oleh

Memasuki Musim Kemarau, Ratusan Hektar Sawah alami Kekurangan Air

Tulungagung, (afederasi.om) – Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung mencatat sedikitnya ada 293 hektar lahan persawahan jenis padi yang tersebar di lima kecamatan mengalami kekurangan air. Hal ini dampak musim kemarau yang terjadi di tahun ini.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tulungagung, Gatot Rahayu mengatakan sejak awal hingga pertengahan Agustus sedikitnya ada 293 hektare sawah jenis tanaman padi yang terdampak kekurangan air. Jumlah ini tersebar di 5 kecamatan, yakni Kecamatan Besuki, Kalidawir, Campurdarat, Gondang, dan Pakel.

“Data kami hingga 26 agustus ini sudah 293 hektar sawah yang terdampak akibat kekurangan air, jumlah ini fluktuatif bisa saja bertambah,”jelasnya.

Gatot melanjutkan, dari kelima kecamatan itu yang paling parah ada di Kecamatan Pakel. Dimana, kekurangan air terjadi di 12 desa. Padahal puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung September mendatang.

“Dampak kekeringan ini jika tidak segera ditangani dengan maksimal, bukan tidak mungkin wilayah yang terdampak kekeringan akan kian meluas, bahkan padi-padi yang telah tumbuh terancam mengalami puso,” jelasnya.

Baca Juga  Puluhan Ribu Petani Bakal Kesulitan Dapatkan Pupuk Bersubsidi, Ini alasannya

Lebih lanjut Gatot menuturkan, luasan lahan yang terdampak kekeringan tahun ini relative lebih luas jika dibandingkan dengan tahun 2019 di periode yang sama. Bahkan tahun sebelumnya luasan lahan yang terdampak kekeringan tidak mencapai 200 hektare.

Disinggung mengenai wilayah yang menjadi langganan kekurangan air, ia mengatakan jika wilayah yang terdampak relative sama. Namun, untuk Kecamatan Pakel menjadi wilayah paling rawan. Ini dikarenakan kondisi geografis yang jauh dari saluran irigasi. Sehingga ketika memasuki musim kemarau petani kesulitan mengairi sawah.

“Pakel ini memang paling parah, sampai saat ini sudah ada 12 desa di kecamatan tersebut yang mengalami kekurangan air,” tutur.

Gatot menambahkan, dari ratusan hektare sawah yang terdampak kekeringan, usia padi relative beragam. Mulai dari usia 20 hari hingga paling tua adalah usia 80 hari. Untuk itu pihaknya mengupayakan dengan adanya bantuan pompa air ke sejumlah daerah yang mengalami kekurangan air.

“Tentunya akan kami usahakan bagaimana caranya supaya tidak sampai terjadi puso, apalagi puncak musim kemarau diperkirakan masih September mendatang,” pungkasnya. (dn)

News Feed