oleh

Kurang Pengetahuan Adalah Formulasi Mematikan Saat Tsunami

Oleh:
Ermiko Effendi
Jurnalis & Relawan Kebencanaan

Saya menulis catatan ini bukan untuk menakut-nakuti, atau menebar teror naratif. Saya ingin turut menumbuhkan Sense Of Crisis kita semua, sebagai upaya mengurangi dampak buruk sebuah bencana. Scientist mengeluarkan jurnal terkait ancaman bencana Tsunami setinggi 20 meter di laut selatan Jawa jelas ada dasar keilmuannya. Kini waktunya masyarakat yang berada di zona berpotensi terdampak Tsunami wajib waspada, sementara pemerintah juga harus mulai aware. Waspada itu bersiap menghadapi resiko terburuk, kalau pun tidak terjadi ya syukur, Tuhan masih melindungi kita. Itu yang kita mau. Namun saat resiko terburuk itu benar-benar datang sebagai cobaan yang harus kita hadapi, maka kita sudah siap dengan segala persiapan dan berbagai kemungkinan.

Jangan lagi jumawa, meyakini bahaya tidak akan datang hanya karena faktor kepercayaan, terlebih tanpa dasar keilmuan. Kita baru saja mengecap pil pahit ihwal Pandemi Covid-19. Saat corona mulai mewabah pada awal tahun 2020, pemerintah kita saja masih sempat guyon dan berkelakar jika Indonesia bebas Covid-19. Itu bulan Januari – Februari. Masyarakatnya pun acuh. Bulan Maret – April, kasus terpapar Covid-19 nyatanya meledak, baru deh panik bukan kepalang dan kini akibat lemahnya mitigasi dan lambat mengambil tindakan taktis dan strategis, corona sulit tertanggulangi. Semua sektor kehidupan masyarakat jadi serba sulit kini. Pernahkah sejak awal kita menyadari akan begini jadinya? Corona memang tak kasat mata, tapi dampaknya nyata. Banyak pihak yang semula mincibir kemungkinan corona masuk Indonesia dan beginilah kehidupan kita saat ini.

Prakiraan potensi bahaya Tsunami memang belum ada yang bisa pastikan apakah itu bakal benar-benar terjadi. Namun penelitian dan mitigasi soal bencana alam yang juga pernah meluluhlantakkan Aceh pada 2004 silam, sudah dilakukan secara maraton sejak tahun 2005 hingga 2020, Tim ahli ITB bersama BMKG telah melakukan pemodelan terhadap data-data yang dihimpun selama penelitian. Hasilnya, laut selatan Jawa dikapling sebagai wilayah yang berpotensi tinggi terjadi Tsunami dengan tinggi gelombang mencapai 20 meter. Sementara kecepatan gelombang mencapai pantai membutuhkan waktu 20 menit. Dalam waktu yang sesingkat itu, bersiap sejak awal menjadi langkah yang paling bijaksana menghadapi segala hal yang masih menjadi rahasia waktu.

Baca Juga  Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Seluruh Dunia

Bersiap Itu Penting!. Biar gampang dicerna oleh semua kalangan, saya ilustrasikan begini; Kenapa anda harus pakai helm saat bepergian naik motor?. Apakah anda bisa pastikan bakal jatuh dan kepala anda terbentur benda keras sehingga anda perlu pakai helm?. Atau anda hanya khawatir ditilang polisi karena tidak menggunakan helm saat bermotor?. Lalu darimana anda tahu bakal berurusan dengan polisi karena anda tidak pakai helem?. Semua itu njagani segala kemungkinan. Namanya kemungkinan itu sesuatu yang belum pasti. Namun semua resiko tersebut berpotensi terjadi, maka disitulah arti penting PERSIPAN sebagai langkah perfective. Yang begini ini Bukan Ndisiki Kersaning Gusti Allah (Mendahului kehendak Allah), paham ya?.

