oleh

Pakar Keswan UNAIR : Transisi Penularan Covid-19 dari Hewan Kurban ke Manusia Sangat Kecil

Surabaya, (afederasi.com) – Pakar kesehatan hewan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya mengklaim risiko penularan coronavirus disease (Covid-19) dari hewan kurban terhadap manusia sangat kecil kemungkinannya. Kendati pandemic Covid-19 di Kota Pahlawan hingga menjelang Idul Adha 1441 H belum berakhir.

“Hewan tidak beresiko tertular atau menularkan virus corona dari orang yang terkena Covid-19, tetapi yang berbahaya adalah penularan dari orang yang terkena Covid-19,” kata Pakar Kesehatan Hewan Unair Prof Dr Suwarno drh MSi, Jumat saat dikonfirmasi via ponsel, Sabtu (25/7/2020). 

Suwarno mengungkapkan, pada dasarnya struktur sel hewan tidak cocok dengan reseptor virus corona. Sel pada manusia cocok dengan reseptor Covid-19, namun pada hewan berbeda. Hal tersebut yang akhirnya menyebabkan Covid-19 tidak dapat menyerang hewan.

Ia juga menegaskan, bahwa hewan kurban tidak memungkinkan menjadi transisi penularan. Justru, yang perlu diwaspadai adalah penularan dari manusia ke manusia.

“Tidak ada penularan Covid-19 dari manusia ke hewan atau sebaliknya. Yang ada adalah penularan dari manusia ke manusia. Untuk menghindari ini, kita harus menggunakan APD dan menerapkan protokol kesehatan. Panitia kurban harus benar-benar selektif dalam hal ini,” ujarnya.

Baca Juga  Presiden Serahkan Seekor Sapi dengan Berat 1 ton, untuk Hewan Kurban

Sementara itu, Ketua Departemen Klinik Veteriner FKH UNAIR Prof Dr Wiwik Misaco Yuniarti drh MKes juga membenarkan hal tersebut. Sampai sekarang, masih belum ada bukti ilmiah bahwa hewan menjadi sumber infeksi Covid-19 pada manusia.

Meski tidak memiliki resiko menularkan Covid-19, Wiwik meminta masyarakat dalam pelaksanaan kurban harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Terlebih kepada penjual, pemotong, proses hewan kurban hingga pendistribusi daging.

“Segala hal mulai dari limbah, proses penyembelihan, pemotongan, hingga pengantaran harus diperlakukan berbeda dengan tahun sebelumnya. Pelaksaannya kali ini harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan,” kata Wiwik.

Hal terpenting adalah selalu melakukan physical distancing dan personal hygiene. Selain itu, panitia kurban wajib menerapkan higiene dan sanitasi di tempat penjualan maupun di tempat pemotongan hewan kurban, serta melakukan pemeriksaan kesehatan awal, seperti cek suhu kepada setiap panitia.

“Marilah kita bersama-sama menaati semua peraturan yang ada, agar kita dapat melakukan aktivitas Idul Adha dengan tenang, khitmad, dan aman,” pungkas Wiwik. (dwd/an)

News Feed