Selasa, 2 November 2021, 12:04 WIB

Empat Konsep Pendidikan di Era Society 5.0

Agama Islam memposisikan pendidikan pada tempat yang luhur, salah satu buktinya tertulis dalam hadis Nabi Muhammad yang secara terang-terangan mewajibkan muslim dan muslimah untuk mencari ilmu. Bahkan dipertegas dalam QS. al-‘Alaq [96]: 1-5 dan QS. al-Mujadilah [58]: 11. Bilamana kita perhatikan kedua ayat tersebut, secara tidak langsung telah memberikan dorongan, motivasi, dan jaminan yang menjanjikan bagi siapapun khususnya umat islam, agar senantiasa sungguh-sunguh dan semangat menimba ilmu atau berpendidikan.

Di samping itu, suatu bangsa akan sulit maju apabila tradisi keilmuan ditinggalkan bergitu saja. Sebab dalam QS. Zumar [39]:9 telah menjelaskan bahwa seseorang yang berilmu pasti berbeda dengan yang tidak berilmu, “Katakanlah, tidaklah sama, orang yang tahu dan orang yang tidak tahu.

Namun permasalahannya segala aspek kehidupan termasuk pendidikan, terus mengalami perubahan seiring pergerakan dan perkembangan pola pikir manusia. Sebagaimana dasawarsa kini, kita sedang berjalan di antara Era Industry 4.0 menuju Era Society 5.0. Sebuah era yang mendekatkan manusia pada kecanggihan teknologi, sehingga menimbulkan berbagai pengaruh baik maupun buruk, dalam segala hal termasuk pendidikan.

Oleh sebab itu, tidak boleh tidak sebagai umat islam yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, harus selalu siap dan sadar dengan perkembangan dan perubahan bagaimanapun kondisi zaman harus tetap bisa mengikuti. Menurut hemat penulis orang-orang yang beruntung adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan zaman. Maka meletakkan setiap langkah dengan dasar quran dan hadis, serta terbuka dengan hal-hal baru kemajuan teknologi yang baik juga akan membawa dampak positif dan kemajuan di dalam aspek kehidupan.

Dalam hal ini, penulis mencoba untuk mengingatkan kembali tentang empat konsep atau term yaitu; ta’dib, tarbiyah, ta’lim, dan tadris yang disajikan oleh ajaran Islam (dalam al-quran dan al hadis), untuk diterapkan pada peserta didik supaya dapat menyeimbangkan dirinya dengan perkembangan zaman.

Konsep Ta’dib

Ta’dib berasal dari kata addaba (أدّب), yuaddibu (يأدّب), dan ta’dib (تأديب), biasa diartikan dengan mendidik. Menurut Naquib al-Attas kata tersebut paling tepat dan cermat untuk menunjukkan pendidikan khususnya dalam Islam. Istilah ta’dib atau adab tidak disebutkan dalam al Quran secara gamblang redaksi ayatnya, namun konsep ta’dib sangat terlihat jelas meskipun tersirat dalam QS. Al- Qalam [68]:4, terkait dengan bagaimana Allah mengajarkan pada kita melalui gambaran akhlaq Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.

Ayat di atas menunjukkan bahwa adab (budi pekerti) Rasul SAW melampaui batas budi pekerti yang luhur manusia biasa. Konsep ta’dib adalah rangkaian proses pendidikan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw kepada umatnya untuk dalam perkara budi pekerti yang amat penting dalam kehidupan manusia, seperti maklumat hadis Nabi dalam Jami’ al-Ahadits wa al-Marasil, nomor 780-781:

Baca Juga  Peduli Kaum Difabel, TPQLB Susun Modul Pembelajaran Al-Quran

أَدَّبَنِى رَبِّى اَحْسَنَ تَأْدِيْبِى

Tuhanku (Allah) telah mendidikku dengan pendidikan yang terbaik

Al-Attas berpendapat bahwa konsep ta’dib adalah konsep yang harus diaplikasikan dalam pendidikan secara komprehensif, tentu hal ini akan memberikan pengaruh besar terhdap peserta didik. Sederhananya konsep ta’dib yaitu usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi yang membawa siswa atau peserta didik terdorong dan tergerak jiwanya serta hatinya untuk berperilaku dan bertindak tanpa meninggalkan adab atau sopan santun yang sesuai dengan syari’at Islam.

Konsep Tarbiyah

Adapun kata tarbiyah merupakan bentukan dari asalnya rabba bermakna tumbuh dan berkembang. Term ini menunjukkan konsep pendidikan adanya proses perkembangan baik dari sisi kognitif, afektif, maupun piskomotorik ditambah dua aspek pendidikan jasmani dan rohani. Konsep tarbiyah ini bersandarkan pada firman Allah pada QS. al-Isra’ [17]: 24. (Afifuddin Harisah, 2018: 24). Bisa dikatakan jika hasil dari konsep tarbiyah akan mencakup keseluruhan dari aspek dan komponen-komponen pendidikan

Selain itu pemaknaan term tarbiyah juga tertuang dalam QS. Al-Syu’ara [26]: 18, “Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu”. Sebuah penegasan adanya proses perkembangan—dari kecil menuju besar, dari belum matang menjadi matang, dari tidak mengerti menjadi mengerti serta paham, dst.

Sehingga dari konsep ini akan menciptakan pendidikan yang di dalamnya terdapat sebuah aktivitas bimbingan baik jasad, akal hingga jiwa, peserta didik dapat dewasa dan mandiri hidup di tengah masyarakat. Dan tentunya akan memenuhi ruang kosong pada konsep sebelumnya (ta’dib), atas pengembangan peserta didik yang cenderung fokus pada pendidikan adab.

Konsep Ta’lim

Akar kata ta’lim yaitu ‘allama-yu’allimu-ta’lim-ta’lim. Kata ‘allama yang terulang sebanyak lima kali dalam al-Qur’an dapat ditemukan dalam beberapa surat, antara lain: QS. al-Baqarah ayat 31, QS. al-Rahman ayat 2 dan 4, dan QS.al-‘Alaq ayat 4 dan 5. Sedangkan arti kata ta’lim sendiri yaitu pengajaran.

Menurut Rasyid Riḍa (1273 H: 262), ta’lim adala proses pentansferan ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Pendapat ini berdasar pada ayat QS. al-Baqarah: 31 dan 151. Ayat yang menerangkan terkait kegiatan pendidikan Allah kepada Adam dan Rasulullah SAW kepada umatnya terhdap sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka. Rasulullah men-ta’lim secara luar-dalam atau jiwa dan raga, sehingga seseorang mampu memahami kitab dan hikmah juga pengetahuan yang belum diketahui. (Al-Rasyidin, 2008: 111).

Baca Juga  Jokowi Instruksikan Sekolah Tatap Muka Dilakukan Terbatas

Konsep ta’lim jika dilihat dari redaksi ayat di atas menunjukkan, jika Nabi Muhammad Saw tidak sekedar men-ta’lim sampai pandai membaca apa yang tertulis, namun Rasulullah Saw juga mengajari kita umat Islam agar dapat membaca sekaligus merenungi, memahami, mengerti, tanggung jawab dan amanah terhadap ilmu pengetahuan. Sederhananya konsep ta’lim memberikan tekanan dalam pendidikan pada transfer of knowledge yang bersifat penyampaian pengertian dan keterampilan secara menyeluruh.

Konsep Tadris

Konsep pendidikan yang keempat yaitu tadris, kata ini merupakan perubahan bentuk dari akarnya darasa ke darrasa hingga tadris yang bermakna pengajaran. Perbedaannya terletak pada keaktifan dan kemandirian peserta didik, sebab dalam konsep tadris akan menghasilkan bekas (baqaa al-atsar) dari apa yang telah dipelajari. Maka jika pelajaran telah melekat pada dirinya, pemahaman akan ia temukan dalam pengamalan-pengamalan. Secara sederhana konsep tadris titik tekannya pada diri peserta didik.

Adapun dasar konsep ini, penulis mengambil dari Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah ayat 36-37 Surat Al-Qalam, yang menyatakan bahwa kata tadrusuun memberi konotasi bahwa proses belajar haruslah diulang-ulang, secara perlahan dengan upaya sungguh-sungguh agar memperoleh pemahaman dan muncul reaksi yang diinginkan. Dalam hal ini dapat kita sebut sebagai proses pembiasaaan dalam teknik pembelajaran. (M. Quraish Shihab, 1996: 405).

Dari sini kita memahami jika konsep tadris benar-benar diterapkan, maka peserta didik akan aktif dalam aktivitas pembelajaran untuk meulang-ulang disertai dengan memahami, mengungkapkan, menjelaskan, dan mendiskusikan materi yang dipelajari sehingga mereka jadi mudah hafal dan ingat sebab secara langsung melakukan. Dan konsep tadris memberikan bekal bagi seorang pencari ilmu bahwa orang yang sedang mempelajari sesuatu itu harus aktif bukan pasif.

Refleksi Pendidikan Era Society 5.0

Penulis telah menyinggung pada bagian awal artikel ini, bahwa pendidikan era kini telah mengalami perubahan sistem atau konsep pendidikan dari zaman ke zaman. Adapun pemaparan empat konsep pendidikan sebelumnya, tentu relevansi dan tujuannya sebagai refleksi terhadap konsep pendidikan era sekarang (society 5.0), lebih-lebih dapat diaplikasikan dalam konteks pendidikan secara nyata.

Pembaca yang budiman tentu mengerti, jika Indonesia telah berusaha berjalan meskipun dengan merangkak sekuat tenaga melakukan transformasi kepada revolusi industri 4.0, namun belakangan ini Jepang secara resmi meluncurkan istilah baru yaitu Era Society 5.0. Era yang menjadikan manusia sebagai subjek utama (human centered society) dalam mengendalikan kemajuan ilmu dan teknologi.

Baca Juga  Perwira TNI AL Sigap Bela NKRI, Seperti Apa Pendidikan yang Ditempuh

Cara kerja yang digagas dari Era Society 5.0 yakni mengintegrasikan sejumlah besar informasi dan sensor di ruang fisik, kemudian diakumulasikan pada ruang maya dengan bantuan Internet of Things, hal ini selanjutnya disebut sebagai Big Data. Data besar (Big Data) ini akan dianalisis oleh Artifical Intellegence (AI) dan hasil analisis akan kembali diumpankan ke manusia dalam ruang fisik, tentu dalam berbagai macam bentuk. Penerapan konsep tersebut dapat diaplikasikan pada bidang kesehatan, pengasuhan, manufaktur, pertanian, makanan, pencegahan bencana, energi, dan pendidikan. Dari sini kita memahami jika dunia pendidikan tidak dapat dijauhkan dari kemajuan teknologi.

Adapun relevansi antara era 5.0 dengan bidang pendidikan, sebagaimana tertulis dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 (2003: 4) bahwa:

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Maka mau tidak mau konsep pendidikan juga harus mendapat perhatian khusus. Pasalnya zaman kini, ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi alat utama untuk meraih nilai-nilai yang terkandung dalam UU No. 20 Tahun 2003 sebagai tujuan sistem pendidikan.

Dengan adanya teknologi yang canggih, diharapkan peserta didik mampu memanfaatkannya sehingga mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman baru. Di samping pemilihan metode yang mumpuni, materi ajar yang berkualitas, dan keberlangsungan proses belajar-mengajar yang baik menjadi perkara yang harus diperoleh peserta didik. Di mana hal tersebut yang akan membentuk karakter mereka menyongsong dan membangun masa depan yang baik.

Sebagai umat Islam yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, harus tetap mendasari setiap langkahnya dengan quran dan hadis serta tidak boleh melepas ajaran nilai agama islam, sebab muara ajaran agama islam ialah membentuk umat yang paham tentang ilmu-ilmu pengetahuan dan syari’at—baik tertulis maupun tidak tertulis. Melalui penerapan empat konsep yaitu Ta’dib, Tarbiyah, Ta’lim, dan Tadris yang disuguhkan dirasa akan mengantarkan siswa atau peserta didik menyeimbangkan kemampuannya dengan perkembangan zaman.

Caranya dengan mengimplementasikan empat konsep di atas dalam proses pendidikan, di mana konsep tersebut diletakkan sebagai dasar dari tujuan, metode, kurikulum pendidikan. Dengan begitu akan terwujud peserta didik atau bangsa, atau generasi penerus dan masyarakat yang progresif, religius, juga berkontribusi dalam membangun peradaban yang bermanfaat. []

News Feed