oleh

Warga Keluhkan Jalan Rusak, Akibat Aktivitas Tambang

Situbondo, (afederasi.com) – Sejak beberapa bulan ke belakang, banyak truk pengangkut hasil tambang yang lalu lalang di jalan Dusun Secangan, Desa Tambak Ukir, Kecamatan Kendit, Situbondo.

Ternyata, keberadaan truk ini tidak disetujui oleh sebagian masyarakat setempat, dengan alasan menjadi penyebab jalan rusak bahkan hingga memicu kemacetan jalan.

Jalan rusak hingga menyebabkan kemacetan itu ternyata bukan isapan belaka, kondisi tersebut direkam secara visual, oleh salah satu warga dan disebar ke beberapa awak media.

Dalam video berdurasi 14 detik ini menunjukkan antrian truk pengangkut tambang yang saling salip, dan menyebabkan jalan macet. Tampak sejumlah pengguna jalan harus antri, karena kedua truk tidak bisa berpapasan lantaran jalan yang sempit.

Di sisi belakang dari kedua truk yang berpapasan, tampak kendaraan roda dua warga dan beberapa truk pengangkut material tambang juga antri.

Menurut salah satu warga setempat, Matrosi, sebenarnya jalan itu tidak layak untuk dilalui kendaraan berat seperti truk pembuang atau yang dikenal dengan dump truck. Sebab jalan itu masuk kategori jalan kabupaten kelas III, bahkan ada sebagian jalan yang masih makadam dan belum diaspal.

“Jalannya sempit, karena jalan kabupaten kelas III, kapasitas muatan sekaligus kendaraannya tidak lebih dari 8 ton. Sedangkan material tambang yang dimuat lebih dari 12 ton, belum berat kendaraannya,” imbuh Matrosi.

Tak jarang, ketika musim hujan, akses jalan terputus akibat lumpur dan genangan air yang cukup dalam. Padahal, jalan itu merupakan satu-satunya akses untuk keluar dari Dusun Secangan, Desa Tambak Ukir. 

“Jangankan roda dua, mobil saja tidak bisa lewat. Sebab genangan air cukup tinggi hingga menutup roda mobil,” terangnya.

Pria paruh baya ini mengaku, memang jalanan tergenang air sudah berlangsung lama, sebelum ada aktivitas penambangan. Namun hal ini diperparah dengan munculnya penambangan di atas lahan seluas 60 hektar, di kawasan anak bukit, yang bersebelahan dengan hutan jati milik perhutani.

“Hutannya mulai gundul. Maka dari itu, kami bersama warga lainnya, berencana melakukan reboisasi untuk mencegah erosi dan banjir, eh malah ditambah dengan adanya aktivitas penambangan,” ungkap Matrosi.

Aktivitas penambangan galian C itu sudah berlangsung sejak setahun yang lalu. Sempat terhenti, namun dimulai lagi pada akhir 2020. Dan sejak tiga bulan terakhir ini, dampaknya sangat dirasakan warga setempat, karena banjir kerap kali terjadi, yang membuat akses jalan lumpuh total.

“Begitu aktivitas penambangan dimulai lagi, jalan mulai rusak, dan tambah parah seperti sekarang ini,” tegasnya.

Ia dan warga lainnya sudah melaporkan hal ini kepada kepala desa setempat, termasuk kepada pihak kepolisian, namun tetap saja tidak ada yang merespon. Lalu lalang truk bermuatan pasir dan batu terus berlangsung.

“Kami sudah tidak tahu lagi harus melapor kepada siapa. Karena Dewan pun belum bisa mengatasi ini,” katanya dengan nada lemah.

Ia berharap, pemerintah tidak tutup mata dengan kondisi ini. Karena bagaimanapun, warga sekitar area penambangan yang dirugikan dan terkena dampaknya. Apapun alasannya, penambangan harus dihentikan.

“Memang tempat yang ditambang itu tanah pajak, artinya milik perseorangan, yang dijual kepada pengusaha asal Surabaya. Tapi tolong dipikirkan kami yang terdampak ini,” terangnya.

Matrosi menambahkan, bahwa dirinya dan warga lainnya, dari awal tidak menyetujui rencana penambangan di wilayah tersebut. Karena akan memperparah kerusakan lingkungan yang akan berakibat fatal kepada masyarakat sekitar.

“Ketakutan warga sudah terbukti sekarang. Banjir sering terjadi, jalan rusak, sering terjadi kecelakaan dan kami hawatir akan terjadi banjir yang lebih besar dari sebelumnya, itu video juga sengaja saya simpan, sebagai bukti seberapa parah kondisi lalu lintas masyarakat ini terganggu,” tutupnya.(fin/dn)

News Feed