Saya berharap pemerintah daerah sigap dalam merespon kajian para ilmuan, sebagai mitigasi awal potensi bahaya. Sementara masyarakat yang berada di zona potensi terdampak sekali lagi harus melatih kepekaan dan meningkatkan kesiapsiagaan. Kembali pada hasil pemodelan tim pakar dari ITB didukung BMKG; gelombang Tsunami butuh waktu 20 menit hingga ke pantai. Artinya waktu efektif hanya 17 menit untuk evakuasi. Kita bisa bayangkan jika masyarakat kita tidak terlatih menghadapi situasi darurat, tidak mengerti harus melakukan apa dan harus bagaimana, 17 menit adalah waktu yang singkat untuk mengambil sebuah keputusan besar. Hanya orang-orang terlatihlah yang akan bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan apa jadinya jika gelombang Tsunami tiba malam hari. Saya membayangkan itu terjadi merinding. Bagi orang seperti saya yang punya kesempatan terjun dan terlibat langsung dalam situasi bencana besar seperti gempa DIY, Gempa Sumbar, Tsunami Banten, Palu dan beberapa bencana/musibah besar lainnya, tergetar mental ini melihat kekuatan alam yang merenggut banyak korban jiwa. Menghilangkan nyawa dan harta, benda dalam sekejap. Sementara bagi orang-orang yang belum pernah berada pada lokasi bencana Tsunami, menyaksikannya langsung  dengan mata kepala sendiri, saya rasa akan sulit membayangkan betapa buruknya gelombang Tsunami itu saat menerjang daratan. Informasi visual di media hanya menggambarkan 30 persen saja dari kondisi aslinya. Jika itu sudah cukup mengerikan buat anda, maka yang asli jauh lebih mengerikan lagi.  

Baca Juga  Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Seluruh Dunia

Kita saat ini bermukim di daratan yang rentan terhadap gempa dan tsunami. Unsur penyebab bencana di lautan yang memicu Tsunami nyata adanya. Banyak ilmuan yang sudah menjelaskan panjang lebar dan bisa ditelusuri jejak digital. Datangnya konndisi buruk yang ditimbulkan karena fenomena alam adalah sebuah keniscayaan, hanya menunggu waktu saja, cepat atau lambat. Mari mulai menyadari secara pribadi akan resiko itu, kemudian mulai tanggap dengan sekenario terburuk. Mulailah dari hal yang paling sederhana:

  1. Mulai menghafal lokasi titik kumpul.
  2. Mulai menghafal jalur evakuasi/ penyelamatan.
  3. Menyiapkan tas darurat yang bisa dibawa kapan saja, berisi perlengkapan dasar bertahan hidup,
  4. minimal untuk 3 hari. (Sesuaikan jumlah anggota keluarga).
  5. Mulai mencatat nomor telepon layanan tanggap darurat (Koramil, Polsek, fasilitas kesehatan, BASARNAS, PMI, dll).

Prilaku saat Proses Evakuasi (Berpindah ke Tempat Aman):

  1. Berikan respon cepat terhadap peringatan bahaya dan jangan menunda evakuasi. Prioritas utama adalah bergerak ke zona aman.
  2. Jangan panik, ingat jalur evakuasi.
  3. Ingat! Prioritaskan anggota keluarga paling lemah/rentan. (anak-anak, orang tua, orang dengan kebutuhan khusus).
  4. Bepergian menuju jalur evakuasi selalu menggunakan pelampung. Meski tak ada air setetespun. Pelampung akan menjaga anda berada selalu di permukaan saat air datang menyapu. Dengan begitu anda berpotensi tidak tenggelam dan terjebak matrial di bawah permukaan air.
  5. Jika bepergian menggunakan mobil, pastikan seluruh penumpang menggunakan pelampung, tidak mengunci pintu mobil, tidak menggunakan sabuk pengaman, membuka jendela.
    Beberapa kejadian dalam bencana Tsunami di berbagai tempat, mengungkap fakta; korban tak selamat yang ditemukan dalam mobil umumnya dalam situasi terjebak karena pintu mobil terkunci dan kaca tertutup. beberapa korban terjebak lantaran menggunakan sabuk pengaman.
  6. Jika mengendarai motor tetaplah menggunakan alat keselamatan standart, bawa barang secukupnya, kendari motor sesuai kapasitas dan berkendara dalam kecepatan aman.

