oleh

Kartu Tani Belum Tercetak, Petani Sulit Membeli Pupuk

Tulungagung, (afederasi.com)Sejumlah petani di Kabupaten Tulungagung kesulitan menebus  pupuk bersubsidi. Meskipun bisa membeli pupuk tapi harganya lebih mahal. Hal itu disebabkan beberapa faktor, diantaranya karena belum tercetak kartu tani dan petani belum masuk ke kelompok tani.

Petani asal Rejotangan, Abdurrahman (65) mengatakan membeli pupuk agak sulit. Sebenarnya pupuk di beberapa kios ada akan tetapi harganya lebih mahal dari harga biasanya. Dia tidak mengetahui penyebab harga pupuk mahal dan seperti langka di pasaran.

“Pupuk non subsidi mahal. Mau beli pupuk subsidi juga belum tahu caranya mendapatkan,”katanya.

Kepala Dinas Pertanian Tulungagung, Suprapti mengatakan sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian nomor 498/SR.320/08/2020 mengenai pupuk subsidi. Per 1 September 2020 dari surat, penebusan pupuk bersubsidi harus dengan kartu tani. Namun hingga sekarang kartu tani belum tercetak.

 “Kartu tani lo belum selesai dicetak,”ujarnya dikonfirmasi afederasi.com di kantronya, Senin (26/10/2020)

Suprapti menjelaskan karena kartu  tani belum tercetak. Dinas Pertanian memberikan kebijakan pengambilan pupuk bersubsidi bisa dilakukan secara manual dengan menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Baca Juga  Situbondo Kekurangan Pupuk Bersubsidi 9 Ribu Ton

Lanjut Suprapti, ditinjau dari Sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) pupuk subsidi yang diajukan oleh kelompok tani untuk jenis pupuk Urea sebesar 35,011 ton dan alokasinya hanya sekitar 28,321 ton, hingga saat ini yang sudah direalisasikan sekitar 23,678 dan sisa alokasi sebesar 4,643 ton.

“Sampai saat ini yang masih kita upayakan ya sisa alokasi ini,” jelasnya.

Menurut jika diprosentase pupuk subsidi sudah terealisasi dengan jenis pupuk Urea sebesar 84 persen, jenis pupuk ZA sebesar 90 persen, jenis pupuk SP 36 sebesar 90 persen, jenis pupuk NPK sebesar 97 persen dan jenis pupuk organik sebesar 86 persen.

“Angka itu yang terus kita pantau sampai nanti tanggal 31 Desember,” lanjutnya

Masih dalam penjelasan Suprapti, jumlah petani di Kabupaten Tulungagung yang terdaftar dari RDKK pada tahun 2019 berjumlah sekitar 88.000 petani. Banyaknya petani yang masih belum masuk  ke kelompok tani sehingga belum terdaftar RDKK.  Suprapti memprediksi bahwa permintaan untuk RDKK ditahun 2021 akan meningkat.

Baca Juga  Listrik 450 VA Gratis 3 Bulan, 900 VA Subsidi 50 Persen

“Sekarang tugas yang ada pada Dinas Pertanian yaitu memberikan sosialisasi agar petani masuk kelompok tani dan diinput ke RDKK, walau pun nanti belum ada kartu tani pasti pemerintah memberikan solusi,” ucapnya. (ziz/am)

News Feed