oleh

Pungli BST Kemensos RI, Warga Wadul ke Komisi I DPRD

Situbondo, (afederasi.com) – Komisi I DPRD Kabupaten Situbondo menerima pengaduan terkait dugaan pungutan liar (Pungli), terhadap penerima bantuan sosial tunai (BST) Kemensos RI. Pengadun itu disampaikan langsung oleh perwakilan warga Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran, Selasa (2/6/2020).

“Saya ke Komisi 1 DPRD menyampaikan surat tembusan pengaduan mengenai dugaan pungutan liar BST Kemensos di desa saya, semuanya sudah saya sampaikan ke wakil rakyat, jadi detailnya tanya ke sana saja,” ujar perwakilan warga yang enggan disebutkan namanya di kantor DPRD Situbondo.

Masih menurutnya, pungutan liar bagi penerima BST Kemensos RI dilakukan, saat warga menerima undangan, bersamaan dengan itu oknum nakal dari desa ini berdalih, jika ada biaya administrasi yang harus dibayar. Besaran pungli bervariasi mulai dari Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

“Kalau dari pengakuan warga penerima BST, setiap penerima dimintai uang bervariatif oleh oknum perangkat desa dengan dalih untuk administrasi, bahkan sebelumnya itu ada yang mengaku dipotong hingga Rp300 ribu, tetapi selang dua hari dikemblikan lagi ke warga, mungkin karena ramai itu,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Pecinan H Untung saat dihubungi membantah jika dalam penyaluran BST Kementerian Sosial ada pungutan liar terhadap penerima.

“Setahu saya tidak ada (pungutan liar-red). Tidak ada. Nanti saya telpon ya, saya masih ada pertemuan,” katanya, singkat.

Sementara itu, Ketua Komisi 1 DPRD Situbondo H Faisol menyayangkan adanya pungutan liar penyaluran BST Kemensos terhadap warga.

“Untuk sementara kami minta uang pungutan liar bantuan sosial itu harus dikembalikan kepada penerima. Kami akan segera melakukan rapat koordinasi dengan Dinas Sosial dan Bappeda guna menyinkronisasi data penerima,” katanya.

Informasi lain yang diperoleh, jumlah keluarga penerima manfaat BST Kementerian Sosial di Desa Tanjung Pecinan mencapai 681 keluarga, dan penyaluran telah dilaksanakan pada 20 Mei lalu. Masalah pungli akhirnya menguap, setelah ada warga menerima pengaduan dari warga lainnya. (ar/am)

News Feed