oleh

Akhlak di Jalan Raya

*Oleh Ngainun Naim

Jalan raya yang menghubungkan Blitar Tulungagung suatu sore di awal Agustus 2019 itu cukup padat. Saya yang hendak belok kanan sudah menyalakan lampu sign. Tetapi rupanya tidak mudah menerobos padatnya lalu lintas. Mobil demi mobil seolah adu cepat tanpa memberikan ruang bagi saya untuk berbelok.

Saya harus bersabar menunggu kendaraan agak longgar supaya bisa berbelok. Tiba-tiba mobil dari arah berlawanan menyalakan lampu, lalu berhenti. Ia rupanya memberikan kesempatan kepada saya. Saya pun membalas isyarat lampunya, menjalankan kendaraan, dan melambaikan tangan sebagai ucapan terima kasih.

Kesempatan yang diberikannya sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Sesungguhnya hanya butuh 10 detik saja untuk bisa membuat orang lain bahagia. Setidaknya itulah yang saya rasakan: bahagia diberi kesempatan di tengah padatnya lalu lintas. Saya kira sebagian besar orang akan merasakan hal yang sama sebagaimana yang saya rasakan.

Fenomena sebagaimana yang saya rasakan tampaknya semakin langka. Orang cenderung semakin individualis. Kepedulian kepada orang lain semakin menipis. Kepentingan diri sendiri diperjuangkan habis-habisan meskipun untuk itu harus merugikan orang lain.

Jalan raya sekarang ini semakin padat saja. Jumlah kendaraan terus bertambah, sementara ruas jalan relatif tetap. Akibatnya, kemacetan terjadi di mana-mana. Jika dulu macet hanya terjadi di kota-kota besar, kini macet terjadi nyaris di setiap kota. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika macet pada akhirnya menyebar ke berbagai kota di Indonesia, termasuk di Tulungagung.

Semakin padatnya jalan raya ternyata diikuti dengan peningkatan ketidakdisiplinan. Saling mendahului, masuk jalur orang lain, dan aneka pelanggaran lainnya begitu mudah untuk ditemukan. Jangan-jangan kita juga termasuk juga di dalamnya. Naudzubillah.

Fenomena jalan raya yang semakin kompleks tersebut merepresentasikan kehidupan sehari-hari juga. Bisa jadi ia merupakan representasikan kehidupan individu atau sosial. Tentu saja saya tidak bermaksud melakukan generalisasi atau penyederhanaan atas realitas yang sesungguhnya cukup kompleks. Tetapi paling tidak, fenomena yang saya tulis ini tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

Di jalanan banyak orang yang baik. Mereka disiplin dengan aturan, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendahului atau berbelok, dan selalu berusaha menjaga diri dan orang lain. Bagi orang yang semacam ini, jalanan adalah sarana untuk menuju tujuan. Juga sebagai sarana untuk menabung pahala.

Di jalanan tidak sedikit juga yang ugal-ugalan. Perilakunya arogan. Memaksa orang lain untuk minggir. Jika perlu dengan menggedor bodi kendaraan yang tidak mau minggir. Jalanan bagi orang semacam ini adalah medan untuk unjuk kehebatan.

Seorang kawan yang pernah kuliah di luar negeri bercerita bagaimana ketertiban lalu lintas telah menjadi budaya masyarakat. Tidak ada pelanggaran lalu lintas. Tidak ada saling sodok. Semuanya berjalan dengan baik.

Nurudin, seorang dosen Universitas Muhammadiyah Malang dalam tulisannya di terakota edisi 29 Juli 2019 menulis bahwa fenomena klakson yang mewarnai setiap perjalanan bukan sekadar fenomena semata. Ada banyak makna yang bisa diurai dari fenomena tersebut.

Menurut Nurudin, klakson itu keras diperdengarkan, setelah itu dilupakan. Masyarakat kita itu pada beberapa hal bisa dikategorikan sebagai “masyarakat klakson”. Masyarakat jenis ini hanya riuh di wacana, tetapi miskin kerja.

Penilaian semacam ini memang tidak sepenuhnya betul. Tetapi juga tidak sepenuhnya. Jalan raya merepresentasikan mentalitas (sebagian) masyarakat kita. Soal berdebat, kita jagonya. Lihat saja bagaimana jejaring sosial begitu riuh untuk hal-hal yang kadang tidak substansial. Kondisi sebaliknya terjadi pada persoalan kinerja.

Apakah mungkin membangun budaya berlalu lintas yang baik di jalan raya? Semuanya mungkin. Tidak ada yang mustahil. Kesadaran bersama untuk membangun akhlak di jalan raya menjadi salah satu kuncinya. Jika ini dilakukan secara terus-menerus, sangat mungkin budaya berlalu lintas yang baik akan terbangun dalam masyarakat kita.

*Penulis adalah Dosen IAIN Tulungagung

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed