Rabu, 24 November 2021, 20:51 WIB

PPLH Mangkubumi : Alih Fungsi Hutan Sebabkan Lapisan Unsur Hara Terus Berkurang

Tulungagung, (afederasi.com) – Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi Tulungagung menyayangkan adanya alih fungsi hutan di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Sebab, hal ini mengakibatkan kandungan unsur hara terus berkurang.

Pasalnya, lapisan tanah pegunungan diwilayah selatan Tulungagung yang kaya akan unsur hara, dan bisa ditanami atau biasa disebut tanah Salung, saat ini masih pada ketebalan sekitar 40 centimeter. Tanah yang terletak di pegunungan kian tahun terus tergerus karena kelestarian hutan diwilayah Selatan Tulungagung kurang diperhatikan.

Deputi Advokasi dan Investigasi PPLH Mangkubumi dan Anggota Jaringan Independent Pemantau Kehutanan-JPIK, Maliki Nusantara menjelaskan, pegunungan yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung adalah bekas gunung berapi purba, yang mana tanahnya tergolong subur dan banyak mengandung unsur hara.

Namun, lapisan tanah yang subur tersebut hanya sekitar 1-1,5 meter diatas lapisan batu gunung api purba, yang mana lapisan tanah tersebut terkikis setiap tahunnya.

Dari data riset Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bahwa setiap tahunnya tanah subur yang kaya akan unsur hara (Tanah Salung) di wilayah pegunungan selatan Tulungagung terkikis 1 cm setiap tahunnya

Baca Juga  PPLH Mangkubumi Menolak Dengan Tegas Rencana Penebangan Pohon Sonokeling

“Lapisan tanah yang subur masih sekitar 40 cm dari 1-1,5 meter diatas lapisan bebatuan,” jelas Maliki, Rabu (24/11/2021).

Maliki melanjutkan, hal tersebut disebabkan beberapa faktor, mulai dari curah hujan tinggi dan diperparah dengan perilaku manusia  yang melakukan proses – proses perusakan terutama diwilayah hutan yang menyebabkan hutan menjadi gundul.

Dikarenakan hutan gundul, tidak ada serapan dan penahan air, maka lapisan tanah lambat laun kian terkikis.

“Apabila dilihat dari satelit sendiri, bahwa memang banyak sekali lahan yang gundul di wilayah selatan Tulungagung,” terangnya.

Maliki menambahkan, apabila hal tersebut tidak diantisipasi dengan reboisasi dan kelestarian hutan, yang bakal terjadi terhadap tanah tersebut tidak hanya banjir, namun yang paling parah tanah tersebut tidak dapat di tanami kembali karena lapisan tanah yang kaya akan unsur hara lambat laun akan habis.

Sebenarnya, Reboisasi diwilayah pegunungan Selatan Tulungagung sudah dilakukan sekitar tahun 2000 an, namun karena ada oknum yang nakal, lantaran tanaman reboisasi malah dirusak dan digukanan fokus pertanian.

Baca Juga  PPLH Mangkubumi Investigasi Pembalakan Liar di Kalteng, Ini Hasilnya

” Jadi sekiranya tanaman reboisasi menutupi Tanaman jagung mereka akan dirusak dan dimatikan,” ungkapnya.

Apalagi mereka yang merusak tanaman reboisasi juga tidak merasakan banjirnya, yang merasakan adalah yang di wilayah yang lebih rendah.

“Perlu kesadaran masyarakat akan hal tersebut agar kelestarian lingkungan hidup terjaga dan terjadi keseimbangan lingkungan,” pungkasnya. (riz/dn)

News Feed