oleh

Pernikahan Dini di Kota Marmer Melonjak Drastis, 30 Persen Hamil Diluar Nikah

Tulungagung, (afederasi.com) – Kasus pernikahan dini di Kota Marmer melonjak drastis pada tahun ini. Hingga akhir bulan Mei tahun 2020, setidaknya sudah ada 178 pasang anak yang mengajukan dispensasi kawin ke Pengadilan Agama (PA) Tulungagung.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya dibulan yang sama, hanya ada 65 pengajuan dispensasi kawin. Artinya, pada tahun ini mengalami kenaikan lebih dari 150 persen, Mirisnya pada tahun 2020 ini, 30 persen diantaranya disebabkan karena hamil diluar nikah.

Berdasarkan data dari humas PA Tulungagung, pengajuan dispensasi kawin pada tahun 2020 ini paling banyak terjadi pada bulan Januari. Dimana ada 72 permohonan yang masuk. Selanjutnya bulan Maret dengan 35 pemohon, Februari 30 pemohon, Mei 26 pemohon, dan April 15 pemohon.

Sedangkan pada tahun 2019, paling banyak juga di bulan Januari namun hanya dengan 18 pemohon, selanjutnya April dan Mei 14 pemohon, Februari 12 pemohon, dan Maret 7 pemohon.

“Dari permohonan tersebut, 95 persen diantaranya dikabulkan,” kata humas PA Tulungagung Nuril Huda.

Baca Juga  Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kota Marmer Tinggi, Ini Penyebabnya

Nuril Huda mengatakan, maraknya dispensasi nikah ini disebabkan banyak faktor. Diantaranya, karena masing-masing pasangan memang sudah menghendaki untuk menjalin rumah tangga.

“Mereka sudah lama menjalin berhubungan dan sudah tidak dapat dipisahkan, akhirnya solusinya ya dinikahkan,” katanya.

Namun lanjut Nuril Huda, ada sekitar 30 persen dari pemohon dispensasi nikah ini karena hamil diluar nikah. Baik itu yang tengah hamil 2 hingga 5 bulan. Tetapi pihaknya menegaskan, bahwa hamil diluar nikah bukan menjadikan alasan suatu permohonan dispensasi nikah dikabulkan.

“Itu (hamil diluar nikah-red) bukanlah sebuah tolak ukur, yang penting persyaratan terpenuhi ya sudah,” terangnya.

Nuril Huda menjelaskan, secara garis besar persyaratan yang harus dipenuhi dalam mengajukan dispensasi nikah yakni adanya kehendak dari masing-masing calon, dan kedua orang tua masing-masing calon menyatakan siap di dalam persidangan akan mendampingi anak-anaknya meski sudah menikah.

“Orang tua harus sanggup menanggung ekonomi, pendidikan si anak, karena memang masih dibawah umur,” imbuhnya.

Nuril Huda menambahkan, didalam UU Pernikahan yang baru direvisi ini batas minimal usia menikah memang ada perubahan. Baik pihak laki-laki atau perempuan harus berusia 19 tahun. Sebelumnya, untuk laki-laki 19 tahun dan untuk perempuan berusia 16 tahun. (yp)

News Feed