oleh

Benda Cagar Budaya Disimpan di Gudang Triplek

Tulungagung, (afederasi.com) – Puluhan benda cagar budaya di Museum Wajakensis Tulungagung nyaris rusak. Pasalnya puluhan benda tersebut hanya disimpan pada gudang museum dengan kondisi gudang yang tidak terawat. Ditempatkannya benda tersebut di dalam gudang karena benda-benda itu memiliki kemiripan dengan benda yang ada di display museum.

Pada sisi belakang pos satpam Museum Wajakensis terdapat sebuah bangunan yang berdinding triplek serta beratap seng yang merupakan gudang dari Museum Wajakensis. Pada bagian atas dinding terlihat sudah banyak berlubang dan bahkan mengelupas. Sayangnya, pengelola museum melarang siapa saja untuk melihat bahkan memotret bangunan tersebut.

Pengelola Museum Wajakensis Tulungagung, Haryadi mengatakan, pihaknya mencatat ada sebanyak 269 peninggalan cagar budaya Tulungagung. 129 benda cagar budaya merupakan peninggalan arkeologi, dan 140 merupakan benda peninggalan etnografi. Dari jumlah benda cagar budaya tersebut 51 diantaranya tidak dipamerkan didalam ruang museum dan hanya diletakkan di dalam gudang.

“Kami meletaklan benda tersebut di gudang karena memiliki kesamaan dengan benda cagar budaya yang telah dipamerkan dalam ruang meseum, kata Haryadi, Selasa (24/11/2020).

Baca Juga  Situs Purbakala Sangiran di Pamerkan di Kota Marmer

Menurut Haryadi, terkait perawatan terhadap ratusan benda cagar budaya tersebut pihaknya mengikuti mekanisme dari balai pelestarian cagar budaya (BPCB) Jatim. Setidaknya ada dua cara mekanisme perawatan terhadap benda tersebut yakni melalui mekanisme perawatan kering dan basah. Mekanisme kering itu cukup membersihkan dengan cara membersihakan dengan sikat yang halus. Sedakan untuk mekanisme basah itu membersihakan dengan sikat halus serta diberikan air.

“Tapi jika ada benda cagar budaya yang membutuhkan perawatan ekstra karena kondisinya sudah mengkhawatirkan, maka kami akan datangkan tim dari BPCB Jatim untuk melakukan perawatan. Biasanya mereka menggunakan zat khusus untuk melakukan perawatan,” jelasnya.

Lanjut Haryadi, pihaknya mengalami kesulitan untuk merawat benda cagar budaya yang ada di dalam gudang museum lantaran puluhan benda tersebut berada di gudang yang kondisinya tidak layak. Bahkan ketika hujan, menurutnya, tak jarang air masuk ke gudang melalui dinding bagian atas yang berlubang. Diperparah dinding gudang yang hanya menggunakan bahan triplek.

“Bagaimana saya bisa merawat dengan baik, kalau puluhan benda tersebut hanya ditempatkan diruang yang tidak layak. Benda tersebut sangat rentan sekali rusak akibat kelembaban. Dan saya tidak bisa menyelamatkan benda itu, jika tidak ada tempat yang layak. Dan puluhan benda tersebut sudah satu tahun ditempatkan di gudang itu,” keluhnya.

Baca Juga  Tulungagung Disiapkan Jadi Geopark Nasional

Haryadi menambahkan, sebenarnya Pemkab Tulungagung juga memiliki kewajiban untuk mengelola museum seperti perawatan gedung, serta membantu untuk mempromosikan museum agar Museum Wajakensis layak disebut sebagai museum. Namun sayangnya, hingga kini pihaknya tidak pernah mendapatkan anggaran untuk perawatan benda cagar budaya di Museum Wajakensis.

“Selama ini, perawatan gedung museum hanya diberi dalam bentuk barang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung (Dibudpar). Sedangkan untuk benda cagar budaya yang membutuhkan perawatan ekstra memang harus membutuhkan anggraan untuk perawatannya,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya berharap kepada Pemkab Tulungagung melalui Disbudpar Tulungagung untuk segera memikirkan tempat penyelamatan cagar budaya Tulungaung yang kini berada di gudang yang kurang layak itu. Karena sangat disayangkan melihat puluhan benda cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi itu rusak akibat ditempatkan pada tempat yang tidak layak.

“Kami berharap Pemkab Tulungagung bisa memikirkan benda cagar budaya tersebut agar bisa aman,” pungkasnya. (ziz/am)

News Feed