oleh

Ratusan Guru SD dan SMP di Kota Pahlawan Terkonfirmasi Positif Covid-19

Surabaya, (afederasi.com) – Sebanyak 393 guru SD dan SMP di Kota Pahlawan Surabaya dilaporkan terkonfirmasi Covid-19. Hal tersebut dipastikan setelah hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR) keluar.

“Sebelumnya ada 137 guru, namun setelah hasil tes PCR yang baru keluar bertambah menjadi 393 guru,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPB) Linmas Kota Surabaya Irvan Widyanto.

Irvan melanjutkan, data terbaru menyebutkan sudah ada 3.882 orang guru SD maupun SMP yang telah dites swab. Hasilnya yang sudah keluar sebanyak 3.082 spesimen. Rinciannya,  393 dinyatakan positif, 2.675 negatif, dan 12 spesimen invalid.

Irvan mengatakan, tes PCR Covid-19 untuk guru SD dan SMP serta ibu hamil juga masih terus dilakukan dengan terjadwal. Khusus untuk para ibu hamil dilakukan tes di Gelanggang Olahraga (GOR) Pancasila.

Sedangkan untuk tes swab para Guru SD dan SMP difokuskan di Laboratoriun Kesehatan Daerah (Labkesda), yang hingga kini masih dilakukan. Ia juga menyatakan, sesuai perintah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, para guru SD dan SMP semua diminta kerja dari rumah (WFH) sambil dilakukan tes PCR lanjutan.

Baca Juga  Pencuri Motor Ojol Ditembak, Terungkap karena Viral di Medsos

“Ini soalnyakan yang dites masih 40 persen dari jumlah total guru SD dan SMP di Surabaya,” ujarnya.

Saat disinggung mengenai sekolah tatap muka, ia menegaskan bahwa tes swab yang dijalani guru SD dan SMP tidak ada hubungannya dengan wacana sekolah tatap muka.

“Tidak ada (hubungannya-red) dengan sekolah tatap muka, tapi memang ibu wali kota memerintahkan untuk memprioritaskan untuk para guru, untuk menjamin kesehatan dan keselamatan. Salah satunya dengan dilakukan tes massal semuanya. Terus di-WFH-kan itu adalah salah satu bentuk perhatikan keselamatan para guru,” beber Irvan.

Kendati demikian, dirinya menambahkan pihak Pemkot Surabaya juga menggandeng pakar kesehatan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan terkait rencana sekolah tatap muka. Pakar kesehatan ini termasuk IDI dan pakar kesehatan masyarakat.

“Dan itu semua kita jadikan sebagai salah satu pertimbangan juga. Intinya, semua dikaji dan ada tahapannya (membuka sekolah tatap muka). Salah satu sarannya adalah melakukan pendataan terhadap siswa, para orang tua siswa, sampai dengan mendata penyakit penyertanya seperti apa. Dan itu semua menjadi pertimbangan,” pungkas Irvan. (dwd/yp)

News Feed