Kamis, 14 Oktober 2021, 06:10 WIB

PPLH Mangkubumi : Pembalakan Liar Masih Sering Terjadi, Bahkan Sudah Tradisi Musiman

Tulungagung, (afederasi.com) – Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi Tulungagung menyayangkan aksi pembalakan liar terhadap pohon jenis Sonokeling masih terjadi.

Ironisnya, aksi pembalakan ini setiap tahunnya mengalami kenaikan, bahkan, tren tersebut akan semakin meningkat ketika memasuki musim kemarau, dan pembalakan itu sudah menjadi tradisi musiman.

Deputi Advokasi dan Investigasi Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi, Maliki Nusantara mengatakan, berdasarkan pantauanya terhadap terjadinya pembalakan liar di Kabupaten Tulungagung, terdapat dua klaster. Dimana klaster pertama yakni terjadinya pembalakan liar di ruang milik jalan (Rumija) dan area hutan negara yang dikelola perhutani.

Menurut Maliki, tren pembalakan liar pada musim kemarau justru meningkat, hal itu dikarenakan aksesnya lebih mudah dibanding saat musim penghujan.

“Memang pembalak liar itu bisa dibilang hanya musiman,” jelas Maliki Nusantara, Rabu (13/10/2021).

Dijelaskan, selain faktor musim, tren kenaikan pembalakan liar terhadap pohon jenis Sonokeling tentunya disebabkan lantaran harganya yang setiap tahunnya cenderung naik.

Sekitar satu tahun yang lalu, harga Sonokeling untuk diexport hanya Rp 5-6 Juta, namun saat ini, harga export bahkan sudah hampir dua kali lipat dari harga tersebut.

Baca Juga  Polisi Amankan Dua Pelaku dan Belasan Kayu Jati, Hasil Pembalakan

Maliki melanjutkan, memang pada dasarnya sesuatu yang dilarang pasti justru semakin diincar, hal tersebut dikarenakan pohon Sonokeling mendapat Predikat Apendix 2, yang berarti statusnya terancam punah.
Justru dengan adanya hal tersebut,  membuat harganya yang kian melambung, sehingga mulai banyak diincar oleh pembalak liar.

“Dalam satu tahun, pembalakan liar Sonokeling di Rumija itu rata-rata dua sampai tiga kali. Kalau di kawasan Perhutani, kami tidak tahu datanya,” kata Maliki.

Maliki mengungkapkan, banyak model yang dilakukan oleh pembalak liar saat melancarkan aksinya, namun secara garis besar, saat ini ada dua jenis model pembalakan liar, yang mana biasa dilakukan pada siang hari dan malam hari.

Untuk model siang hari dilakukan dengan modus penyamaran, seperti yang terjadi di Rumija beberapa tahun lalu, yang mana pembalak menyamar sebagai petugas yang hendak menyeleksi pohon yang tidak layak. Sedangkan untuk pembalakan di hutan negara yang dikelola oleh perhutani, pembalak melancarkan aksinya pada malam hari dengan tujuan agar tidak ketahuan warga.pungkasnya

Baca Juga  Angkut Puluhan Balok Kayu Sonokeling Ilegal, Mobil Siaga Desa Jatisari Diamankan

Berdasarkan pengamatannya, pembalakan tersebut hanya dilakukan pada dua jenis kayu yakni Jati dan Sonokeling.

“Untuk jenis lain seperti mahoni, trembesi ataupun sengon, itu jarang sekali terjadi, karena mungkin prinsipnya jika mencuri selain kayu Jati dan Sonokeling, tidak sesuai dengan resiko yang dihadapinya,” ungkapnya.

Sempat disinggung apakah nantinya tren pembalakan liar terhadap pohon Sonokeling akan tetap meningkat. Maliki mengaku hal itu tergantung dari kondisi pohon Sonokeling itu sendiri.

Dalam hal ini, jika pohon Sonokeling bisa dibudidayakan secara masif, maka hal itu tentu akan mengurangi potensi terjadinya pembalakan liar. Apabila dilihat berdasarkan rumus pasar terdapat yang namanya supply and demand, yang berarti jika stoknya terbatas namun banyak permintaan, tentu harganya akan melambung tinggi. Namun jika semakin banyak stoknya, sedangkan permintaan tetap, otomatis harga juga tidak akan terlalu mahal.

“Kalau di Jawa saya rasa tidak bisa karena banyak rumah dan sedikit ruang terbuka hijau (RTH), kalau di luar jawa masih dimungkinkan apalagi masih banyak lahan kosong,” pungkasnya.(riz/dn)

Baca Juga  Puluhan Pohon di Sepadan Sungai, Diduga Ditebang Warga Tanpa Ijin

News Feed