oleh

Penderita Refraksi Mata di Kota Pahlawan Capai Ribuan

Surabaya, (afederasi.com) – Jumlah penderita refraksi mata di Kota Pahlawan tercatat sebanyak 2.665 orang. Jumlah tersebut diprediksi masih bisa bertambah lantaran angka tersebut merupakan rekapitulasi pada bulan Januari hingga Juli 2020.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengungkapkan, jika dihitung dari awal Januari hingga Juli 2020 jumlah pasien gangguan refraksi mata ada 2.665 orang. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penderita pada tahun 2019 yakni sebanyak 4.463 orang, maka jumlah penderita tahun ini mengalami penurunan.

“Kami melihat penurunannya sangat signifikan,” klaim Febria saat dikonfirmasi afederasi.com, Kamis (15/10/2020).

Febria mengungkapkan, perubahan angka yang cukup signifikan itu sebenarnya sudah dapat dilihat sejak tiga bulan pertama di tahun 2020. Bahkan jika melihat pada bulan Januari 2019, jumlah pasien mencapai 496 anak. Sementara itu pada Januari 2020 pasien menurun menjadi 356 orang.

Dinkes dalam hal ini, juga memiliki strategi dan upaya penanggulangan yang dilakukan. Diantaranya, mengindetifikasi wilayah dan kelompok masyarakat yang berisiko mengalami gangguan refraksi. Menurut Febria, upaya penanggulangan yang dilakukannya kali ini adalah menyasar anak-anak di usia sekolah dan lanjut usia (lansia).

Baca Juga  Siap-siap, Penumpang KAJJ Wajib Rapid Tes

“Kita menyasar ke pelajar SD-SMP. Usia rata-rata dari 7-15 tahun. Kemudian langkah kedua, mengembangkan surveilans deteksi dini gangguan refraksi yang dilakukan oleh kader dan rujukan ke puskesmas,” kata Febria.

Tidak hanya itu, upaya lain yang dilakukan adalah melatih kader indera, serta melakukan kerjasama dengan Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) untuk mendeteksi dini kelainan refraksi mata. Di sisi lain, jajaran Dinkes juga memberikan diseminasi komunikasi, informasi serta edukasi melalui para kader, petugas kesehatan dan sekolah.

“Penyebaran informasi itu sangat penting. Apalagi para kader, puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, pihaknya turut melakukan skrining mata serta penanggulangan gangguan indera termasuk kelainan refraksi. Itu menjadi penting dilakukan agar ke depan angka kasus berkurang.

“Jadi harus terus dan selalu dalam pantauan. Kami juga menggandeng Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami). Kemudian ada RS Bakti Dharma Husada (BDH) dan RSUD dr Soewandhie,” pungkas Febria. (dwd/yp)

News Feed