oleh

Kemajuan Teknologi dan Kekuatan Akhlak

*Oleh: Fathurrahman Jr.

Dewasa ini kemajuan teknologi informasi telah banyak membuat pergeseran-pergeseran, baik pada hal yang menyangkut dengan hubungan sosial, juga menyangkut akhlak-moral manusia. Sejak 1969 sebagai cikal bakal berkembangnya internet yang diproduksi oleh Amerika Serikat yang memang awalnya merupakan proyek dari Departemen Pertahanan Negara super power United State of Ameika. Hal demikian berkembang hingga sampai pada abad ke 21 saat ini, dimana pada abad inilah banyak terjadi perubahan terhadap polarisasi kehidupan manusia di dunia ini. Orang-orang sering menyebutnya sebagai pase millennium ke-3.

Berkembangnya alat teknologi informasi menjadikan segala sesuatu semakin mudah untuk dicapai, dimana jarak dan waktu sudah semakin tidak ada sekat lagi, baik untuk mengakses kondisi Negara satu dengan Negara yang lain. Hal inilah yang kita sebut sebagai era disrupsi,  dimana John Naisbitt dan Patricia Aburdance (1982), mengatakan bahwa pada era disrupsi akan banyak memunculkan perubahan yang ia sebut dengan istilah megatrends, diantaranya adalah perubahan dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi, ekonomi nasional menuju ekonomi dunia, pemaksaan menggunakan teknologi/high technology, dan tentu memaksakan manusia untuk secepat mungkin mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dengan kemajuan dan perubahan tersebut menjadikan siapapun harus tetap melakukan up-grade atas kemampuannya dalam melihat kemajuan teknologi informasi. Untuk masyakat perkotaan sejatinya lebih mudah dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi, karena memang setiap saat mereka  menyaksikan secara langsung perubahan yang terjadi di wilayahnya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang hidup di pedesaan, yang memang jauh dari pengaruh teknologi informasi. Sehingga memungkinkan jika masyarakat desa yang hidup menuju kota, akan mudah terkontaminasi terhadap kemajuan teknologi tanpa ada unsur penyaringan terhadap informasi yang beredar.

Baca Juga  Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia NTB Bakal Gelar Rakorwil

Kemajuan teknologi informasi ini juga sudah merambat kepada moral generasi muda saat ini, dimana kalau kita lihat data tahun 2020, tingkat penggunaan internet di Indonesia berdasarkan laporan terbaru We Are Social, pada tahun 2020 disebutkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada kenaikan 17% atau 25 juta pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan total populasi Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% setengah penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Dimana yang lebih banyak diakses adalah Youtube, Facebook, Whatsapp, Twitter, Instagram, dan game-game lainnya. Dari data di atas Indonesia berada pada pase peralihan dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi, meskipun bagaimanapun hasil yang diperoleh dari jumlah banyak pengakses tersebut.

Kita tahu bersama bahwa bonus demografi kita di Indonesia diperkirakan pada tahun 2045 akan mencapai 65%, yang dimana generasi usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan yang non produktif. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita melakukan pemberdayaan kepada 65% tersebut, untuk menyongsong era 5.0? Tentu ini menjadi masalah yang harus dipikirkan secara bersama-sama, baik pemerintah, pengelola pendidikan, baik pondok pesantren, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyakatan, ataupun lembaga sosial lainnya. Pemerintah tidak bisa untuk bersikap one man show atas tantangan ini, apalagi dalam kondisi saat ini covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Baca Juga  550 Mesin Tandai Sejarah Baru Bangkitnya Industrialisasi NTB

Maqolah yang pernah disampaikan oleh Syayyidina Ali Bin Abi Thalib, yakni “kun ibna dzamanik” jadilah anak di zamanmu! Hal demikian menjadi rambu lampu hijau kepada setiap generasi muda untuk sebisa mungkin mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman saat ini. Tentu sebagai muslim yang beriman kepada Allah swt, meyakini bahwa bekal ilmu agama Islam yang baik dapat menjadikan pribadi manusia untuk menuju jalan yang benar, begitupun untuk orang yang menganut agama lain memiliki pedoman ketuhananya dalam memfilter segala hal negatif untuk penganutnya. Kemajuan teknologi infomasi terus mengalami kemajuan, maka pendidikan akhlak dan moral harus lebih ditingkatkan, karena bagaimanapun peran akhlak dalam mengimbangi kemajuan teknologi sangatlah penting. Dengan akhlak, seorang manusia akan mampu mebedakan mana yang haq dan mana yang hoax, mana yang bathil dan mana yang real, hingga dengan demikian kontrol prilaku pada manusia akan semakin membudaya dalam dirinya.

Prof. Quraish Shihab, telah menulis bukunya “Yang Hilang Dari Kita: Akhlak”, yang dimana menjadi autokritik terhadap kondisi kehidupan kita di era saat ini, yang semua serba instan tanpa sekat karena kemajuan teknologi informasi. Sudah banyak sekali kasus yang menimpa manusia akibat tidak berakhlak nya dalam menggunakan media teknologi informasi. Sebut saja ada kasus seorang anak membunuh ayahnya karena tidak dibelikan HP Android baru, seorang anak menusuk ibunya hanya karena dibangunkan sholat, seorang ayah rela mencuri hanya untuk membelikan anaknya HP baru, dan hal demikian tidak terlepas dari pengaruh kemajuan teknologi informasi terhadap kehidupan manusia saat ini. Peran penting orang tua sebagai madrasatul ula (pendidikan pertama) terhadap akhlak dan moral anak sangat diharapkan ekstra maksimal, kemudian peran penting pondok pesantren dalam memberikan pembinaan akhlak menjadi sangat penting, peran organisasi kepemudaan juga sangat penting dalam membentuk mental-mental generasi yang bertanggung jawab atas agama dan bangsa mereka, hal demikian menjadi perhatian penting pemerintah dalam pelibatan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat ditengah kemajuan teknologi informasi saat ini. Pemerintah dengan pelayan kerja sampai tingkat bawah memiliki tanggung jawab besar untuk mencegah sikap buruk tidak terkontrolnya generasi akibat  kemajuan teknologi informasi, dan tentu harus mengajak semua elemen masyarakat yang ada tanpa ada sekat pembatasnya.

Baca Juga  Problema Klasik Pemekaran Desa

Iman dan taqwa adalah dua kunci membangun semangat untuk setia terhadap ajaran agama, yang lebih mengedepankan sikap tawazun, tasamuh, tawasshuth, dan ta’addul demi keutuhan kebhinekaan Negara Indonesia. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebagai pedang dalam megupas segala misi pengahncuran terhadap generasi muda Indonesia. Wallahu a’lamu Bisshawab..

*Penulis adalah KSP Kantor NU Provinsi NTB

News Feed