oleh

Jutaan Orang Hidup dalam Gusar

*Oleh Ermiko Effendi

Ngilu, pilu, seperti hati tersayat sembilu melihat ratusan ribu manusia di India meninggal dunia serentak, buntut dari lonjakan kasus Covid-19.

Tahun lalu India terpuruk lebih dahulu dari pada kita. Otoritas setempat menerapkan skenario lockdown lebih awal untuk menghindari penularan yang lebih parah. Skenario itu ternyata membawa India jatuh dalam ceruk penderitaan makin dalam. Peningkatan kasus tetap tak terbendung, masalah justru bertambah banyak seiring munculnya dampak ekonomi akibat lockdown.

Apa yang dialami India saat itu menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara yang cukup waktu untuk bersikap. Belajar dari itu, Pemerintah Indonesia tak mau ambil resiko lalu memilih untuk menghindari pemberlakuan lockdown. Ragam cara yang memiliki pola sama seperti itu tidak dipilih sebagai langkah pencegahan. Terlalu beresiko.

Indonesia lantas memilih memberlakukan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Meski wabah virus Covid-19 tak terelakkan paling tidak kondisi kita tidak sampai separah India saat itu.

Singkat cerita, India Kemudian bekerjasama dengan produsen vaksin Bharat Biotech. Ada dua merk vaksin yang dosisnya diproduksi di sana.

Pada Januari 2021 India meluncurkan program vaksinnya sekaligus upaya imunisasi terbesar di dunia.

Sampai pada bulan Maret mereka telah memberikan vaksin kepada lebih dari 20 juta orang tenaga kesehatan dan pekerja yang berjuang di garis depan. Lalu disusul pemberian vaksinasi kepada warga berusia di atas 60 tahun dan warga yang berusia antara 45 dan 59 tahun dengan penyakit penyerta.

Keberhasilan India memproduksi vaksin menempatkannya sebagai negara produsen vaksin terbesar. Melalui “diplomasi vaksin” India aktif menyokong kebutuhan vaksin negara-negara lain.

Program vaksinasi di dalam begeri (India) awalnya mampu menekan angka penularan covid secara significant. Bahkan lebih rendah dari Indonesia. Perlahan statistik penularan kian melandai sejak Januari hingga Februari. Hingga pada akhirnya India masuk fase Abai dan disapu Tsunami Covid-19.

Kantor berita Aljazeera mengabarkan pada 15 April infeksi Covid-19 melompat tinggi.  Di Ibu Kota India, New Delhi, Jumlah positif Covid-19 menyentuh angka 200.000 kasus perharinya. Kini ada

lebih dari 16 juta orang terpapar Corona. Stok vaksin mendadak enol. Fasilitas kesehatan lumpuh. Pasien yang mendatangi rumah sakit terpaksa harus dirawat di lorong-lorong dengan peralatan seadannya.

Kondisi semakin parah karena India akhirnya mengalami krisis oksigen. Angka kematian pun meroket hingga lebih dari 2.600 jiwa dalam sehari, pada 25 April.

Tidak jelas apa yang sebenarnya memicu terjadinya Tsunami Covid-19 itu. Beberapa pengamat meyakini, ledakan kasus positif Covid-19 dipicu oleh kesadaran masyarakat untuk melakukan protokol kesehatan mulai mengendur seiring lockdown dinonaktifkan.

Diperparah dengan adanya kampanye jelang pemilu. Berkerumun bukan menjadi hal tabu lagi. Masyarakat bahkan sempat menggelar Festival keagamaan di sungai gangga. Ribuan orang tumplek blek tanpa jarak di sana. Corona seperti tidak membuat mereka takut. Selain sudah tersedia vaksin, mereka meyakini air sungai gangga mampu menjadi sarana penyembuh segala macam penyakit.

Bom waktu akhirnya benar-benar meledak dahsyat. India mengalami kematian massal.

Mata dunia kini tertuju pada Kegaduhan yang terjadi di India. Berbagai negara mulai pasang kuda-kuda terhadap kemungkinan terjadinya Tsunami Covid-19 serupa India. Yang paling mengkhawatirkan jika  negara-negara “keep” segala sumberdaya yang dibutuhkan dalam penanganan Covid-19  untuk ketahanan dalam negeri dari pada dikirim sebagai bantuan.

Ingat tahun lalu saat wuhan diserang covid?

Masyarakat Indonesia secara spontan, atas nama kemanusiaan

membantu warga Wuhan dengan mengirimkan bantuan berupa masker dan APD (Alat Pelindung Diri) lainnya. Siapa sangka Covid-19 berikutnya menyasar Indonesia. Saat kondisi semakin parah, Indonesia yang semula membantu APD malah mengalami krisis APD. Sampai harga masker saat itu lebih mahal ketimbang logam mulia.

Kemanusiaan Selalu menemukan Jalannya.

Kantor berita CNBC mengabarkan ada sekitar 40 negara bahkan pihak swasta turun tangan membantu India berjuang melalui masa krisis ini.  Mereka mengirimkan alat produksi oksigen, ventilator, dan obat-obatan.

Tsunami Covid-19 di India menyalakan Alarm tanda bahaya Pemerintah Indonesia. Pemerintah pun Berusaha menghindari ancaman Tsunami Covid-19 dengan memberlakukan larangan Mudik Lebaran tahun ini.

Jika pemerintah Indonesia melarang kita mudik, maka bersabarlah. Memang tidak mengenakkan, jauh dari menyenangkan. Namun jika ledakan Covid-19 terjadi, itu ribuan kali lebih getir. Kita masih punya waktu untuk berjuang agar tak mengalami nasib sama seperti tetangga kita. India.

Terakhir saya ingin menyampaikan prihatin yang mendalam atas apa yang terjadi di India. Semoga mereka segera terentaskan dari cobaan yang begitu sulit itu.

Bagi sahabat yang masih menganggap berita Tsunami Covid-19 di india Hoaks, berikut adalah laporan BBC dalam  bahasa Indonesia, bertajuk “TSUNAMI COVID-19 DI INDIA.

Semoga India terlepas dari masa sulit ini.

Semoga Indonesia dijauhkan dari berbagai kesulitan

Semoga Damai Alam Semesta

Salam.

*Penulis adalah Jurnalis dan Penggiat Sosial

News Feed