Rabu, 13 Oktober 2021, 18:55 WIB

Prokes Kendor, Waspadai Adanya Gelombang Ke 3 Covid

Tulungagung, (afederasi.com) – Dokter spesialis mikrobiologi klinis RSUD dr Iskak Tulungagung dr Rendra Bramanthi, Sp.MK (K) memprediksi gelombang ke 3 Covid-19 bisa saja terjadi, jika masyarakat kendor dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) dan enggan untuk divaksin.

Hal itu diungkapkan oleh dr Rendra Bramanthi, Sp.MK (K) ketika menjadi pemateri dalam talkshow interaktif yang bertemakan “adakah ancaman gelombang ke-3 Covid-19?” di RSUD dr Iskak Tulungagung, Rabu (13/10/2021).

Pada talkshow kali ini narasumber yang dihadirkan meliputi, dr Rendra Bramanthi, Sp.MK (K), M. Fairuza Alhida dari BPBD Kabupaten Tulungagung, dan Moch. Rifangi, S.Kep.Ners, MH.Kes.

Menurut dr Rendra Bramanthi, Sp.MK (K) mengatakan Corona Virus Desease (Covid-19) telah menyebar ke 49 negara. Gelombang ke 3 Covid-19 bakal terjadi apabila masyarakat kendor dalam penerapan protokol kesehatan (prokes) dan enggan untuk divaksin.

“Kita semua tentunya berharap yang terbaik, namun harus menyiapkan kemungkinan terjelek yang bakal terjadi. Mudah- mudahan kalaupun ada kita bukan menjadi pusat epicentrumnya,” jelasnya.

Masih menurut dr Rendra, saat ini pihaknya masih proses dalam sekuensing DNA atau pengurutan DNA. Dimana dalam sekuensing DNA ini berguna untuk membuktikan apakah ada mutasi virus baru atau varian baru yang bakal muncul atau tidak.

“Namun proses sekuensing saat ini masih berjalan,” ujarnya.

Rendra melanjutkan, pemicu paling utama apabila nanti ada gelombang ketiga yakni adanya varian baru atau varian lama muncul kembali. Selain itu penerapan prokes yang tidak lagi terkontrol.

“Banyak kemungkinan yang bakal terjadi, virus bisa saja bermutasi ke tingkat yang lebih ganas,” terangnya.

Selain itu adanya pembatasan- pembatasan yang dilonggarkan oleh pemerintah juga bisa mempengaruhi adanya gelombang ke 3 nanti. Ketika pembatasan dilonggarkan mobilitas masyarakat akan kembali tinggi, tentunya spreading (persebaran,red) virus akan lebih cepat.

“Spreading inilah yang akan memicu adanya ledakan Covid-19,” imbuhnya.

Lanjut Rendra, untuk saat ini yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mempersiapkan gelombang ke 3 hanyalah disiplin prokes 5M, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta membatasi mobilitas. Selain prokes tentunya harus patuh terhadap progam pemerintah, yakni vaksinasi.

“Hanya itu saja yang bisa kita lakukan. Masyarakat tidak boleh kendor prokes,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Tulungagung M. Fairuza Alhida, pihaknya mengatakan wujud antisipasi untuk gelombang ke 3 Covid-19 BPBD berusaha memonitor setiap perkembangan Covid dan mengawasi mobilitas warga serta selalu mematuhi intruksi dari kementrian.

“Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar turut serta vaksinasi juga kami gencarkan,” tuturnya.

Fairuz melanjutkan apabila progam vaksinasi terus digencarkan maka bisa menambah capaian vaksinasi Kabupaten Tulungagung, dimana saat ini capaian vaksinasi dosis 1 diangka 49 persen sementara dosis 1 untuk lansia masih 27 persen.

Agar Kabupaten Tulungagung bisa turun level minimal capaian vaksin dosis 1 diangka 50 persen, sedangkan dosis 1 lansia minimal 40 persen.

“Capaian vaksin selain mempengaruhi penurunan level tentunya akan berimbas ke pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Menurut Fairuz apabila dengan adanya kelonggaran pembatasan euforia masyarakat berlebihan maka bisa menimbulkan ledakan kasus seperti pada gelombang 1 dan 2 lalu.

“Akhir tahun nanti akan terjadi libur panjang, masyarakat harus bisa membatasi mobilitasnya. Semoga gelombang ke 3 tidak akan terjadi,” tukasnya.

Sementara itu Kasi Informasi dan Pemasaran RSUD dr Iskak Tulungagung Moch. Rifangi, S.Kep.Ners, MH.Kes. menambahkan apabila masyarakat mengalami gejala- gejala yang mengarah ke Covid-19 sebaiknya langsung menghubungi public safety centre (PSC) RSUD dr Iskak Tulungagung.

Masyarakat cukup telepon call centre di (0355) 320119 atau menekan aplikasi emergency button yang terlebih dahulu harus di download pada playstore atau appstore.

“Cukup tekan 119 pada smartphone. Masyarakat tidak usah takut terkait biaya. Kalau benar tidak mempunyai uang maka biaya pengobatan gratis,” tandasnya. (er/dn)

News Feed