Selasa, 26 Juli 2022, 06:05 WIB

Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Meningkat, Polres Tulungagung Bentuk Satgas Perlindungan

Tulungagung, (afederasi.com) – Kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Tulungagung meningkat setiap tahunya, hal tersebut sesuai dengan data yang dimiliki Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung.

Sepanjang tahun 2020 yang lalu, polisi menangani 45 kasus, kemudiaan di tahun 2021 46 kasus dan pada bulan Januari hingga Juli 2022 sudah didapati 51 kasus.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Agung Kurnia Putra menjelaskan, angka kekerasan perempuan dan anak yang cenderung naik, pihak Polres Tulungagung membentuk tim Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak.

“Jadi Satgas ini bertujuan untuk menekan angka kekerasan perempuan dan anak, dengan sosialisasi maupun solusi,” jelas Agung, Senin (25/7/2022) kemarin.

Agung melanjutkan, adapun kasus yang selama ini ditangani oleh pihak UPPA Polres Tulungagung yakni, persetubuhan anak, pencabulan anak, penganiayaan anak, penelantaran anak, pencabulan dewasa, perkosaan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Tahun ini peningkatan terjadi pada kasus penganiayaan anak-anak yang melibatkan oknum perguruan silat, kemudian ada juga yang mendominasi yakni kasus KDRT dengan dua korban meninggal di tahun 2022,” katanya.

Agung menambahkan, untuk penyelesaian kasus pencabulan yang melibatkan anak, sejauh ini belum ada kasus yang selesai dengan diversi. Diversi diberikan untuk pelaku anak dalam tindak pidana seperti kekerasan, maupun pencurian.

“Diversi lebih diberikan kepada pelaku yang bukan residivis dan untuk kasus kasus kekerasan, pencurian seperti itu, kalau pencabulan belum ada sama sekali,” terangnya.

Sementara itu Kapolres Tulungagung, AKBP Eko Hartanto menjelaskan, dengan kondisi seperti ini, polisi bersama dengan lintas sektoral membentuk Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Kabupaten Tulungagung.

“Terima kasih atas dukungan banyak stakeholder yang terlibat, karena tidak mungkin polisi berjalan sendirian, harus tetap didukung oleh semua pihak,” ucapnya.

Tidak hanya memberikan tindakan tegas kepada pelaku kejahatan yang melibatkan perempuan dan anak, diharapkan dengan adanya Satgas ini bisa membantu pemulihan trauma healing kepada korban hingga menyiapkan safe house bagi korban.

“Rencananya akan ada safe house yang bisa dimaksimalkan untuk trauma healing bagi korban,” jelasnya.

Masih menurut Eko, untuk memudahkan masyarakat yang ingin melapor, Satgas sendiri membuka hotline yang bisa dihubungi oleh masyarakat yang menjadi korban maupun mengetahui peristiwa kekerasan atau tindak pidana lain yang melibatkan perempuan dan anak.

“Masyarakat yang mengetahui atau bahkan mengalami langsung, bisa melapor ke hotline yang ada,” pungkasnya.(riz/dn)