oleh

Benarkah Industri Perbankan Tetap dalam Keadaan Aman

Oleh Dita S. Putri Buana*

Kesulitan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh masyarakat ditengah merebaknya Covid-19. Industri perbankan merupakan salah satu sektor yang juga terkena imbas dari adanya pandemi Covid-19. Perlambatan perekonomian yang terjadi  membuat tidak sedikit perbankan yang menghadapi kesulitan maupun tekanan dalam memerangi masa-masa sulit. Berbagai risiko yang menghantui Industri perbankan  ditengah lesunya ekonomi Indonesia dapat berdampak fatal bagi industri perbankan itu sendiri.

Seperti dilansir Youtube BeritaSatu (OJK Tegaskan Industri Perbankan Stabil dan Terjaga), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi  pengumuman dalam rangka memberi kepastian bahwa industri perbankan Indonesia berada dalam kondisi yang aman dan berada ditahap perbaikan yang bagus pada masa pandemi ini. Hal tersebut terlihat dari berbagai rasio yang diterjemahkan menjadi suatu laporan bahwa secara agregat perbankan  memang dalam kondisi sebagaimana yang  disebutkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.  Rasio-rasio tersebut diantaranya yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 22,13 % yang menunjukkan perbankan dalam kondisi yang sehat dimana semakin besar CAR menunjukkan semakin besar pula kemampuan perbankan dalam menghadapi risiko. Selanjutnya rasio Non Performing Loan Gross dan Non Performing Loan Net masing-masing sebesar 2,89% dan 1,09%. Nilai Non Performing Loan (NPL) atau Bahasa awamnya kredit macet merupakan rasio yang cukup terpengaruh dalam kondisi ekonomi yang sedang terjadi saat ini. Tujuan Otoritas Jasa Keuangan menunjukan rasio-rasio tersebut salah satunya adalah untuk membuat masyarakat khususnya nasabah bank lebih tenang pada kondisi perekonomian saat ini.

Apakah dengan rasio-rasio itu cukup untuk membuktikan bahwa perbankan dalam kondisi yang sehat?. Sebagai masyarakat mungkin ada yang tidak mengerti kaitan rasio dengan kondisi perbankan dan sebagian lagi tidak peduli ataupun acuh. Namun banyak diantara mereka yang mengerti tetapi mempertanyakan bagaimana rasio tersebut bisa diperoleh. Padahal nasabah dari bank-bank kecil melihat bahwa kondisi bank kecil tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Hal ini karena nasabahnya sendiri juga kesulitan membayar kredit kepada bank-bank tersebut yang meningkatkan potensi risiko kredit macet.

Jika dilihat dari  data yang disediakan oleh Otoritas jasa Keuangan (OJK), kondisi demikian diperoleh melalui penilaian secara agregat yang mana agregat dalam hal ini sebenarnya menjadi hal yang sangat penting untuk diperhitungkan pada kondisi yang sekarang. Perbankan besar seperti BCA mungkin  bisa dengan mudah melewati kondisi sulit dan tetap dalam posisi aman. Tetapi berbagai macam bentuk serta kondisi perbankan yang ada di Indonesia pasti memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda pula.  Mungkin apabila diagregatekan dapat dikatakan aman. Namun jika dibeber atau dilihat kasus per kasus dari berbagai tingkat perbankan yang ada, khususnya bank-bank kecil hasilnya tentu akan berbeda. Bank-bank kecil mungkin menghadapi kesulitan serta risiko yang jauh lebih besar yang dapat membahayakan kelangsungan bank tersebut.  Dalam hal ini keadaan perbankan bukan lagi aman tetapi dapat dikatakan sedang menghadapi krisis. Artinya, rasio-rasio yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan tidak dapat ditelan secara mentah dan perlu adanya analisis apakah keadaan yang demikian berlaku bagi seluruh unit perbankan atau tidak. Seharusnya pemerintah tidak menganggap kondisi yang demikian sebagai hal yang kecil atau hal yang tidak perlu ditakutkan. Pemerintah hendaknya mengambil langkah-langkah yang mengarah kepada titik yang membuat kondisi perbankan kecil juga mampu mengikuti perbankan besar yang dapat tetap mampu  bertahan dalam kondisi yang terjadi saat ini.

Risiko yang patut untuk dikhawatirkan serta diperhatikan dalam keadaan yang sekarang bagi setiap perbankan khususnya bank kecil adalah risiko likuiditas maupun risiko kredit. Kedua risiko ini harus menjadi perhatian serius karena diketahui saat ini banyak kegiatan usaha yang terhambat yang berpotensi meningkatkan risiko kredit macet bagi perbankan. Risiko kredit dimungkinkan akan mengalami peningkatan seiring perlambatan kegiatan perekonomian akibat pandemic Covid-19. Kebijakan restrukturisasi kredit  Risiko kredit akan berdampak pada penurunan profitabilitas bank yang bersangkutan karena bunga kredit atau pokok pembiyaan yang dibayar debitur menjadi menurun sehingga mengarah pada turunnya pendapatan bank, apalagi saat ini semua kegiatan dilakukan dengan penerapan new normal yang pasti juga memiliki dampak pada kesehatan kredit. Risiko kedua, yakni risiko likuiditas yang dikaitkan dengan kemampuan suatu bank dalam membayar kewajiban jangka pendek atau kewajiban yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Walaupun pemerintah  memberi kebijakan keringanan dalam bentuk relaksasi kredit, pelaksanaannya tetap bergantung pada kemampuan masing-masing perbankan.

Kondisi ini akan tetap terjadi selama masa pandemic bahkan bisa jadi semakin memburuk karena dampak dari risiko-risiko perbankan akan lebih terasa kemudian. Maka diperlukan suatu tindakan agar bagaimana kondisi ini dapat cepat diperbaiki. Namun, jika dilihat dari jumlah pasien covid di masa new normal yang terus mengalami lonjakan besar pasti juga memberi pengaruh pada berapa lama waktu untuk memulihkan perekonomian. Bisa jadi kondisi ini akan tetap terjadi  hingga tahun mendatang jika langkah-langkah yang diambil pemerintah tidak mencakupi semua kepentingan.

Diharapkan risiko kredit dan risiko likuiditas dapat teratasi baik melalui diterbitkannya kebijakan dari pemerintah maupun melakukan tindakan dari dalam yang dapat dilakukan oleh sektor perbankan itu sendiri. Langkah yang dapat dilakukan oleh perbankan dalam rangka mencegah meningkatnya kredit macet dalam kondisi seperti saat  ini dapat berupa  perancangan ulang skenario dalam melunasi hutang, memberi pembebasan pembayaran bunga, dan tindakan lainnya. Lalu, bagi perbankan yang keadaan likuiditasnya tetap terjaga diharapkan tetap terkendali dan stabil sampai kondisi menjadi pulih.  Lalu diikuti dengan Permintaan kredit yang membaik pembiayaan semakin bagus sehingga dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional serta memberi dampak positif bagi perbankan.

*Penulis adalah Mahasiswa PKN STAN

News Feed