oleh

Media Informasi Dalam Bingkai Islam Rahmatan Lil’aalamiin

Oleh. Fathurrahman Jr. (KSP Kantor NU Provinsi NTB)

Era saat ini kita perlu menyadari tanpa harus diingatkan, bahwa kemajuan teknologi informasi selalu mengalami perubahan setiap saat. Perubahan itu terjadi begitu sangat cepat, seperti melaju di jalan yang lurus/bypass. Perubahan dari yang awalnya adalah SMS, kini beralih menuju WhatsApp, perubahan dari media televisi, kini lebih mudah mengakses Youtube. Inilah yang kita maksud sebagai era disrupsi 4.0, yang dimana mampu menyajikan sesuatu dengan murah, mudah, dan dapat dijangkau oleh siapapun. Hal ini juga tentu sekali berdampak pada aktifitas dakwah oleh seorang mubaligh dalam menyampaikan pesan keagamaannya. Proses pelaksanaan dakwah semakin mudah dilakukan, dengan modal smartphone saja sudah bisa merekam dan meng-upload video yang berkaitan dengan dakwah. Tapi apakah konten-konten dakwah lebih banyak di-upload daripada konten-konten yang lain? Hal demikianlah yang menjadi perhatian kita, yakni kita ketahui bahwa konten-konten dakwah masih sangat minim dibandingkan dengan konten-konten yang lain.

Minimnya konten dakwah yang di-upload untuk mengimbangi konten-konten yang masih megandung fornoaksi, konten komedian, serta konten yang tidak ada memberikan pesan keagamaan kepada khalayak/netizen perlu diimbangi, agar kontrol kepada generasi muda kita tidak larut dalam lembah sia-sia. Dakwah merupakan kewajiban kita secara bersama, dimana hal demikian jelas diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadits nya yakni ballighu anni walau ayatan (sampaikan olehmu walaupun satu ayat/kalimat). Maksudnya tentu menyapaikan suatu kalimat yang memiliki kebermanfaatan kepada orang lain, bukan mengandung unsur penghinaan, ujaran kebencian hate speech, pelecehan, penodaan, dan intinya menyangkut pada ucapakan kalimat yang positif, yang mampu membangun gairah keimanan kepada Allah swt.

Baca Juga  Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia NTB Bakal Gelar Rakorwil

Kalau kita kaitkan dengan konteks kehidupan manusia dan para mubaligh pada saat ini, tentu tidak sedikit yang pro dan kontra terhadap cara maupun metode dakwah dari para da’i ketika dalam melakukan kegiatan dakwah. Bahkan banyak para da’i/mubaligh yang sering tampil di layar televisi, channel-channel Youtube seperti saling membalas pantun sindiran. Melihat fenomena seperti ini, maka tentu bukan menjadi hal yang harus dikatakan sebagai sesuatu yang tidak baik, namun lebih tepatnya adalah kurang baik. Diantara alasan berbalas sindiran sesama da’i nya hanya karena ingin saling meluruskan atas penjelasan-penjelasan masing-masing dengan argumentasi pemikiran masing-masing. Kendati demikian niat dan tujuan berbalas sindiran atas beberapa da’i dalam pelaksanaan dakwah nya, namun yang menjadi imbas dampak pengaruh besarnya adalah para jamaahnya mad’u nya. Boleh saja para da’i mengatakan bahwa perdebatannya terkait dengan cara dakwah nya sebagai bagian dari saling memberikan masukan dan saran, namun harus diketahui bahwa masyarakat yang simpatik kepadanya akan mengalami gejolak ditingkat bawah. Sehingga apa yang terjadi? Hilangnya substansi dakwah yang dimana bertujuan menyeru manusia ke jalan yang benar, akan berbanding terbalik hingga 75 derajat. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa seorang da’i, atau manusia pada umumnya dianjurkan untuk melakukan seruan dan ajakan kepada manusia lainnya ke jalan yang di ridhai Allah swt dengan hikmah (kebijaksanaan), mauidzah hasanah (pelajaran yang baik), dan mujadalah (diskusi yang baik).

Baca Juga  Kurang Pengetahuan Adalah Formulasi Mematikan Saat Tsunami

Q.S. An-Nahl 125:


اُدۡعُ اِلٰى سَبِيۡلِ رَبِّكَ بِالۡحِكۡمَةِ وَالۡمَوۡعِظَةِ الۡحَسَنَةِ‌ وَجَادِلۡهُمۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ‌ؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Q.S An-Nahl 125.

Kita ketahui bahwa hikmah menurut Departemen Agama meupakan perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Kemudian M. Quraish Shihab (2001) dalam karyanya Tafsir al-Mishbah, menjelaskan bahwa metode al-hikmah digunakan terhadap obyek dakwah dalam kategori cendekiawan yang memiliki pengetahuan yang tinggi. Metode al-mau`izah digunakan kepada orang awam yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan yang sederhana. Sedangkan metode al-mujâdalah digunakan untuk penganut agama lain dengan melakukan perdebatan dengan cara terbaik yaitu dengan logika dan retorika yang halus lepas dari kekerasan dan umpatan.

Oleh karenanya dakwah yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah dakwah yang mampu mendatangkan kesejukan, kedamaian, dan  berisikan penguatan untuk menjalani ujian ditengah pandemi covid-19. Menyajikan konten-konten dakwah di media televisi, channel-channel Youtube, fanspage Facebook, dan dalam dakwah secara tatap muka harus konstruktif, bukan distruktif, menyejukkan, bukan memojokkan, menginspirasi, bukan intimidasi, seruan kebaikan, bukan sindiriran saling mempermalukan. Inilah yang kita harapkan, dan substansi dakwah sebagai epistemologi pemikiran yang dapat memberikan pelajaran baik dapat tersampaikan kepada umat. Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw adalah Islam yang tidak cepat putus asa dalam setiap keadaan menyebarkan ajarannya, bukan marah-marah ketika orang lain tidak mau menerima pesannya, namun melatih seorang da’i untuk bersabar dan optimis atas segala keraguan orang lain atas ajaran agama Islam. Kalimat yang pamiliar kita dengarkan adalah Islam adalah agama yang rahmatan lil’a_lamiin (rahmat kasih sayang kepada seluruh semesta alam). Kalimat di atas merupakan motto ajaran Islam yang tidak pernah anti terhadap perbedaan pendapat, berbeda keyakinan, berbeda pendapatan, berbeda kelas jabatan, berbeda kekayaan, namun dalam situasi dan kondisi apapun Islam tetap memposisikan diri sebagai agama yang memberikan kasih dan sayang kepada segenap isi alam semesta, khusunya yang hidup di dunia ini. Sehingga dengan hal demikian Islam dapat menjadi contoh atas agama lain, dan orang berempati untuk menjadi seorang muslim, dan juga orang lain tergugah hatinya untuk memeluk agama Islam. Islam adalah agama yang memberikan keselamatan, dan keselamatan itu kita pelihara dengan menjaga ucapan kita dari hal-hal yang kotor yang dapat menyinggung hati orang lain, serta tindakan kita yang merugikan diri sendiri serta orang lain. Wallahu a’lamu Bisshawab…

News Feed