oleh

Hobi Menanam dan Masa Depan Ilmu Botani di Indonesia

*Oleh : Ainun Nikmati Laily

Saat ini pandemi Covid-19 belum berakhir, tercatat perubahan data kasus positif dan angka kesembuhan di Indonesia masih memerlukan prioritas penanganan. Sebagai akibat berlangsungnya pandemi, kebijakan bekerja dan belajar dari rumah serta anjuran untuk meminimalisir kegiatan berkumpul dengan banyak orang mengharuskan masyarakat untuk betah tinggal di rumah. Banyak cara dilakukan masyarakat agar betah di rumah, maka muncullah para penghobi baru kegiatan “menanam” di rumah pada beberapa bulan terakhir. Aktivitas menanam menjadi sebuah trend di masyarakat dan “mendemam”. Para penggemar tanaman tersebut sebagian berasal dari penghobi lama yang semakin termotivasi melengkapi koleksinya selama pandemi dan sebagian yang lain berasal dari para penghobi baru. Maka, semakin populer dibicarakan beberapa nama tanaman pada saat ini dan menjadi incaran para penghobi tanaman. Media sosial, terutama Instagram dan Pinterest telah mengambil peran dan membawa perubahan terhadap permintaan pasar tanaman di dunia. Beberapa kelompok tanaman menjadi kebanggaan tersendiri pemiliknya. Beberapa tanaman dalam kelompok genus tertentu di antaranya Monstera, Caladium, Ficus, Hoya, Peperomia menjadi jauh lebih populer daripada sebelumnya. Begitu pula anggota tanaman sukulen yang dipilih karena cocok dijadikan ornamen desain interior rumah dengan warna dan bentuk yang menarik. Bahkan tak jarang petani atau pengkoleksi tanaman lebih tertarik mengekspornya karena harga jual yang lebih tinggi di luar negeri.

            Indonesia sebagai surga bagi para penggemar tanaman menyediakan kekayaan flora yang berlimpah. Sebagai negara beriklim tropis, penyinaran oleh sinar matahari dan curah hujan yang cukup baik memungkinkan proses fotosintesis dapat berlangsung optimal. Bunga dengan berbagai warna, buah dengan berbagai rasa, dan tanaman dengan berbagai keunikan morfologi dapat dijumpai di negeri ini. Maraknya penghobi tanaman tropis di Indonesia mengakibatkan tidak sedikit masyarakat yang berlatar belakang bukan dari ilmu Biologi ikut mempelajari dan menyimak lebih mendalam tentang Botani yang secara sederhana dikenal merupakan ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan. Bukan tidak mungkin dengan semakin disadarinya kebutuhan akan ilmu Botani atau ilmu tentang tumbuhan di Indonesia akan mengembalikan Nusantara sebagai wilayah yang pernah menjadi tujuan para botanis dunia berkat keberadaan kebun raya dan fasilitas riset kita yang lengkap. Setidaknya, Botani merupakan ilmu pengetahuan modern yang paling awal masuk ke Nusantara dengan dibawa oleh bangsa Belanda. Pada sekitar tahun 1880, Kebun Raya Bogor yang dahulu bernama Kebun Raya Buitenzorg tumbuh menjadi institusi riset flora tropis yang besar dan terpandang di dunia. Pada saat itu, tidak ada yang menandingi kekayaan koleksi flora Kebun Raya Buitenzorg sehingga para botanis dari beberapa belahan dunia terutama Belanda senang berkunjung dan melakukan penelitian.

Baca Juga  Arab Saudi Larang Indonesia Kirim Jamaah Umrah

Dalam ilmu Botani, tidak jarang fokus para peneliti dalam mengembangkan keilmuan tertuju pada kelompok familia atau suku tumbuhan tertentu, sebagai contoh peneliti tumbuhan dalam suku Aracaceae (talas-talasan), Poaceae (rumput-rumputan), Caricaceae (pepaya-pepayaan), Orchidaceae (anggrek-anggrekan), dan sebagainya. Suatu familia umumnya ditekuni oleh para botanis atau peneliti tumbuhan di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya yang terletak di beberapa tempat di Indonesia atau pada institusi tertentu misalnya di sebuah Universitas. Maka, informasi-informasi terkini tentang perkembangan Botani serta penemuan baru flora di Indonesia menjadi hal yang dinanti-nanti oleh masyarakat negeri ini. Perlu peran pemerintah dan lembaga yang menaungi ilmuwan Botani membantu dan memberi jalan seluas-luasnya demi tersebarnya informasi Botani semudah mungkin karena ilmu tersebut dibutuhkan oleh masyarakat luas sehingga manfaat ilmu Botani semakin besar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia. Perlu pula dibangun kedekatan antara peneliti atau periset tanaman dengan masyarakat luas secara terus-menerus.

Terdapat beberapa manfaat penting ketika ilmu Botani semakin dekat dengan masyarakat. Pertama, masyarakat akan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap penemuan Botani. Penemuan para ilmuwan Botani tidak akan hanya menjadi konsumsi para golongan tertentu akan tetapi dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Dengan teredukasinya masyarakat, maka mendorong untuk pengembangan diri calon-calon ilmuwan sejati dan calon profesional yang sejati. Kedua, masyarakat akan memiliki kesadaran konservasi yang semakin meningkat. Pelibatan masyarakat secara aktif dalam konservasi dengan jalan pemberdayaan masyarakat dapat menekan ancaman terhadap keanekaragaman flora setempat. Ketiga, penghargaan terhadap karya Botani pada semua lapisan masyarakat akan semakin baik, sehingga tidak dijumpai lagi plagiasi karya Botani, contohnya penggunaan lukisan-lukisan Botani di media sosial dan penjualan bebas tanpa memperhatikan hak cipta. Keempat, masyarakat akan lebih “melek” Botani dan memiliki pandangan terbuka terhadap flora di sekitar sehingga jauh dari mitos-mitos yang tidak terbukti kebenarannnya. Dampak lain, harga tanaman di pasaran dapat dikendalikan dengan perhitungan yang logis.  Kelima, masyarakat akan memiliki pengetahuan dasar tentang pengembangan suatu tanaman dengan pemahaman dan konsep yang baik terhadap tanaman hias, tanaman sumber pangan, dan tanaman obat-obatan. Maka masyarakat dapat mengembangkan pengetahuan tersebut sebagai alternatif ekonomi kreatif yang meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan dengan cara-cara yang benar.

Baca Juga  Peluang Emas di Masa Pandemi

Dengan demikian, menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama kita untuk saling memotivasi dan menguatkan bahwa telah selayaknya ilmu Botani dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri danmenjadi kebanggaan masayarakat Indonesia.

*Penulis adalah Mahasiswi Program Doktor Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada

News Feed