semata-mata hanya aktifitas di dalam kelas, itu harus digeser. Karena itu, ketika ada event pendidikan, entah itu kompetisi atau yang lain, seharusnya ini tidak disia-siakan. Ikuti sesuai dengan potensi yang dimiliki. Ini juga bagian dari kegiatan belajar. Sekaligus juga sarana relaksasi dan “pelarian” untuk menghindari kejenuhan sekolah daring.

*Penulis adalah guru MAN 2 Tulungagung

News Feed