oleh

Pandemi Covid-19, Kasus Perceraian di Kota Marmer Masih Tinggi

Tulungagung, (afederasi.com) – Pandemi Covid-19 yang menganjurkan masyarakat untuk tinggal di rumah lebih lama ternyata tidak banyak menurunkan angka perceraian di Kota Marmer.

Berdasarkan data dari Humas Pengadilan Agama Tulungagung, mulai Januari hingga Mei 2020 setidaknya ada 1240 perkara perceraian. Rinciannya, 352 kasus cerai talak (pemohon suami), dan  888 kasus cerai gugat (pemohon istri). Dari 1240 perkara yang diterima tersebut, perkara yang diputus sebanyak 1065 kasus.

Jika dibandingkan pada tahun 2019 dengan bulan yang sama, ada 1.444 perkara masuk dengan perkara yang diputus sebanyak 1241 kasus.

Artinya saat pandemi Covid-19 ini, perkara kasus perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama ini hanya mengalami penurunan sekitar 14,2 persen.

Humas Pengadilan Agama Tulungagung Nuril Huda mengatakan, secara teknis penurunan permohonan perceraian di Tulungagung ini bukan karena pandemi Covid-19. Hal ini diketahui dari jumlah pemohon di bulan Januari dan Februari tahun 2020 dengan tahun 2019 tidak ada perbedaan yang signifikan. Bahkan pada dua bulan awal tersebut cenderung ada kenaikan.

Baca Juga  Miliki Mobile Tracking Baru, GTPP Optimis Percepat Temukan Kasus Covid-19

“Saat Covid-19 mulai mewabah pada Maret hingga saat ini, baru jumlah pemohon mulai menurun,” katanya.

Nuril Huda menjelaskan, menurunnya jumlah pemohon perceraian tersebut bukan karena adanya penutupan pelayanan. Melainkan, karena banyak warga yang tidak tahu jika proses pendaftaran saat itu sementara dialihkan ke layanan E-Court yang berbasis online.

“Setelah pendaftaran offline kembali dibuka, dan seiring pendaftaran melalui E-Court semakin dikenal jumlah pemohon kembali naik, per hari ini sudah mencapai sekitar 1400 lebih kasus,” ungkapnya.

Nuril Huda melanjutkan, penyebab perceraian di Kota Marmer hingga bulan Mei 2020 ini tertinggi karena adanya perselisihan dan pertengkaran terus menurus antara suami-istri dengan 428 kasus. Selanjutnya, masalah ekonomi 410 kasus, dan meninggalkan salah satu pihak 237 kasus.

“Sisanya sebab lain seperti zina, judi, KDRT atau dihukum penjara,” ungkapnya.

Nuril Huda menambahkan, kasus perceraian ini tidak melulu semua diputus. Tetapi ada sebagian kecil sekitar 5 persen yang membatalkan perceraian setelah pihaknya melakukan mediasi.

“Jika upaya mediasi gagal, berarti nanti proses sidang berlanjut,” tukasnya. (yp).

News Feed