Tidak ada cara yang paling efektif untuk menekan angka korban jiwa kecuali membangun kesadaran masyarakat. Kita (masyarakat), harus berdaya secara individu. Jangan hanya mengandalkan petugas. Karena faktanya pertolongan datang butuh waktu. Tidak seketika saat kita butuh, bantuan datang langsung di depan mata. Terkadang korban harus menunggu beberapa waktu dalam kondisi sulit. Cepat atau lambat pertolongan/bantuan datang tergantung pada seberapa buruk situasinya.

Rekomendasi untuk Pemerintah Daerah:

  1. Pertajam sekema evakuasi dan Treatment pra hingga pasca bencana.
  2. Perjelas lagi alur komando (konunikasi), koordinasi lintas sektor dalam fase tanggap darurat. Biasanya saat terjadi bencana pola gerak tidak terstruktur dengan baik. (Gerak sendiri-sendiri). Ini yang membuat upaya jadi tidak efektif.
  3. Periksa performa Sistem Peringatan Dini (early warning system) Tsunami.
  4. Dorong sense of crisis masyarakat yang berdomisili di radius terdampak Tsunami dengan edukasi, sosialisasi dan simulasi evakuasi rutin hingga pada tingkatan RT.
  5. Cek kembali markers (rambu-rambu) jalur evakuasi.
  6. Sediakan pelampung di titik-titik berkumpul (assembling Point) agar bisa di manfaatkan masyarakat.
  7. Tentukan titik-titik (bakal) lokasi pengungsian.
  8. Siapkan sistem komunikasi base on frequency yang terintegrasi menggunakan Sistem pancar ulang (RPU).
  9. BPBD adalah jenderal lapangan penanggulangan bencana di daerah. Jangan Ekseklusif!.
    Mulai turun, bangun komunikasi lintas sektor, Petakan kekuatan potensi SAR yang ada (Organisasi, Instansi, Ormas yang memiliki ketrampilan pencarian dan pertolongan). Data juga Perlengkapan pendukung ops SAR yang dimiliki setiap potensi. Bangun komunikasi intensif dan inklusif.
Baca Juga  Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Seluruh Dunia

Semua yang saya tulis di atas berdasarkan pengalaman dan fakta yang kerap saya jumpai di lapangan saat masih aktif di lapangan sebagai wartawan yang kerap diterjunkan di daerah-daerah bencana dan Musibah. Hingga saat ini saya masih aktif sebagai relawan Kebencanaan. Kerap terlibat langsung dalam berapa operasi pencarian dan pertolongan (SAR) musibah/ bencana alam.
Tidak ada yang tahu kapan bencana itu datang. Bersiap adalah langkah awal dalam rangka berupaya meminimalisir dampak buruk. Dalam bencana/musibah besar, salah satu penyebab tingginya korban jiwa adalah  ketidakpekaan masyarakat merespon peringatan dini bahaya (acuh), tidak berhitung resiko terburuk, Apatis, tidak tahu harus bersikap apa dan bagaimana saat bencana terjadi. Intinya tidak siap.

Saat bencana masih dalam tahap mitigasi, peringatan dan prakiraan seperti sekarang ini, sering kali tidak digubris, dicuwekin dan akhirnya menganggap semua adalah takdir. Menganggap semua kehendak sang pencipta. Kadang kita lupa jika Tuhan membekali manusia dengan nalar agar mampu berusaha memecahkan masalah dan bersikap.

Semoga damai alam semesta

News Feed