oleh

Anggota Koperasi Tanyakan Modal Usaha KPRI Rukun Makmur Senilai Rp1,9 miliar

Nganjuk, (afederasi.com)  – Sejumlah anggota Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Rukun Makmur Guru Guru Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk kini mulai resah dan mempertanyakan soal modal usaha koperasi senilai Rp1,9 miliar yang tidak diketahui keberdaannya.

Salah satu anggota KPRI Rukun Makmur, Bagus P Staf Korwil Pendidikan Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk mengatakan permasalahan di KPRI Rukun Makmur Guru-guru Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk, sampai saat ini belum bisa dipertanggungjawabkan kepada para anggota.

Pasalnya dana yang berasal dari simpanan wajib sebanyak 230 anggota, sejak berdiri hingga sekarang terkumpul kurang lebih Rp2,4 milyar dan modal pihak ke-3 sebesar Rp1,3 milyar dengan total keseluruhan Rp3,7 milyar.

Untuk dana pengeluarannya Rp1,1 milyar ditambah dana kredit macet sekitar Rp300 juta dengan total keseluruhan Rp1,4 Milyar, sedangkan untuk sisanya masih tidak diketahui rimbanya.

Dari jumlah modal usaha Koperasi dikurangi pengeluaran seharusnya masih tersisa Rp2,3 milyar. Kalaupun masih harus dikurangi lagi dengan asset yang ada, seperti tanah yang dibeli sekitar tahun 70an dan dibangun tahun 90an kurang lebih seniai Rp400 juta.   

“Jadi, apa yang disampaikan oleh pengurus menjadi benar, kalau sisa modal Koperasi Rp 1,9 milyar. Hanya saja yang menjadi pertanyaan kemana dana tersebut menguap dan mengapa sampai sekarang pihak penguruspun tidak tahu dana sebesar itu mengalir,” kata Bagus.

Masih lanjut Bagus, sesungguhnya sisa modal yang dinyatakan raib, baru sebatas simpanan wajib dan penyertaan modal pihak ke-3, lantas laba dari simpan pinjam dan laba usaha lainnya, kemana dan berapa rupiah yang berhasil dikumpulkan menjadi misterius, tidak satu anggota KPRI Rukun Makmur yang mengetahuinya. Bahkan yang menjadi pihaknya bertambah pusing para penguruspun yang rata-rata muka lama juga tidak mengetahui kemana uang itu.

“Kalau semua pihak tidak ada yang bertanggungjawab akan hal tersebut, lantas siapa yang akan menanggung kekurangan modal Koperasi yang oleh pengurusnya sendiri telah diakui mengalami divisit sebesar Rp 1,9 milyar,” ujar Bagus lagi.

Bahkan Bagus juga mengatakan akibat dari ketidakjelasan raibnya dana tersebut membuat KPRI Rukun Makmur sejak bulan Agustus mengalami mati suri. Karena kepercayaan anggota mulai luntur dan mereka yang mempunyai tanggungan hutangpun sudah tidak lagi mau membayar cicilannya, apalagi membayar simpanan wajib. “Bahkan banyak yang mengajukan pengunduran diri dari keanggotaan,” tandas Bagus.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala SDN 1 Mlandangan Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk, Slamet Widodo Slamet Widodo, dirinya sangat tidak terima bila modal usaha Koperasi yang seharusnya bisa diputar untuk memberi manfaat pada anggota ternyata disalahgunakan. Apalagi KPRI sendiri saat ini juga menerima simpanan dana dari pihak ke-3, seharusnya pengelolaan uang usaha Koperasi harus jelas dan transparan.

“Makanya, kami siap mempidanakan siapapun oknum pengurus Koperasi yang membawa uang dengan nilai miliaran rupiah. Karena kami para anggota yang seharusnya mendapatkan laba, justru dirugikan oleh ulah oknum yang tidak bertanggungjawab,” kata Slamet.

Sedangkan untuk diketahui Ketua KPRI Rukun Makmur Khotimuddin sebagaimana penjelasannya beberapa waktu lalu, mengakui kalau memang terjadi divisit modal usaha Koperasi, hanya saja dirinya juga mengaku kalau baru menjadi pengurus (Ketua KPRI). Dan sebagaimana penelusuran media ini kalau pengurus baru adalah para muka lama, hanya saja posisinya yang berganti atau bergeser. (ind/dn)

News Feed