oleh

Melalui Kesenian, Bawaslu Ajak Masyarakat Awasi Pemilu

Pertunjukan kesenian budaya lokal yang ditampilkan dalam sosialisasi awasi pemilu (yoppy/afederasi.com)

Tulungagung, (Afederasi.com) – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Marmer terus berbenah untuk menatap even pesta demokrasi mendatang. Terbaru, penyelenggara pemilu yang bertugas mengawasi seluruh penyelenggaraan pemilu tersebut mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengawasan pemilu edisi yang akan datang pada Senin (11/11/2019) malam di lapangan sepakbola Desa/Kecamatan Boyolangu.

Praktis, acara yang dikemas dalam pesona budaya dengan menampilkan kesenian budaya lokal tersebut menyedot perhatian ribuan masyarakat Boyolangu dan sekitarnya.

Dalam acara tersebut juga hadir Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Tulungagung, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Boyolangu, anggota KPU Tulungagung, seluruh komisioner Bawaslu Tulungagung beserta staf, anggota Bawaslu dari kabupaten/kota sekitar, dan seluruh Kepala Desa (Kades) se Kecamatan Boyolangu.

Sedangkan kegiatan tersebut menyuguhkan budaya lokal diantaranya Campursari Puri Budaya, Jaranan Turonggo Ulung, serta dimeriahkan bintang tamu sinden terkenal Lusi Brahman, dan pelawak serba bisa duo Jo Klitik/Jo Kluthuk.

Ketua Bawaslu Tulungagung Fayakun mengatakan, acara ini merupakan program sosialisasi dari Bawaslu sebagai wujud kepedulian terhadap pemilu. Sebab, fungsi pengawasan pemilu itu melekat meski pemilu dan pilkada sudah berakhir. Artinya, masyarakat harus turut mengontrol para peserta pemilu yang telah dilantik.

Baca Juga  Dandim Tinjau Lokasi TMMD di Desa Sidokumpul Patean

“Selain itu kegiatan ini juga untuk bahan evaluasi dan pendidikan politik. Harapannya, agar pemilu yang akan datang minim pelanggaran dan sengketa,” jelasnya.

Apalagi lanjut Fayakun, dari berbagai pengamatan ternyata mayoritas pelanggaran dan ketidakpatuhan ketika pemilu karena minimnya keikutsertaan masyarakat dalam pengawasan pemilu. Hal inilah yang mulai disentuh Bawaslu agar masyarakat ikut andil dalam pengawasan partisipatif.

“Semakin banyak yang mengawasi dan dewasa dalam berpolitik, maka pelanggaran akan menguap sendirinya,” jelasnya.

Fayakun melanjutkan, adapun bentuk sosialisasi dan pendidikan yang mudah dan bisa langsung mengena kepada masyarakat yakni dengan mengemasnya dengan budaya lokal. Tak hanya sebagai tontonan, hiburan ini sekaligus bisa menjadi tuntunan.

“Setidaknya mereka paham, bahwa Bawaslu adalah yang mengawasi pelanggaran pemilu, dan mereka adalah bagiannya meski bukan secara praktis,” imbuhnya.

Selain itu lanjut Fayakun, masyarakat juga harus mengetahui bahwa pengawasan/kontrol tidak hanya dilakukan selama pemilu berlangsung. Tetapi hasil pemilu juga harus diawasi. Misalnya, jika ada pemimpin yang terpilih dan ternyata ia melakukan korupsi, maka kedepan ia tidak usah dipilih lagi.

Baca Juga  Indeks Kerawanan Pemilu Kendal Peringkat Pertama, Bawaslu Prakarsai Deklarasi Netralitas ASN, Polri dan TNI

Fayakun menambahkan, kegiatan ini tidak berhenti disini saja. Menurutnya, dalam waktu dekat pihaknya akan menjadikan Desa Boyolangu sebagai pilot project desa anti money politik. Nantinya, Bawaslu juga akan menjadikan desa ini kader pengawasan.

“Harapannya dari Desa Boyolangu ini, virusnya bisa menyebar ke desa/kelurahan lain di Tulungagung,” pungkasnya. (ra/an)

vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed