oleh

Empat Orang di Tulungagung Meninggal karena DBD

Tulungagung, (afederasi.com) Angka kematian akibat coronavirus disease (Covid-19) di Kabupaten Tulungagung sejak Maret – September sebanyak 3 orang. Namun, ternyata pada rentan waktu yang sama, justru sudah ada 4 orang yang meninggal karena demam berdarah dengue (DBD).

“Sejak Maret – September ini sudah ada empat orang yang meninggal karena DBD,” ungkap Kabid Pencegahan Penularan Penyakit Dinas Kesehatan Tulungagung Didik Eka, Kamis (8/10/2020).

Didik mengatakan untuk kasus terbaru DBD ditemukan di Kecamatan Campurdarat, yang menjadi korban adalah anak yang berusia 9 tahun. Dia meninggal di IGD RSUD dr. Iskak Tulungagung ketika menjalani perawatan medis.

“Diduga meninggalnya anak itu disebabkan karena keterlambatan dalam penanganan. Karena disaat pandemi seperti saat ini memang masyarakat cenderung takut untuk mengunjungi faskes,” ujarnya.

Lanjut Didik, jika dilihat masa inkubasi persebaran virus Covid-19 dengan DBD itu lebih cepat DBD. Dimana untuk kasus DBD hanya butuh waktu 4 hari guna diketahui, sedangkan Covid-19 dapat diketahui dengan rentan waktu 14 hari.

Sedangkan masa kritis DBD itu 6 hari, sehingga jika selama 6 hari tidak tertolong bisa menyebabkan penderita  meninggal dunia.

Baca Juga  2.777 Personil Gabungan Disiagakan Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT

“Jika dilihat dari situ saja, sudah bisa diartikan kalau demam berdarah itu lebih berbahaya dari Covid-19. Apalagi Covid-19 butuh waktu beberapa hari untuk sampai masa krisis,” ungkap Didik.

Didik menyampaikan jika Kabupaten Tulungagung merupakan endemis DBD, yang dapat diartikan hampir setiap tahunnya selalu ada temuan kasus demam berdarah. Pihaknya menghimbau agar warga Tulungagung tidak hanya terpusat dalam menghindari Covid-19. Namun juga harus tetap mewaspadai serangan DBD dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Jika ditemui demam tinggi selama 7 hari yang mengakibatkan tubuh merasa lemas maupun lesu, segera menuju faskes terdekat untuk melakukan pemeriksaan. Jangan takut dianggap terkena Covid-19, karena kami punya SOP yang jelas, maka jika itu Covid-19 memang berarti Covid. Tetapi kalau itu jelas DBD, kami katakan DBD. Jadi tidak ada istilah kami tenaga kesehatan mengada-ada soal Covid-19,” imbuhnya. (er/dn)

News Feed