Senin, 25 Juli 2022, 21:19 WIB

Dinas Perikanan Tulungagung Klaim Masih Banyak Nelayan Benur Ilegal

Tulungagung, (afederasi.com) – Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung mengklaim masih banyak nelayan benur ilegal yang beroperasi di wilayah pantai Kabupaten Tulungagung.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung, Lugu Tri Handoko melalui Kasi Kenelayanan, Dedy Azhar Muhammad mengatakan, bahwa berdasarkan data miliknya, hanya ada 10 Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang terdaftar secara resmi diperbolehkan menangkap benur untuk dibudidaya.

“Per Juli 2022 ada 10 KUB, yang masing-masing KUB beranggota sekitar 10 orang. Jadi nelayan benur yang legal sejumlah 100 orang,” katanya.

Pria yang akrab disapa Dedy ini menuturkan, dari minimnya nelayan benur yang terdaftar secara resmi tersebut. Diperkirakan masih banyak nelayan benur ilegal di Kabupaten Tulungagung.

Menurutnya, nelayan benur di Tulungagung banyak beroperasi di beberapa pantai, seperti Popoh, Sidem, Sine, Klatak, Brumbun hingga Gerangan.

“Di pantai-pantai itu pasti banyak alat yang digunakan untuk menangkap benur. Nelayan yang beroperasi juga cukup banyak. Otomatis banyak yang ilegal. Apalagi beberapa waktu lalu juga ada penangkapan nelayan benur ilegal oleh APH karena melakukan penyelundupan,” tuturnya.

Dedy menyebut, bahwa pihaknya telah melakukan berbagai edukasi serta sosialisasi kepada nelayan benur, supaya para nelayan benur terdaftar dan mendapatkan izin untuk menangkap benur.

Dia menilai kesadaran masyarakat khususnya nelayan benur dirasa kurang. Mengingat syarat yang diperlukan juga terbilang cukup mudah.

“Cuma butuh KK, KTP, punya Nomor Induk Berusaha (NIB). Kemudian buat KUB yang minimal anggotanya ada 10 orang. Kami sudah berkali-kali sosialisasi,” imbuhnya.

Menurut Dedy, saat ini di Kabupaten Tulungagung belum memiliki tempat yang digunakan untuk membudidayakan benur. Namun, dia menyebut, bahwa para nelayan benur melakukan transaksi dengan pembudidaya benur di Kabupaten Trenggalek. Pasalnya, pembudidaya tersebut telah terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Per ekor benur di hargai Rp10 ribu. Sedangkan rata-rata satu orang nelayan per bulan bisa dapat sekitar 3 ribu benur. Transaksinya di Trenggalek itu,” pungkasnya.(rra/dn)