oleh

Pemakai Sabu Meninggal, Ini Tanggapan Dinkes Terkait Bahaya Sabu

Pemusnahan barang bukti narkotika yang dilakukan oleh Polres Tulungagung, Jawa Timur di penghujung akhir tahun lalu

Tulungagung, (Afederasi.com) – Kasus meninggalnya tahanan narkotika jenis sabu-sabu yaitu Mustofa Ari Wibowo (33) warga Desa Tungulsari, Kecamatan Kedungwaru pada Minggu (22/09/2019) mendapat perhatian khusus Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Pasalnya, bagi seseorang yang pernah mengkonsumsi barang haram tersebut, setidaknya membutuhkan waktu pemulihan selama 18 bulan. Tak hanya itu, sabu-sabu yang telah masuk ke dalam tubuh seseorang dipastikan akan merusak jaringan dan mengganggu kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mohammad Mastur melalui Kasi Perbekalan dan Farmasi Masduki mengatakan, sabu-sabu atau serbuk yang menyerupai kristal berwarna putih ini memiliki nama kimia metamfetamina.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 20 tahun 2018 tentang perubahan penggolongan narkotika, sabu-sabu termasuk narkotika  dalam golongan 1 nomor urut 61. Padahal, awalnya menurut UU No 5 tahun 1997 tentang  Psikotropika, sabu-sabu termasuk psikotropika golongan 2 nomor urut 9.

“Karena dampaknya sangat kuat dalam menyebabkan ketergantungan, maka pada perubahan UU No 22 tahun 1992 menjadi UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika sabu-sabu naik kelas menjadi narkotika golongan 1 yang sangat berbahaya,” jelasnya.

Baca Juga  Kota Marmer Darurat Narkoba, Dua Hari Sekali Satu Pengedar Dibui

Masduki menjelaskan, cara kerja sabu-sabu itu sendiri yakni, ketika sabu masuk ke dalam tubuh maka sabu dapat menaikkan hormon dopamin atau hormon pemicu rasa senang dari otak.

“Bahkan jumlah hormon dopamin yang dihasilkan ini jumlahnya tidak sedikit,” terangnya.

Masih menurut Masduki, dalam jurnal The Permanente yang merilis hasil temuan dr. Nicole Lee dari National Drug Research Institute Australia, menyebutkan bahwa dopamin yang dikuras mencapai 1.000 persen. Artinya, rasa kesenangan akan terganda berkali-kali lipat dari angka normal. Dampaknya, si pemakai akan merasa sangat percaya diri dan penuh energi.

“Yang perlu digaris bawahi, rasa senang tersebut hanya bertahan 24 jam. Selanjutnya si pemakai akan mulai merasa lapar, hilang konsentrasi, pandangan rabun dan sakit kepala,” ungkapnya.

Masduki mengatakan, gambaran keadaan ini adalah gambaran pertama kali seseorang usai mengonsumsi sabu. Jika ini dilakukan kembali, maka si pemakai akan sampai ke titik sakau. Keadaan ini yang nantinya membuat si pemakai menjadi ketergantungan dan terus ingin mengkonsumsi sabu.

Baca Juga  Ban Selip, Mobil Tahanan Berisi 10 Napi Terguling

“Saat sakau si pemakai akan panik, mudah marah, kelelahan, sikap yang berlebihan terhadap sesuatu, dan merasa lapar yang tak berhenti,” jelasnya.

Pada kondisi ini pula lanjut Masduki, seseorang akan selalu merasa datar hidupnya. Jika tidak mengonsumsi sabu, ia akan tetap cemas bahkan sampai waktu 1,5 tahun.

“Setidaknya membutuhkan proses pemulihan hingga 18 bulan untuk memastikan seseorang bisa benar-benar terlepas dari sabu,” tegasnya.

Masduki menambahkan, pihaknya berharap kepada semua pihak agar bersama-sama memerangi peredaran sabu-sabu. Sebab, tubuh yang sehat saja jika mengkonsumsi sabu akan menjadi sakit.

“Apalagi yang sudah sakit seperti yang menimpa Mustofa Ari Wibowo, pasti memperburuk kondisi tubuhnya,” pungkasnya. (ra/an)

vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed